February 24, 2019

Trik ini Bikin Jokowi tak Berkutik di Debat Pilpres: Prabowo Selipkan Diksi Bahasa Inggris di Kata Kunci

Prabowo Subianto dan Joko Widodo (kompas)


intelijen – Debat perdana capres/cawapres Pilpres 2019 diprediksi akan berjalan “kurang greget”. Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menegaskan tidak ingin saling menyerang dalam debat Pilpres 2019. Prabowo ingin debat dilakukan dengan penuh rasa saling menghormati dan kesantunan dalam budaya Indonesia.

Hal itu diungkapkan cawapres Prabowo, Sandiaga Uno. Menurut Sandi, ada usulan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) agar Prabowo-Sandi bersikap “menyerang”, tapi hal itu ditolak Prabowo.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengingatkan, bahwa debat adalah perang pikiran, di mana di dalamnya ada serangan pikiran bukan serangan fisik.

“Payah juga kandidat kita…Ini kan serangan pikiran bukan serang pisik…ini bukan soal kalian para kandidat ini soal hak rakyat untuk mendapat pengetahuan soal kandidat…gimana sih? #2019AwalPerubahan,” tulis Fahri Hamzah di akun Twitter @Fahrihamzah menanggapi komentar Sandiaga Uno soal debat dalam kesantunan.

‏Dalam kultwit panjang berlabel #JelangDebat, Fahri memaparkan bagaimana seharusnya debat Pilpres 2019 digelar. “Demi kepentingan rakyat, @KPU_ID , panelis, dan capres harus mau buka-bukaan tentang apa saja demi kepentingan rakyat untuk mengetahui apa adanya. Sebab rakyat berhak tahu siapa yang akan memimpin mereka selama 5 tahun ke depan. Siapa yang asli siapa yang palsu, dll. #JelangDebat,” papar @Fahrihamzah.

Bagaimana sikap capres petahana dan capres penantang yang seharusnya dimunculkan pada debat Pilpres menurut Fahri? “Kalau saya petahana, saya akan berdiri tegak dengan apa yang sudah saya janjikan kepada rakyat dan sudah saya kerjakan. Saya tidak akan membiarkan penantang menggugat dan meragukan reputasi saya di depan rakyat. Saya akan tutup mulut penantang dengan fakta. Tapi kalau saya oposisi atau penantang, saya akan bongkar semua fakta tentang kekuasaan yang tidak memenuhi janjinya kepada rakyat. Saya akan bongkar data statistik resmi yang disembunyikan untuk menjelaskan bahwa petahana tidak berbuat apa2. Data lawan data,” beber Fahri.

@Fahrihamzah menambahkan: “Kalau saya petahana, saya akan tunjukkan kepada publik bahaya kalau penantang terpilih sebab mereka tidak punya konsep yang kuat dalam menjalankan roda negara. Sebaliknya petahana sudah punya rencana lima tahun berikutnya. Sebaliknya kalau saya penantang, saya akan yakinkan rakyat bahwa justru petahana yang sudah diberi mandat kuasa tapi tidak berbuat banyak mengubah nasib rakyat Indonesia. Saya akan jelaskan kesalahan petahana dan seharusnya kita menuju ke mana.”

Secara tidak langsung Fahri memaparkan trik bagi petahana maupun penantang di arena debat. Berkaitan dengan hal itu, pakar komunikasi dari UIN Syarif Hidayatullah Edy Effendi menganjurkan trik khusus dengan tidak perlu terkesan “menyerang” kepada penantang Joko Widodo, Prabowo Subianto.

“Pak @prabowo dan Bung @sandiuno pas debat, keluarkan beberapa idiom Bahasa Inggris. Atau beberapa pernyataan, selipkan diksi Bahasa Inggris terutama pada kata-kata kunci. Bikin Pak @jokowi tak berkutik. Ini ‘perang’ terakhir Pak Bowo. Jangan beri ampun,” tulis Edy di akun @eae18.

Share Button

Related Posts