November 13, 2018

Politisi Malaysia Klaim LGBT Biang Tsunami Palu, Syafii Maarif Kaget

Ahmad Syafii Maarif


intelijen – Syafii Maarif, salah satu tokoh Muslim Indonesia kaget dengan pernyataan pemimpin oposisi Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, yang mengklaim LGBT penyebab gempa bumi dan tsunami di Palu. Syafii terkejut karena pernyataan seperti itu keluar dari tokoh penting Malaysia.

Zahid sebelumnya mengatakan musibah yang menewaskan lebih dari 2.000 orang di Sulawesi Tengah, termasuk Palu, merupakan hukuman Tuhan karena kegiatan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) di wilayah terkait.

“Ada juga orang-orang di Indonesia yang berpendapat demikian, itu adalah orang-orang yang tidak penting. Namun di sini kami memiliki orang penting di Malaysia yang mengatakan ini,” kata Syafii kepada media Malaysia, FMT, Selasa (24/10/2018).

Zahid, yang juga pemimpin oposisi parlementer, telah meminta Mujahid Yusof Rawa, menteri yang bertanggung jawab atas urusan Islam, tentang upaya oleh Departemen Pembangunan Islam Malaysia (Jakim) untuk melawan gaya hidup lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

“Kami melihat situasi di Malaysia, kami khawatir karena kami tahu apa yang terjadi di Palu baru-baru ini di mana ada gempa bumi dan tsunami. Dilaporkan bahwa ada lebih dari 1.000 anggota komunitas mereka yang terlibat dalam kegiatan (LGBT) tersebut,” kata Zahid yang kini menjadi Presiden UMNO tersebut, kemarin.

“Akibatnya seluruh daerah hancur. Ini adalah hukuman Allah,” ujar Zahid yang pernah menjabat sebagai mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia era pemerintahan Najib Razak.

“Pertanyaan saya adalah apakah program Jakim (untuk merehabilitasi LGBT) berhasil karena data menunjukkan bahwa di pertengahan tahun lebih dari 1.000 (kaum LGBT) bergabung dengan program-program ini,” lanjut dia.

Jakim adalah akronim dari Jabatan Kemajuan Islam, sebuah lembaga yang menangani urusan Islam di di negara tersebut.

Syafii Maarif, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengingatkan Zahid bahwa Indonesia terletak di dalam ring of fire, sebuah wilayah dengan gunung berapi aktif yang rawan gempa bumi.

“Ada faktor geografis yang terlibat,” katanya.

Dia mengatakan tidak tepat bagi Zahid untuk menyimpulkan bahwa gempa bumi adalah hukuman Tuhan. Menurutnya, seharusnya kejadian itu dilihat sebagai kesempatan untuk membantu sesama manusia dengan menyalurkan bantuan dalam membangun kembali kehidupan para korban.

“Jika kita telah berdosa, kita mencari pengampunan dari Tuhan. Tetapi jangan pernah menghubungkannya dengan tsunami,” kata Syafii.

Dia berpendapat, Islam memang menganggap homoseksualitas sebagai dosa, dan Alquran menceritakan tentang bangsa-bangsa yang dihukum dengan bencana alam. Namun, dia mengatakan bahwa itu salah bagi siapa saja untuk membuat praduga tentang hukuman Tuhan.

“Tidak ada yang bisa mengklaim mengetahui niat Tuhan,” imbuh dia.

Sumber: Sindonews

Share Button

Related Posts