October 21, 2018

Penyelidik Mandiri, Selidiki Kasus Politik Hingga "Rumah Seks"

Ilustrasi (Istimewa)


Ilustrasi (Istimewa)

INTELIJEN.co.id – Penyelidik Mandiri mendapat kepercayaan menangani berbagai kasus mulai dari korupsi yang dilakukan seorang sekretaris daerah (sekda) sampai perselingkuhan istri seorang pemilik hotel.

Sekitar pertengahan 2005, pagi yang cerah, matahari memancarkan sinarnya, nampak dua orang serius membicarakan sesuatu. Di ruangan yang cukup luas itu, seorang walikota di Jawa Barat mengeluh pada R. Muhammad Tisnasantika, pemilik Penyelidik Mandiri.

Sambil menikmati minuman hangat, walikota ini menuturkan bahwa sekda menyalahgunakan kewenangannya.

“Saya tidak menyangka kegiatan yang menggunakan uang anggaran digunakan untuk meningkatkan citranya,” keluh sang walikota.

Keluhan itu dan penuturan lebih panjang, menjadi informasi awal Tisnasantika. Tim segera dibentuk dengan mengumpulan data-data tambahan.

Seorang anggota tim kemudian dikirim merapat ke salah satu organisasi masyarakat di Jawa Barat. Ia bertugas menelusuri adanya aliran dana dari seorang sekda salah satu kota di provinsi itu ke berbagai ormas dan LSM.   

Dengan bersikap sebagai warga biasa yang bersimpati kepada ormas yang disusupinya, ia melakukan penyelidikan. Benarkah sekda menggelapkan dana? Dana tersebut diberikan kepada siapa saja? Apa pula motifnya? Jawaban atas pertanyaan itulah target operasinya.

Setiap informasi yang didapat kemudian dianalisis. Hasilnya digunakan  untuk menentukan langkah selanjutnya.

Empat puluh lima hari kemudian, rampung sudah penelusuran yang dilakukan Penyelidik Mandiri. Data yang terkumpul dianggap sudah cukup kuat digunakan sebagai jawaban atas tiga pertanyaan di atas.

Tim Penyidik Mandiri kemudian mengambil kesimpulan akhir dan melaporkannya kepada kliennya, salah seorang walikota di Jawa Barat. Itulah kasus pertama yang ditangani Penyidik Mandiri, dan R. Muhammad Tisnasantika, terlibat langsung proses penyelidikan.

Kasus tersebut berbarengan dengan berdirinya kantor detektif swasta Penyidik Mandiri. Berawal ketika sang walikota mendapat aduan dari staf bagian keuangan bahwa sekda telah  menyetujui sejumlah proposal dana dari seratusan ormas dan LSM.

Walikota pun geram, dirinya seperti tidak dianggap. Sekda sama sekali tidak memberitahukan hal itu kepada dirinya. Semua ditangani sekda sendiri. Bila tidak ada laporan dari orang keuangan, ia sama sekali tidak tahu ada acara bagi-bagi uang itu.

Ia pun penasaran apa motif sang sekda sehingga bertindak sendirian. Untuk melakukan penyelidikan itu, belum memungkinkan kalau memakai jalur formal.

“Untung saja walikota ini konsultasi dengan kakak saya yang kebetulan dinas di sana. Ia pun menyarankan agar sang walikota menggunakan jasa saya.” ujar Tisnasantika kepada INTELIJEN, mengenang order pertama yang diterimanya.  

Berdasarkan hasil analisa dari data yang telah terkumpul, Tisnasantika menyimpulkan telah terjadi corruption by system, penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi. Sekda melakukan itu dalam rangka menarik simpati berbagai ormas dan LSM agar memilihnya kelak ketika pilkada.

Karena jelas, setiap proposal yang cair, berdasarkan info dari orang-orang ormas yang dapat dipegang perkataannya, ada titipan pesan dari sekda. Pesan untuk memilihnya ketika pilkada nanti. Itulah kesimpulannya.

