November 15, 2018

Polisi: Pembawa Bendera yang Menjadi Pemicu

Bendera Tauhid


intelijen – Mabes Polri akhirnya mengambil kesimpulan mengenai insiden pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, Polisi menyatakan sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pascagelar perkara alat bukti, polisi memutuskan bahwa pembawa bendera yang menjadi pemicu atas insiden pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober 2018 di Kabupaten Garut itu.

“Laki-laki penyusup inilah sebenarnya orang yang sengaja ingin mengganggu kegiatan HSN yang resmi dan bertujuan positif,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo Seperti dilansir Republika.co.id, Kamis (25/10).

Dedi menerangkan, acara HSN dilakukan di Alun-Alun Limbangan Kabupaten Garut pada Senin (22/10) lalu. Acara tersebut juga secara resmi telah mendapat izin dari instansi kepolisian.

Banser telah menegaskan sebelumnya, bahwa seluruh peserta acara dilarang membawa atribut atau bendera selain bendera merah putih. Karena, mereka berkomitmen HSN digelar untuk tujuan meningkatkan ukhuwah Islamiyah, sikap Nasionalisme, dan komitmen pada NKRI dan Pancasila.

“Dalam pelaksanaan upacara, pesan-pesan yang disampaikan juga sesuai tujuan peringatan, meningkatkan ukhuwah lslamiyah, sikap nasionalisme, komitmen pada NKRI dan tidak ada pesan yang bersifat negatif ataupun provokatif,” jelas Dedi.

“Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor utama penyebab terjadinya tindakan pembakaran ini dan yang menimbulkan gangguan kegiatan peringatan HSN adalah tindakan laki-laki yang menyusup dan mengibarkan bendera HTI yang sudah dilarang sebelumnya. Tidak akan terjadi insiden ini, jika tidak ada tindakan laki-laki menyusup dan membawa bendera HTI,” ungkapnya.

Terhadap laki-laki penyusup tersebut, Polisi mengenakan Pasal 174 KUHP. Yang berbunyi barang siapa dengan sengaja mengganggu rapat umum yang tidak terlarang, dengan mengadakan huru hara, atau membuat gaduh, dihukum penjara selama lamanya tiga minggu.

Namun saat ditanyakan mengenai hasil pengejaran terhadap laki-laki penyusup tersebut, Dedi mengaku belum ada perkembangan. Polisi masih melakukan upaya pengejaran kepada penyusup tersebut.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum MUI Prof. Yunahar Ilyas mengungkapkan, bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah bendera tauhid yang menjadi bagian dari sejarah Islam, bukan bendera HTI. Karena tidak ada simbol HTI di bendera itu.

“Dalam perspektif MUI karena itu tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), maka kita menganggap itu kalimat tauhid,” ucap Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas di gedung MUI, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Yunahar menjelaskan, dalam sejarahnya, ada dua model bendera dengan kalimat tauhid. Yaitu Al-Liwa dengan latar belakang putih, dan Ar-Rayah dengan latar belakang hitam. Kedua bendera ini menjadi bagian dalam sejarah Islam dan mestinya tak dijadikan bendera ormas.

Meski begitu, MUI menyerahkan kasus ini kepada kepolisian untuk mengusut apakah ada pelanggaran hukum dalam kasus pembakaran bendera itu.

 

 

Sumber: Republika

Share Button

Related Posts