October 21, 2018

Patahkan Kelompok Abu Sayyaf

Kelompok Abu Sayyaf (istimewa)
Abu Sayyaf


Kelompok Abu Sayyaf (istimewa)

INTELIJEN.co.id – Pasukan LRC dibantu dengan pasukan Filipina lainnya melakukan ofensif besar-besaran terhadap ratusan anggota kelompok bersenjata di Basilan dan menyatakan telah berhasil menguasai serta memutus jalur makanan dan amunisi untuk kelompok-kelompok bersenjata di sana.

Akan Tetapi operasi pertama ini sia-sia belaka. Gerilyawan Abu Sayyaf yang menahan sejumlah sandera, termasuk tiga warga Amerika, berhasil meloloskan diri dari kepungan militer di Basilan di tengah-tengah pertempuran seru.

Dalam pertempuran tersebut, menurut seorang pejabat Filipina, lima sandera Filipina yang diculik dari satu daerah wisata dan dibawa ke kota Lamitan, pulau Basilan, berhasil melarikan diri selama pertempuran itu. Para sandera yang masih berada ditangan pria-pria bersenjata itu, adalah termasuk seorang perawat dari sebuah rumah sakit yang diserbu kelompok Abu Sayyaf.

Para saksimata mengatakan pria-pria bersenjata itu meloloskan diri dari kepungan ratusan tentara di sekitar kompleks rumah sakit dan gereja dalam kegelapan malam dan baku tembak sengit Minggu dinihari.

“Tembakan gencar dari Abu Sayyaf meletus sekitar pukul 01.00 dinihari. Hal itu dilakukan agaknya dalam usaha untuk melindungi pengunduran diri mereka,” kata para saksimata.

Penembakan itu berlangsung sekitar satu jam dan berhenti setelah gerilyawan itu berhasil melarikan diri.

Pemerintah Filipina yang didukung Amerika tampaknya tidak patah arang. Operasi selanjutnya di bawah pimpinan Brigjen Edilberto Adan, juga melibatkan pasukan LRC sebagai pembuktian Special Force Filipina antiteror.

saat penyerbuan dilakukan, kelompok pemberontak berada di posisi sekitar enam kilometer dari pantai. Pasukan Filipina berusaha melakukan pengepungan dan memotong jalur yang dapat mereka gunakan untuk meloloskan diri.

Lebih dari 2.000 personel tentara Filipina termasuk di dalamnya pasukan LRC terlibat dalam operasi ini. Sementara Adan memperkirakan di pulau tersebut terdapat sekitar 100 personel pasukan pemberontak.

Adan juga menyatakan telah menemukan sejumlah pemberontak yang tewas, setelah mereka mendesak para pemberontak masuk lebih jauh ke dalam hutan. Sejumlah warga sipil juga dilaporkan cedera dalam bentrokan itu. Tak disebutkan, berapa tepatnya jumlah korban, baik yang tewas maupun cedera.

Saat aksi tembak-menembak masih berlangsung, Abu Sabaya, salah satu pemimpin kelompok Abu Sayyaf, sempat menelepon stasiun radio lokal RMN dan mengumumkan dua orang sandera telah terkena tembakan. Ia juga mengancam akan membunuh para sandera.

Sabaya juga meminta Teresa Ganzon, salah seorang dari 17 sandera warga negara  Filipina untuk berbicara di telepon. Dengan terpatah-patah ia mengatakan bahwa nyawa para sandera dalam keadaan terancam.

Atas nama para sandera lain saya mengimbau pemerintah untuk menghentikan aksi militer,” demikian kata-kata Ganzon yang di latarbelakangi suara tembakan dan desingan peluru.

“Sampai saat ini kami masih diperlakukan dengan baik. Tetapi, bentrokan bersenjata bisa membuat kami jadi korban,” tambahnya.

Di antara para sandera, juga terdapat anak-anak. Menurut Ganzon, hampir tak mungkin melarikan diri bersama mereka di pulau bergunung-gunung itu. Ganzon menyatakan pula, ketiga sandera warganegra Amerika juga berada dalam kelompoknya. Namun, ia tak bisa mengkonfirmasikan apakah ada sandera yang cedera

Menurut Adan, kubu para pemberontak terletak di sebuah lembah selebar sekitar sembilan kilometer yang ditutup hutan lebat. Lokasi ini berada di antara dua gunung. Ia juga menyatakan, dengan tambahan pasukan yang didatangkan dari daerah lain.

