December 15, 2018

PancaIndera, Ungkap Perselingkuhan dan Kejahatan Komputer

Ilustrasi (dok. INTELIJEN)


Ilustrasi (dok. INTELIJEN)

INTELIJEN.co.id – Anda butuh menyewa detektif pribadi? Tingkah laku pasangan akhir-akhir ini mencurigakan, selingkuh? Ingin menyelidiki latar belakang cowok yang selama empat bulan terakhir berkencan dengan Anda? Ingin menemukan jejak seseorang yang tiba-tiba “lenyap” atau “melenyapkan diri”? Butuh bantuan untuk menghadapi orang yang membuntuti Anda terus menerus?

Itulah sebagian perbincangan INTELIJEN dengan pemilik PancaIndera, Wiryono Sudianto. PancaIndera sebagai investigator pribadi melayani permintaan untuk menyelidiki berbagai macam masalah, seperti orang yang lenyap atau melenyapkan diri, mengumpulkan data tertentu, melacak bukti-bukti untuk digunakan di pengadilan, dan sebagainya.

Dalam melakukan investigasi, PancaIndera mengandalkan kemampuan intelektual dan dan teknologi. PancaIndrea merupakan satu-satunya investigator swasta Indonesia yang akan masuk dalam buku berjudul “Lighter Side of Private Investigator”, yang rencananya ditulis dan diterbitkan di Australia.

Kata Seno, panggilan akrab Wiryono Sudianto, PancaIndera menyelidiki perselingkuhan istri, suami, bahkan perselingkuhan sang lawan selingkuh. “Penyelidikan menyangkut perselingkuhan merupakan kasus terbanyak,” ungkapnya.

Menurut Pria penggemar wayang ini, saat salah seorang dari pasangan baik pihak perempuan maupun lelaki merasakan sebuah pengkhianatan maka akan terasa wajar bila akan menjadi curiga dan dapat dimengerti jika dia meminta investigator pribadi melakukan penyelidikan.

Sebenarnya investigasi yang dilakukan PancaIndera merupakan penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta-fakta. Dengan melakukan peninjauan, percobaan, bertanya kepada teman dekat dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh kebenaran atas peristiwa atau pertanyaan yang terjadi.

Investigasi tersebut ditujukan untuk menguak kebenaran sebuah perselingkuhan, karena pihak yang dikhianati merasa perlu menyelidiki pasangannya untuk mendapatkan bukti dan mencari kebenaran atas apa yang dicurigai.

Caranya, dengan menginterogasi dan mengecek tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh pasangan dan selingkuhannya. Atau bisa juga dengan melibatkan pihak ketiga seperti kerabat atau teman.

PancaIndera melakukan penyelidikan lebih obyektif karena tidak melibatkan faktor emosi, meski menyelidiki masalah yang menyangkut privasi seseorang. Hanya saja, penyelidikan ini tidak sampai keluar batas sehingga tidak akan berbuntut masalah kriminalitas dan kejahatan atau bahkan sampai menjadi masalah pembunuhan.

Klien PancaIndera yang meminta melakukan penyelidikan dipengaruhi latar belakang sebuah pernikahan. Jika terjadi perbedaan motivasi antara lelaki dan perempuan hingga akhirnya dilakukan investigasi perselingkuhan.

“Biasanya jika hal ini dilakukan lelaki karena masalah ego, mencari keuntungan atas dasar ingin menguasai dan memperlihatkan harga diri. Penyelidikan yang dilakukan pun akan lebih pada sikap posesif yang dimiliki terhadap sang isteri,” kata Seno.

Sedangkan klien perempuan PancaIndera meminta melakukan penyelidikan perselingkuhan lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangga, keharmonisan keluarga dan menyangkut perkembangan psikologis anak-anak mereka, jika sudah memiliki.

PancaIndera dalam melakukan penyelidikan perselingkuhan selalu dimulai dengan cerita awal. Termasuk awal pemicu seperti sinyal-sinyal yang membuat dia harus mengontrol pasangannya lebih jauh.

Selain itu, yang diperhatikan PancaIndera saat muncul bentuk-bentuk seperti teror, ancaman, perkelahian atau bahkan pembunuhan akibat melakukan investigasi.

Kata Seno, selama menangani investigasi perselingkuhan biasanya muncul kejahatan rumah tangga atau domestic violence di antara pasangan. Hal tersebut muncul sebagai faktor pemicu pada puncak konflik sehingga terjadi perkelahian dan melakukan kekerasan.

Dalam menangani kasus perselingkuhan, PancaIndera memberikan masukan pada klien untuk berdamai karena menyangkut anak mereka yang masih memerlukan kasih sayang.

Walaupun sebagai penyelidik swasta yang hanya dilakukan pribadi, PancaIndera tidak menutup kemungkinan melibatkan orang lain, dan itu tidak jauh darinya yaitu istrinya sendiri.

