July 28, 2017

Pemerintah Diminta Waspada Serangan Malware di Sektor Perbankan

Hanafie Rais


intelijen – Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais menilai, serangan malware yang terjadi di RS Dharmais dan RS Harapan Kita, baru tahap awal. Hanafi meminta pemerintah segera mencari antisipasi dari serangan virus ransomware baru yang disebut Wannacry agar tidak meluas ke sektor lain.

“Pemerintah harus lebih memperhatikan keamanan siber infrastruktur kritis lain seperti misalnya listrik, gas dan perbankan,” kata Hanafi saat dihubungi, Senin (15/5).

Hanafi mengatakan, serangan malware ke jaringan rumah sakit karena sektor kesehatan dianggap tidak memiliki cukup pilihan selain membayar tebusan agar data enkripsi bisa dikembalikan dan diakses lagi.

“Yang diserang adalah sektor kesehatan karena dianggap tidak punya pilihan lain selain bayar tebusan yang diminta untuk buka lagi enkripsinya. Itu pun tidak ada jaminan,” jelasnya.

Pihaknya mengapreasiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Informasi yang mengeluarkan edaran antisipasi dam problem-shooting bagi jaringan yang terkena ransomware. Oleh karenanya, pemerintah harus proaktif mencegah kejahatan siber yang berorientasi untuk kepentingan komersil.

“Terkait serangan ransonware ini, pemerintah juga perlu terus mengamati jika kejahatan siber ini dimanfaatkan untuk kepentingan komersil perusahaan software,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggelar konferensi pers terkait serangan malware yang terjadi di RS Dharmais dan RS Harapan Kita, Minggu (14/5). Serangan malware ini masuk dalam kategori ransomware.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengatakan, kejadian ini tak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara mengalami hal yang serupa. Kebanyakan menyerang sistem jaringan rumah sakit.

“Jadi, sebelum aktifkan komputer, pastikan tidak terkoneksi ke Internet. Wifi matikan sementara. Kemudian, backup data penting dikopi,” kata Rudiantara.

Dikatakannya, malware ini tidak akan merusak atau menghancurkan data yang dimiliki korban. Hanya saja berdampak pada proses bisnis dari rumah sakit yang terkena.

“Misalnya registrasi biasa pakai online sekarang harus manual. Konsekuensinya setahu saya itu,” ungkapnya.(Merdeka)

Share Button

Related Posts