March 27, 2019

Tokoh Muda NU ini Rekomendasikan Tim Ahok Harus Minta Bantuan ke “Tim Jokowi”, Ada Apa?

Elit PDIP (merdeka)


intelijen – Hasil survei dari tiga lembaga survei, yakni Indikator, Poltracking Indonesia, dan Charta Politika, telah menunjukkan bahwa elektabilitas pasangan Cagub/Cawagub DKI Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni menduduki posisi teratas.

Terkait dengan hasil survei terbaru tiga lembaga survei tersebut, aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) Savic Ali meminta tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat untuk meminta bantuan “Tim Jokowi”.

“Untuk memenangi satu putaran, tim Ahok sepertinya harus meminta bantuan ‘tim Jokowi’. Jika dua putaran ia bisa kalah. Tinggal Jokowi gimana,” tulis Savic di akun Twitter ‏@savicali.

Director nu.or.id ini menilai, Ahok mempunyai tabungan prestasi. Tetapi Ahok kehilangan banyak tim atau jaringan relawan. Jaringan ini signifikan dalam pertarungan yang semakian sengit saat ini.

Berdasarkan survei Charta Politika terbaru, tingkat elektabilitas simulasi pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta, dengan pertanyaan, bila Pilkada DKI Jakarta dilangsungkan hari ini, pasangan Agus-Sylvi memperoleh 29,5 persen. Di posisi kedua, pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat memperoleh 28,9 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memperoleh 26,7 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan atau swing voters sebanyak 14,9 persen.

Sedangkan ketika dilakukan dengan menggunakan simulasi kertas suara. Elektabilitas Agus-Sylvi 30,4 persen, Ahok-Djarot 29,3 persen dan Anies-Sandiaga 26,9 persen. Sedangkan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,4 persen.

“Selisihnya masih margin of error, saya tak bisa katakan siapa nomor satu, dua dan tiga secara statistik. Sebagai statistik tak bisa disebut peningkatan,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, Jakarta Selatan, Selasa (29/11)

Menurut Yunarto, survei itu menunjukkan seandainya Pilkada DKI Jakarta dilaksankan hari ini, berpotensi terjadi dua putaran, karena perolehan elektabilitas masing-masing calon masih di bawah 50 persen+1.

Survei dengan metode wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 733 responden dari 800 yang direncanakan.

Responden tersebar di lima wilayah kota administrasi dan satu kepulauan. Margin of error kurang lebih 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Yang menarik, dari sisi “alasan memilih dan tidak memilih”, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dipilih karena dinilai tegas, ganteng dan berwibawa. Sementara AHY tidak dipilih karena dinilai belum berpengalaman.

Dari 521 responden yang tidak memilih Ahok, 17,1 persen beralasan karena Ahok berbicara kasar, dan 15,0 persen karena beda agama. “Ahok dipilih karena kerja nyata & tegas, sementara Ahok tidak dipilih karena bicaranya kasar & beda agama,” demikian rilis Charta Politika di akun Twitter ‏@ChartaPolitika.

Terkait Anies, ‏@ChartaPolitika merilis: “Anies dipilih karena Ramah, Baik & Pintar, sementara tidak dipilih karena Belum pengalalaman, tidak dikenal & gila jabatan.”

Share Button

Related Posts