October 18, 2018

“Rayakan Kontrak ‘Baru’ Freeport, Kenapa Negara tak Malu atas Sikap Diam di Kasus Novel Baswedan?”

Novel Baswedan (detik)


intelijen – Proses divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) yang baru pada tahap Head of Agreement (HoA – Kesepakatan Pokok), diapresiasi banyak pihak. Hanya saja, “perayaan” berlebihan atas penguasaan saham Freeport juga disesalkan banyak pihak.

Aktivis HAM yang juga pengacara karyawan PT FI, Hariz Azhar, membandingkan perayaan berlebihan itu dengan sikap membisu Pemerintahan Joko Widodo terhadap pengungkapan penyiraman air keras pada penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

“Unfinished important business. Ketika negara bisa merayakan kontrak “baru” dengan Freeport kenapa negara tidak malu atas sikap diam di kasus Novel Baswedan? Ada yang tahu rumah Ebiet G Ade, mau tanya dia aja deh… ?!” sindir Haris di akun Twitter @haris_azhar.

Senada dengan Haris, Ketum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, juga menagih komitmen Presiden Jokowi untuk menuntaskan kasus Novel.

“Pak @jokowi negeri ini berhutang banyak kepada Novel Baswedan. Dia kehilangan mata hanya karena dedikasinya bekerja melawan korupsi demi Indonesia yang lebih baik. Kami masih menanti komitmen Pak Presiden,” tegas Dahnil di akun @Dahnilanzar.

Dahnil mendesak Presiden Jokowi untuk mengawal pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) penganiayaan Novel Baswedan.

“Terlalu banyak keganjilan yang menyebabkan kami tidak percaya dengan kepolisian mau menuntaskan kasus penyerangan teroris bandit politik terhadap Novel Baswedan. Makanya, TGPF dan komitmen Pak @jokowi untuk mengawal Pembentukannya penting,” tulis @Dahnilanzar.

Share Button

Related Posts