November 14, 2018

Sapto Anggoro

Sapto Anggoro


intelijen – Sosok laki-laki asal Jombang ini lahir pada tanggal 04 Oktober 1966 dari latar belakang keluarga Militer. Setelah menyelesaikan jurusan sosial di SMAN 1 Jombang, Sapto masuk Akabri untuk mewujudkan cita-citanya sebagai seorang Jenderal akan tetapi gagal di tes terakhir karena ternyata Ibunda Sapto tidak merestui ujian masuk yang dijalani Sapto sebagai polisi ( Akpol ).

Terbiasa dengan ajaran hidup disiplin, mandiri dan bekerja keras, Sapto mengawali pekerjaan di Surabaya selama 9 bulan sebagai cetak foto hitam putih dan berpindah di tempat yang berbeda dengan profesi yang sama. Sambil bekerja, Sapto juga menempuh pendidikan jurnalistik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya – Almamater Wartawan Surabaya ( Stikosa-AWS ).Mulai saat itu pula Sapto rajin menulis sebuah artikel di berbagi media cetak seperti Jawa Pos, Surabaya Pos dan Liberty. Dengan berjalannya waktu, Sapto berpikir pekerjaannya dalam cetak foto tidak akan berkembang maka Sapto memutuskan untuk serius menekuni jurnalistik.

Kiprah Sapto di dunia jurnalistik semakin berkembang, diawali dengan kesempatan bergabungnya menjadi wartawan tamu di Surabaya Post dan masuk di bagian olah raga dan berakhir pada tahun 1990, kemudian bergabung di Berita Buana Jakarta dan mendapat tugas meliput di Malaysia dan dilanjutkan di SEA Games Manilla pada tahun 1991, tapi sayangnya Berita Buana mulai pecah dan Sapto bergabung di kubu jurnalis muda. Setelah berakhirnya di Berita Buana, Sapto mulai berkiprah di Harian Republika yang didirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dengan jabatan sebagai redaktur olah raga, di sinilah Sapto bisa meliput even olah raga dunia di antaranya Piala Dunia Sepakbola US 94, Olimpiade Atlanta 1996. Ada salah satu liputan yang sangat mengesankan bagi Sapto, liputan itu adalah liputan sebelum jatuhnya Soeharto dari jabatannya sebagai presiden Indonesia pada tahun 1998.

Kemudian pria yang pernah menjadi dosen tamu di Universitas Paramadina pada tahun 2003-2007 ini bergabung dengan Detik.com sebagai Direktur Operation setelah sebelumnya menjabat sebagai VP Operation/Chief Operation Officer (COO). Perubahan kebiasaan dari Republika harus di rubah total, karena media online seperti Detikcom tanpa deadline, tanpa deadline di sini bukan berarti bebas kapan saja mengumpulkan pekerjaannya tetapi deadline-nya adalah setiap waktu. Detikcom berdiri pada tahun 1998, tapi Sapto mulai gabung pada tahun 1999.

Akhir tahun 2011, sosok yang memiliki moto hidup “Ingin Menjadi Orang yang Berarti!’ ini bergabung dengan sebuah situs berita, media yang dibangun oleh perusahaan teknologi yang terdiri dari orang-orang yang mengerti PHP & Apache/FreeBSD lebih dulu daripada ilmu jurnalistik, merdeka.com yang merupakan hasil kolaborasi antara media dan teknologi. Dengan pengalamannya yang telah melewati berbagai lika liku dunia jurnalistik menjadi modal Sapto dalam mengembangkan dan membesarkan merdeka.com.

Perempuan adalah sosok yang memiliki kekuatan maha dahsyat dibanding laki-laki dan pada tahun 1993 Direktur Bidang Organisasi dan Bidang Partnership di Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2006-2009 ini menikahi wanita Solo bernama Chandrasary dan dikaruniai dua anak.

Saat ini Sapto menjabat sebagai sekretaris jendral pada Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia periode 2012-2015.

PENDIDIKAN
– SMAN 1 Jombang
– Pendidikan jurnalistik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya – Almamater-Wartawan Surabaya ( Stikosa-AWS )

KARIR
– Surabaya Post
– Berita Buana Jakarta.
– Harian Republika
– Detik.com
– Merdeka.com
– APJII

sumber:Merdeka

Share Button

Related Posts



Article Tags