October 17, 2018

Sudrajat: Kehadiran BIJB Bakal Mantabkan Program Asyikpreneur

Bandara Kertajati


intelijen – Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 3, Sudrajat menilai kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, berpotensi mereduksi persoalan kemiskinan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Majalengka yang selama ini termasuk salah satu kantong kemiskinan di Jabar.

Bandara terbesar kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta tersebut resmi akan mulai melayani penerbangan komersial untuk beberapa rute per 8 Juni mendatang setelah sebelumnya dilaksanakan Historical Flight oleh Presiden Joko Widodo dan Gubernur Ahmad Heryawan, Kamis (24/5/2018).

“Yang jelas kehadiran BIJB ini akan berdampak langsung terhadap berbagai sektor, tidak hanya dampak ekonomi, juga dampak sosial. Sedikit banyak dan seiring waktu akan mengubah situasi ekonomi, sosial, bahkan kultur masyarakat setempat. Karena itu, masyarakat sekitar harus siap menghadapi perubahan-perubahan yang nanti terjadi,” kata Sudrajat, Sabtu(27/5).

Dia menyebutkan, dengan adanya BIJB masyarakat Majalengka sebagai tuan rumah, harus merasakan langsung manisnya pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Sebab, kehadiran BIJB dapat menjadi mesin penggerak untuk mengikis angka kemiskinan di wilayah tersebut.

“Lebih dari itu BIJB juga bisa menjadi gerbang untuk peningkatan ekonomi di kota/kabupaten terdekat. Artinya tidak hanya masyarakat Majalengka yang dapat merasakan dampak positifnya,” ujar Kang Ajat.

Sudrajat sendiri menyatakan, jika nanti terpilih jadi Gubernur Jawa Barat siap merespons kehadiran BIJB lewat program unggulan yang sudah disiapkannya sejak jauh hari. Program tersebut adalah ASYIKpreneur. Melalui program ini, ditargetkan lahir 300.000 wirausaha baru di Jabar yang implikasinya tentu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mengikis persoalan kemiskinan di Jawa Barat.

“Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, tentunya Jawa Barat membutuhkan lebih banyak lapangan pekerjaan, terutama untuk warga usia produktif. Kaitannya dengan BIJB di Majalengka, masyarakat di sana harus diberdayakan, diberikan pengetahuan atau pendidikan agar bisa menerima dan merespons keberadaan BIJB dengan positif,” papar Sudrajat.

Sementara itu pengamat hukum, politik dan pemerintahan dari Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf memandang BIJB menjadi ‘objek’ penting untuk pemerintahan gubernur Jabar periode berikutnya. Siapapun gubernur terpilih nanti dituntut bisa merumuskan sejumlah terobosan agar kehadiran BIJB ini benar-benar positif dan dirasakan masyarakat. Bukan sebaliknya malah memunculkan kesenjangan sosial dan ekonomi.

“Karena di situ kan isunya lebih ke isu ekonomi yang cukup sensitif di masyarakat. Kehadiran BIJB ini saya kira akan berdampak luas dan cukup besar, khususnya untuk Kabupaten Majalengka. Tentu ini jadi tantangan tersendiri untuk gubernur Jawa Barat selanjutnya untuk merumuskan program-program atau kebijakan-kebijakan yang bisa membuat BIJB betul-betul dampaknya bisa dirasakan secara positif oleh masyarakat,” kata Asep.

Menurut Asep, keberadaan BIJB akan menimbulkan efek domino untuk kota dan kabupaten lain di Jabar. “Pengaruhnya saya kira bukan hanya untuk Majalengka saja, akan timbul efek domino ke daerah lain lain. Seperti di sektor pariwisata, daerah-daerah yang selama ini PAD-nya mengandalkan dari wisata seperti Pangandaran dan Bandung, mungkin bakal merasakan pengaruh dari BIJB ini,” pungkasnya.

Red

Share Button

Related Posts