October 20, 2018

Rupiah Terperosok dan IHSG Jatuh, Said Didu: Jangan Terus Katakan Aman!

Joko Widodo (ist)


intelijen – Mantan sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengingatkan resiko melemahnya rupiah dan naiknya harga minyak dunia. Dengan terpuruknya rupiah, beban hutang negara akan naik; harga BBM akan naik; dan harga listrik akan naik.

“Perlu waspada sengatan melemahnya rupiah dan naiknya harga minyak dunia karena : 1) beban utang akan naik, 2) harga BBM akan naik, 3) harga listrik akan naik, 4) harga pangan impor akan naik,” tegas Said Didu di akun Twitter @saididu.

Selanjutnya kata Said Didu, jika rupiah terus melemah beban ekonomi akan naik dan bertambah. “Beban ekonomi jika rupiah terus melemah: 1) beban utang negara naik, 2) impor BBM akan menyedot devisa karena minyak juga naik, 3) impor bahan baku naik, 4) pembayaran utang swasta baik, 5) daya saing Industri berbahan baku impor turun, 6) impor bahan pangan naik,” tulis @saididu.

Terkait hal itu, Said Didi mendesak pemerintah untuk tidak terus mengatakan kondisi perekonomian “aman”. “Jangan terus katakan aman,” tegas @saididu menanggapi tulisan bertajuk “Rupiah Terperosok, IHSG Terkoreksi 2,55% ke Level 5.858,73”.

Kendati nilai tukar rupiah pada Kamis (03/05/2018) hampir menyentuh angka Rp 14.000 per dollar AS. Namun, Bank Indonesia menilai hal tersebut masih wajar dan ekonomi Indonesia tetap baik.

“Kalau terjadi depresiasi, kami anggap itu sebagai hal yang wajar. Jangan hanya lihat (pelemahan dari) nominalnya, tetapi juga lihat persentasenya,” kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo seperti dikutip kompas (03/05).

Menurut Agus, persentase depresiasi atau pelemahan rupiah terhadap dollar AS terhitung masih lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga seperti Turki dan India. Persepsi pelemahan rupiah yang terkesan cukup besar disebut Agus sebagai dampak dari mata uang rupiah yang belum redenominasi.

Agus mengungkapkan, nilai tukar mata uang lain terhadap dollar AS hanya satu atau dua digit sementara rupiah terhadap dollar AS mencapai lima digit angka untuk nominalnya. Karenanya, ketika terjadi pelemahan dan ada kenaikan persentase sedikit saja, seakan-akan nilai tukar rupiah turun secara signifikan terhadap dollar AS.

Share Button

Related Posts