August 17, 2018

Sang Pemberontak Selatan Sudan

John Garang, di Tengah Pendukungnya (wikimedia.org)


John Garang, di Tengah Pendukungnya (wikimedia.org)

INTELIJEN.co.id – Membahas Sudan Selatan tidak akan lepas dari nama John Garang. Pria kelahiran Wagkulei 23 Juni 1945 adalah mantan pemimpin pemberontak Pasukan Pembebasan Rakyat Sudan (Sudan People’s Liberation Army; SPLA). Dia berasal dari etnis Dinka dan lahir dalam sebuah keluarga miskin di kampung Wagkulei.

Garang tewas dalam kecelakaan helikopter  Mi-72, yang membawanya dari Uganda ke Sudan,  jatuh di perbatasan Kenya-Uganda. Kecelakaan juga menewaskan 13 awak helikopter.

Semasa hidupnya, lelaki berusia 60 tahun ini menjadi panutan warga Sudan yang mengelompok dalam komunitas black African (Afrika hitam). Selama 21 tahun, Garang jadi tokoh berpengaruh dan diharapkan bisa membongkar dominansi kelompok keturunan Arab yang menguasai Khartoum dan sebagian besar wilayah utara negeri ini.

Oleh warga black African, John Garang dipercaya memimpin gerakan pembebasan terhadap kekuasaan keturunan Arab. Lebih satu dasawarsa, Garang memegang kendali Sudan People Liberation Movement (SPLM) dan memimpin Tentara Pembebasan Sudan (Sudan Liberation Army, SLA). Selama itu pula, ia kerap keluar masuk hutan, bergerilya sambil menenteng senjata di wilayah selatan.

Di tangan Garang, warga black African mendapat pembebasan. Pada 31 Desember 2004 di Nairobi, Kenya, Pemerintah Sudan dan SPLM sepakat damai. Perdamaian ini diprakarsai Dewan Keamanan (DK) PBB

Salah satu butir kesepakatan Nairobi menyatakan hukum Islam tak berlaku di wilayah selatan Sudan. Warga wilayah ini sebagian besar menganut Kristen dan animisme. Dengan kesepakatan ini, bisa dipastikan konflik yang berlangsung 1983 akibat penerapan hukum Islam di negara tersebut bisa berakhir.

Warga suka-cita menyambut kesepakatan ini. Di Khartoum, warga turun ke jalan. Mereka juga menari dan menyanyi. Ada juga yang merayakan dengan memotong sapi. Luapan kegembiraan juga terlihat di semua penjuru wilayah Sudan.

Tapi, pascakesepakatan formal itu, kekerasan masih saja terjadi di Sudan. Warga black African selalu khawatir karena tidak ada jaminan perdamaian 31 Desember bisa langgeng. Ini antara lain yang membuat kekerasan tak henti di negeri ini.

Untuk mengantisipasi meluasnya konflik, Khartoum mengambil inisitif. Negosiasi pun terjadi, John Garang diangkat sebagai wakil presiden Sudan mewakili komunitas black African. Karena Ali Usman Taba tetap menjabat wapres, posisi ini diisi dua orang: Garang dan Usman Taba.

Pengangkatan Garang dilakukan 9 Juli lalu, tiga pekan sebelum ia tewas kecelakaan helikopter.Begitu panjang dan berliku sejarah Sudan, wajar saja jika kematian Garang seperti mimpi buruk bagi negeri ini. (repro INTELIJEN)

Share Button