Pasukan LRC siap melanjutkan pertempuran hingga malam hari, meski pada siang hari jarak pandang amat terbatas karena sinar matahari tak banyak yang bisa menembus hutan yang lebat itu.

Adan juga menyatakan, dua tentara tewas dan 14 tentara lainnya luka-luka dalam kontak senjata dengan para pemberontak Abu Sayyaf yang berlangsung selama tiga jam. Disebutkan juga, pasukan pemberontak menggunakan pelontar granat.

Dalam sebuah wawancara radio, seorang juru bicara kelompok pemberontak sempat menyatakan bahwa dua sandera telah terbunuh dalam kontak senjata dengan pasukan pemerintah. Ia juga mengancam akan membunuh para sandera lainnya, jika pemerintah tetap meneruskan serangan militer.

Yang menjadi catatan dalam operasi ini walaupun pasukan LRC dan pasukan Filipina berhasil membebaskan beberapa sandera, tapi tidak berhasil menyelamatkan misionaris Amerika Martin Burnham tetapi istrinya Gracia Burnham dapat diselamatkan dalam keadaan terluka.  

Selain operasi pembebasan di Basilan, unit pasukan yang menjadi andalan Filipina ini terlibat dalam operasi pembebasan sandera di penjara kamp Bagong Diwa Manila pada tanggal 15 Maret 2005.

Drama pemberontakan dan penyanderaan yang dilakukan tahanan berstatus anggota gerilyawan Abu Sayyaf di penjara Kamp Bagong Diwa, Manila berakhir tragis. Pasukan LRC mematahkan pemberontakan tersebut dengan serangan besar-besaran yang mengakibatkan 22 tahanan, empat di antaranya pemimpin gerilyawan Abu Sayyaf tewas.

Serangan besar-besaran ke penjara Kamp Bagong Diwa dilakukan sekitar pukul 09.15 waktu setempat, setelah polisi memberikan waktu 15 menit kepada para tahanan untuk menyerahkan diri dan senjata mereka. Saat itu tidak seorang anggota gerilyawan Abu Sayyaf pun yang mengindahkan perintah pasukan LRC.

Ketika batas waktu berakhir, beberapa pasukan LRC telah mengepung penjara itu, langsung melepaskan tembakan dan melontarkan gas air mata ke arah penjara. Sebuah helikopter berputar-putar di atas penjara tersebut dan beberapa ambulan disiagakan untuk mengangkut para korban.

Sebagian penembak jitu yang juga anggota LRC dengan masker antigas bergantian masuk ke dalam penjara melalui pintu gerbang utama. Satu demi personil LRC menguasai sel di penjara berlantai empat itu.

Penyerbuan dilakukan hampir dua jam -hingga satu jam setelah penyerbuan bau gas air mata masih menyengat. Kemudian LRC melanjutkan penyerbuan dengan menyisir semua lantai untuk menemukan anggota gerilyawan Abu Sayyaf.

LRC  mengatakan, sebagian besar anggota gerilyawan Abu Sayyaf yang tewas tertembak ditemukan di lantai dasar penjara. Operasi ini menunjukkan sebuah keberhasilan pasukan LRC sebagai unit antiteror. Bahkan pihak Amerika memuji keberhasilan dalam operasi ini.

Spesifikasi

Nama:
Light Reaction Company (LRC)

Asal Negara:
Filipina

Markas:
Manila

Berdiri:
Sekitar 2001

Fungsi:
Menjaga stabilitas kawasan pasifik dari teroris

Operasi:
Pembebasan sandera di Basilan (2001), pembebasan di penjara kamp Bagong Diwa Manila (15/3/2005)

Anggota:
Seleksi dari angkatan darat, laut dan udara

Kemampuan:
Antiteror

Peralatan:
Night Vision, Headset berteknologi tinggi

Senjata:
Standar Special Force Amerika.
(repro INTELIJEN).

Share Button