Namun Penyelidik Mandiri tidak memaksakan kesimpulannya kepada klien. Sang walikota bisa menjadikan kesimpulan Penyidik Mandiri sebagai acuan atau menyimpulkan sendiri.

Oleh karena itu, Penyidik Mandiri melaporkan semua temuannya, sehingga klien bisa mengambil kesimpulan sendiri.

“Tindakan selanjutnya terserah klien. Membuat komitmen baru untuk tugas selanjutnya atau cukup sampai di sini,” ungkap Tisna.

Walikota merasa cukup sehingga kerjasama dengan Penyidik Mandiri tidak perlu diteruskan lagi. Kemudian Walikota memberhentikan sang sekda.

Sejak menangani kasus itu, Tisna berfikir, meskipun beresiko tinggi dan membutuhkan kesabaran dan penyamaran yang rapi, namun bekerja seperti itu cukup menggiurkan.

Pasalnya, semua biaya operasional ditanggung klien. Jasa penyelidikan tergantung kesepakatan. Untuk kasus yang pertama itu, Tisna mematok 75 juta. Meskipun setelah nego, disepakati Rp 55 juta.

Tangani Perselingkuhan

Sejak itu, Penyidik Mandiri selalu saja mendapatkan order untuk menyelidiki berbagai kasus. Di antaranya kasus perselingkuhan. Pada 2006, salah satu pemilik hotel di Lembang Bandung mencurigai istrinya sendiri suka main pria.

Pemilik hotel ini meminta bantuan Tisna untuk memastikan kebenaran isu tersebut. Untuk kasus seperti ini ada tiga metode yang dapat dilakukan. Pertama adalah pengintaian. Kedua, memberikan umpan. Ketiga kombinasi keduanya.

Tisna memilih metode kedua dengan alasan mengintai adalah pekerjaan pasif yang melelahkan. Tidak perlu metode ketiga, karena sosok Tisna tidak dikenal oleh target. Maka metode kedua adalah metode yang pas untuk dilakukan. Tisna menggunakan metode umpan.

“Kalau dia senang laki-laki, saya umpani laki-laki, saya sendiri yang berperan.” papar Tisna kepada INTELIJEN yang mengaku beruntung memiliki tubuh yang atletis dan tampang yang tidak jelek.

Namun demikian prosesnya sangat lama. Kenapa? Karena menundukkan hati perempuan itu tidak mudah. Harus terjadi perkenalan yang alami dan berkesan. Kemudian Tisna menanyakan nomor ponselnya dan terjadilah komunikasi intens.

Kelemahan perempuan itu satu, aku Tisna, kalau diperhatikan pasti luluh. Contohnya, setiap pagi Tisna sms istri pemilik hotel itu, sekedar menanyakan  sudah makan atau belum, atau apa kabarnya. Benar saja, satu minggu kemudian dia luluh juga. Ia mengajak Tisna masuk hotel.

Dari situ Tisna menyimpulkan bahwa istri pemilik hotel ini suka main laki-laki. Kalau daftar masuk hotel tidak mau pakai KTP Tisna,  tetapi harus KTP yang bersangkutan.

Setelah mendapatkan kepastian Tisna pun membuat laporan kepada klien dengan disertai datanya. Tindakan selanjutnya terserah klien. Apakah ia akan menceraikan istrinya atau melakukan tindakan lain?

Tisna mengaku dalam bisnis jasa ini, ia tidak membutuhkan banyak personel. Ada kasus yang cukup ditangani sendiri, ia selelaikan sendiri.

Ada juga kasus yang tidak mungkin diselesiakan sendiri, maka Tisna pun melibatkan orang-orang yang satu profesi dengannya. Dicarilah orang yang kompeten dengan tugas yang akan diberikan Tisna.

