October 18, 2018

Rupiah Melemah, BI Buka Ruang Naikkan Suku Bunga Acuan

Joko Widodo dan Agus Martowardojo (lingkaran)


intelijen – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo membuka peluang penyesuaian 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan jika pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berdampak buruk terhadap stabilitas keuangan. Kurs rupiah terus melemah, bahkan sempat nyaris menembus 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Kita melihat bahwa itu tidak tertutup, terbuka kemungkinan itu. Tetapi kita meyakinkan, kalau kita perlu melakukan penyesuaian 7-day Reverse Repo Rate apabila kondisi ekonomi termasuk nilai tukar itu depresiasinya bisa mempunyai dampak buruk pada stabilitas keuangan,” ujar Agus di Kantor BI, Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Agus mengatakan, penyesuaian tersebut dapat terjadi apabila komponen ekonomi lainnya seperti inflasi juga mengalami kenaikan.

“Dan kalau seandainya ada dampak yang tidak kita harapkan perihal inflasi kita. Jadi itu, kalau kita membuka ruang artinya nanti kita tentu akan mengkaji secara baik dan dalam,” jelasnya.

Pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh penguatan mata uang AS terhadap hampir semua mata uang dunia (broad based). Penguatan dolar AS tersebut adalah dampak dari berlanjutnya kenaikan yield treasury AS (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03 persen, tertinggi sejak 2013.

“Selain itu, depresiasi rupiah juga terkait faktor musiman permintaan valas yang meningkat pada kuartal II, antara lain untuk keperluan pembayaran utang luar negeri, pembiayaan impor, dan dividen,” jelasnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah masih terjadi hingga Kamis, 26 April 2016. Hari ini, rupiah tercatat melemah sebesar -0,88 persen. Persentase tersebut masih lebih rendah apabila dibandingkan beberapa negara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand, India dan Korea Selatan.

“Rupiah sampai 26 april 2016 terdepresiasi -0,88 persen month to date (mtd). Lebih rendah dibandingkan mata uang negara lain termasuk Thailand -1,12 persen, Malaysia -1,24 persen, Singapura -1,17 persen, Korea Selatan -1,13 persen, India -2,4 persen. Itu semua month to date,” jelasnya.

Ke depan, untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar, Bank Indonesia akan menempuh beberapa langkah-langkah. Pertama, senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun Rupiah.

“Kita juga terus memantau dengan seksama perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Lalu kita mempersiapkan second line of defense bersama dengan institusi eksternal terkait,” tandasnya.
Sumber : Merdeka.com

Share Button

Related Posts