December 11, 2018

Pengamat: Polarisasi Bangsa tak Lepas dari Peran Buzzer Jokowi dan Kooptasi Media Mainstrem

Joko Widodo dan Aktivis Sosial Media (ist)


intelijen – Munculnya “polarisasi” bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari sikap Presiden Joko Widodo tetap mempertahankan para aktivis sosial media yang berposisi sebagai buzzer. Di sisi lain, penguasa juga berhasil “mengkooptasi” media mainstream.

Analisis itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (03/05). “Jokowi selalu menjaga citranya melalui buzzer. Sayangnya, para buzzer ini selalu membuat konflik dengan netizen lainnya,” catat Muslim Arbi.

Sebagai parameter, Muslim membandingkan pencitraan Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjabat Presiden RI.

Menurut Muslim, saat SBY menjabat, tidak terjadi polarisasi karena penguasa tidak memanfaatkan buzzer dan mengkooptasi media mainstream. “Ada pencitraan tetapi tidak selebay era Jokowi. Era SBY oposisi tidak ditekan dan dibiarkan berjalan dalam koridor demokrasi,” papar Muslim.

Muslim mengingatkan, tindakan Jokowi yang memanfaatkan buzzer dan media mainstream justru memunculkan perlawanan. “Ada aksi maka muncul reaksi. Itu hal yang sangat lumrah. Dan pihak penguasa terlalu berlebihan dalam menyikapi reaksi itu,” jelas Muslim.

Soal hoax yang tersebar di sosial media, Muslim menilai, penegakan hukum pemberantasan hoax terlihat tidak adil di era Jokowi. “Akun-akun Twitter pro penguasa dan media non mainstream penguasa yang sebarkan hoax dibiarkan saja,” papar Muslim.

Kata Muslim, dalam penegakan hukum yang tebang pilih, justru akan memunculkan “perlawanan” dari rakyat.

“Laporan SBY ke polisi dalam kasus aksi demo di kediaman SBY tidak jelas tindak lanjutnya. Sekelas SBY saja tidak ada lanjutannya apalagi rakyat biasa. Ini yang terjadi di era Jokowi. Dan ketika Jokowi ditanya masalah hukum jawabannya selalu tidak ada intervensi,” pungkas Muslim Arbi.

Red

Share Button

Related Posts