Misalnya pada 2007, Penyelidik Mandiri mendapatkan klien yang memintanya untuk melakuan screening orang di salah satu perusahaan multinasional. Penyidik Mandiri membentuk tim dengan bendera manajemen SDM lengkap dengan psikolognya.

Hal itu untuk memastikan karyawan yang direkrutnya mempunyai tanggungjawab dan loyalitas terhadap perusahaan.

Ternyata tidak setiap klien yang datang ke Penyidik Mandiri adalah korban dari kejahatan orang yang menjadi target penelusuran atau pun screening. Tetapi malah kliennya sendiri terlibat dalam kejahatan.

Salah satu di antaranya adalah kasus penipuan berkedok penggandaan uang.

Seorang anggota legislatif datang kepada Tisna, mengaku sebagai korban penipuan itu. Tapi setelah investigasi, Tisna terperanjat karena berdasarkan data temuan di lapangan justru salah satu penipu tersebut adalah sang klien. Karena dalam berbagai modus kliennya terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kejahatan itu.

Bukan hanya itu, masalah yang terungkap bahkan semakin melebar. Ternyata kliennya pun terlibat perselingkuhan dan pencemaran nama baik. Muka sang klien merah padam setelah mendapatkan laporan dari Tisna.

Ia langsung membayar jasa penyelidikan dan meminta penyelidikan ini dihentikan. Akhirnya kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

Ada juga kasus yang miris melibatkan aparat yakni saat ada klien yang meminta kepastian benar tidaknya ada rumah kost yang dijadikan tempat pelacuran kelas tinggi di salah satu perumahan elite di Bandung. Warga termasuk penghuni perumahan tersebut merasa resah.

Penyidik Mandiri pun menjadi tumpuan harapan warga untuk memastikan apakah tempat tersebut merupakan tempat pelacuran terselubung atau bukan. Persoalannya kalau lapor polisi, aparat keamanannya bolak-balik ke tempat itu.

“Kalau lapor tentara, tentara juga suka main ke situ,” ujar Tisna menirukan keluhan kliennya.

Bahkan tidak jarang, klien atau warga lainnya sering ditakut-takuti akan dipenjara oleh aparat setempat dengan tuduhan pencemaran nama baik, bila menuduh rumah kost tersebut sebagai tempat pelacuran.

Untuk memastikannya, Tisna menyamar sebagai orang yang akan kost di rumah itu. Selanjutnya Tisna meminta rekannya mengirim seorang perempuan ke dalam untuk kost juga di situ. Perempuan itu pun dipersilakan masuk oleh si penjaga rumah kost itu.

Perempuan ini tidak tahu kalau mendapat tugas dari Tisna. Setelah dua minggu, baru ada indikasi ke arah situ. Ada indikasi kuat bahwa di tempat rumah itu ada tempat yang bisa “disewa” untuk berbuat mesum.

Tidak cukup sampai di situ, Tisna  menyelidiki, apakah pemilik kostnya secara sengaja atau tidak tahu, bahwa ada anak kost yang berprofesi seperti itu dan tempatnya digunakan perbuatan itu.

Dalam penelusurannya, Tisna pun pernah mengajak kencan cewek lain (bukan orang yang disuruh rekannya Tisna) yang kost di situ.  
“Saya hanya ajak makan malam saja,” aku Tisna.  

Dari pengakuan cewek itu dan laporan cewek teman rekannya, ternyata pemilik rumah ini memang sengaja menyewakan tempat untuk kost-kostan.

Pemilik rumah tidak peduli dengan pekerjaan penghuni kostnya dan apa pula yang dilakukan penguninya yang penting membayar uang kost  dan tidak merusak bangunan. Temuan tersebut dilaporkan kepada klien.

Namun sedih rasanya, ketika klien mengatakan kepada Tisna bahwa aparat tetap saja tidak memberikan tanggapan, meskipun telah dilampiri data temuan. (repro INTELIJEN)

Share Button