December 10, 2018

Sebelum Khashoggi, Saudi Berencana Habisi Musuh-musuh di Luar Negeri

Mohammed bin Salman al-Saud


intelijen – Lebih dari satu tahun sebelum jurnalis Jamal Khashoggi dibunuh secara brutal, para pejabat intelijen Arab Saudi yang dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman membahas rencana untuk membunuh para musuh Riyadh di luar negeri. Dalam pembahasan itu muncul opsi untuk menggunakan perusahaan swasta.

Musuh-musuh yang ingin dihabisi di luar negeri adalah yang terkait dengan Iran. Laporan tentang rencana operasi di negara orang itu diungkap The New York Times dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui pembicaraan para pejabat intelijen Saudi tersebut.

Jamal Khashoggi, wartawan Saudi pengkritik rezim kerajaan, dibunuh oleh skuat algojo Riyadh di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober 2018. Wartawan yang sudah setahun tinggal di pengasingan di Amerika Serikat tersebut mendatangi konsulat untuk memperoleh dokumen perceraian dengan mantan istrinya karena ingin menikahi tunangannya.

Menurut The New York Times, sebelum mengakui bahwa Khashoggi tewas dalam serangan terencana, para pejabat Saudi mengklaim kolumnis Washington Post tersebut tewas dalam “operasi nakal yang diperintahkan oleh Mayor Jenderal Ahmed al-Assiri.

Para pejabat Turki dan beberapa anggota parlemen AS menuduh Putra Mahkota Mohammed bin Salman (AS) dalam sosok yang memerintahkan operasi itu. Namun, Riyadh telah menyangkal.

Assiri, yang dipecat setelah pembunuhan Khashoggi, hadir dalam pertemuan para pejabat intelijen pada Maret 2017 di Riyadh. Para pengusaha yang ikut hadir dalam pertemuan itu mengusulkan rencana beranggaran USD2 miliar untuk menggunakan operasi intelijen swasta guna mencoba membunuh para musuh dan menyabotase ekonomi Iran.

Selama diskusi, para pembantu utama Assiri bertanya tentang pembunuhan Qassim Suleimani, pemimpin Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Iran dan musuh yang diakui resmi oleh Arab Saudi.

Para pebisnis, yang memiliki latar belakang intelijen, memandang rencana mereka tak hanya sebagai sumber pendapatan yang berharga, tetapi juga cara merusak sebuah negara yang dianggap sebagai ancaman serius bagi Saudi.

Masih menurut laporan The New York Times, yang dikutip Senin (12/11/2018), pengusaha Lebanon-Amerika George Nader, yang ikut mengatur rencana itu telah bertemu sebelumnya dengan Pangeran Mohammed, dan telah memasang rencana terhadap Iran yang disodorkan untuk tim Presiden Donald Trump.

Share Button

Related Posts