December 15, 2018

Smith Alhadar: Perang saudara, Bahaya Laten di Libya



INTELIJEN.co.id – Meninggalnya Moammar Khadafy dalam serangan penaklukan oleh pasukan pemerintahan sementara Libya (NTC) dan NATO di Kota Sirte, Kamis, 20 Oktober 2011, akan memberikan dampak politik yang baik bagi Libya sendiri, kawasan Timur Tengah, dan komunitas internasional. Meski demikian, khusus bagi masa depan Libya, ada bahaya laten kemungkinan terjadinya perang saudara.

“Kematian Khadafy, baik bagi Libya dan negara tetangganya (di kawasan Timur Tengah) dan komunitas internasional. Tapi ada bahaya laten, ada kemungkinan perang saudara di sana,” kata pengamat Timur Tengah, Smith Alhadar, kepada INTELIJEN.co.id, Jum’at, 21 Oktober 2011.

Menurut Smith, potensi perang saudara tersebut, bukan karena perlawanan balik oleh para pendukung Khadafy. Karena, menurutnya, saat ini, rakyat Libya lebih banyak mendukung kelompok penentang yang telah berhasil menggulingkan Khadafy.

Selain itu, tambah Smith, Khadafy sudah tidak memiliki kemampuan lagi, meskipun masih ada sebagian pendukungnya, tapi sudah terpecah. Terlebih, NATO sepenuhnya mendukung pemerintahan transisi.

Potensi perang saudara, dalam pencermatan penasehat The Indonesian Society for Middle East Studies ini, justru karena adanya pemanfaatan situasi untuk mendapatkan keuntungan kue revolusi.

Terkait pengaruh meninggalnya pemimpin yang telah berkuasa di Libya selama 42 tahun tersebut terhadap kawasan Timur Tengah, Smith, melihat hal itu akan membawa pengaruh yang baik, khususnya dalam proses demokratisasi.

“Meninggalnya Khadafy akan memberikan pengaruh cukup bagus di Timur Tengah karena memberi inspirasi, dorongan, dan semangat kepada masyarakat Arab untuk memberontak terhadap para dikator dan tiran di negara mereka,” ungkap Smith.

Dan salah satu yang saat ini menjadi sasaran, adalah rezim di Suriah. Warning Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, bahwa meninggalnya Khadafy adalah pelajaran bagi rezim otoriter di Timur Tengah, menurut Smith, adalah ditujukan kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Share Button