Profesi ini kerap dijalani istrinya untuk membantu Seno. Wanita lebih teliti dalam melakukan investigasi. Kata Seno di Amerika maupun negara lain, banyak ibu rumah tangga berprofesi sebagai investigator pribadi.  

Komputer Forensik

Sebagai lulusan perguruan tinggi yang mengambil jurusan teknologi informasi, ia memiliki kemampuan komputer forensik. Seno harus melakukan analisis penyelidikan secara sistematis dan menemukan bukti pada suatu sistem digital yang nantinya dapat digunakan dan diterima di depan pengadilan, otentik, akurat, komplit, dan diterima di depan masyarakat.

Hal ini dilakukan Seno untuk membuktikan tindakan kejahatan. Maka PancaIndera tidak hanya menjadi investigator di dunia nyata dalam arti menghadapi seseorang tapi juga di dunia maya atau cyber.

“Seorang hacker telah berhasil masuk ke sistem komputer atau mengubah data, baik itu menyalin, menghapus, menambah data baru dan susah untuk dibuktikan. Dengan metode komputer forensik dapat melakukan analisis seperti layaknya kejadian olah TKP,” ungkapnya.

Apa saja yang digunakan PancaIndera untuk melakukan investigasi cyber? Yang pasti, tidak seperti pasukan khusus atau penjinak bom, tapi peralatan yang berhubungan dengan hardware dan software tertentu yang mengerti dan menguasai pemrograman windows dan linux.

Menurut pria yang pernah menjalani pendidikan di Universitas Budi Luhur ini, dalam melakukan investigasi sebuah komputer yang telah berhasil disusupi, terkadang memakan waktu lebih lama daripada aksi penyusupan itu sendiri.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah usaha hacking untuk mengambil alih sebuah sistem membutuhkan waktu sekitar dua jam, maka proses investigasi peristiwa yang terjadi dapat membutuhkan waktu 40 jam.

PancaIndera dalam menangani kasus penyusupan sistem komputer akan mengumpulkan barang bukti. Informasi sebuah penyusupan umumnya terdapat pada hard disk dari sistem.

Pengumpulan bukti dilakukan dengan membuat digital image, salah satu caranya dengan melakukan penggandaan seluruh isi hard disk lain dari sistem yang disusupi untuk menjaga keaslian informasi selama proses investigasi.

DNA Fingerprint

Penyelidik swasta yang berdiri sejak 1997 ini mempunyai kemampuan DNA fingerprint. Di Indonesia, DNA fingerprint mencuat namanya sebagai cara identifikasi kejahatan dan korban yang telah hancur setelah terjadi peristiwa peledakan bom.

Pengunaan informasi DNA fingerprint di Indonesia boleh dibilang masih sangat baru, sedangkan di negara-negara maju hal ini telah biasa dilakukan.

Penemuan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) menyebabkan perubahan yang cukup revolusioner di berbagai bidang. Hasil aplikasi dari tehnik PCR ini disebut dengan DNA fingerprint yang merupakan gambaran pola potongan DNA dari setiap individu.

Karena setiap individu mempunyai DNA fingerprint yang berbeda maka dalam kasus forensik, informasi ini bisa digunakan sebagai bukti kuat kejahatan di pengadilan.

Pria yang mempunyai pengalaman kursus investigator di berbagai negara itu mengungkapkan, DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah DNA mitokondria dan DNA inti sel.

DNA yang paling akurat untuk tes adalah DNA inti sel, karena inti sel tidak bisa berubah. Sedangkan DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu, yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya.

Dalam kasus-kasus kriminal, penggunaan kedua tes DNA di atas, bergantung pada barang bukti apa yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Seperti jika ditemukan puntung rokok, maka yang diperiksa adalah DNA inti sel yang terdapat dalam epitel bibir karena ketika rokok dihisap dalam mulut, epitel dalam bibir ada yang tertinggal di puntung rokok.

Tidak sedikit klien PancaIndera yang berhubungan masalah kejahatan ekonomi. Maka, untuk penyelesaiannya menggunakan pendekatan akuntasi forensik.

Saat ditemui INTELIJEN di pusat perbelanjaan terbesar di Depok, Seno mengatakan perbedaaan utama akuntansi forensik dengan akuntansi maupun audit konvensional lebih terletak pada mindset (kerangka pikir).

Akuntasi forensik lebih menekankan pada keanehan (exceptions, oddities, irregularities) dan pola tindakan (pattern of conduct) daripada kesalahan (errors) dan keteledoran (ommisions) seperti pada audit umum.

“Prosedur utama dalam akuntansi forensik menekankan pada analytical review dan teknik wawancara mendalam (in depth interview) walaupun seringkali masih juga
menggunakan teknik audit umum seperti pengecekan fisik, rekonsiliasi, konfirmasi dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Kata Seno, akuntansi forensik biasanya fokus pada area-area tertentu (misalnya penjualan, atau pengeluaran tertentu) yang ditengarai telah terjadi tindak kecurangan, baik dari laporan pihak dalam atau orang ketiga atau, petunjuk terjadinya kecurangan. (repro INTELIJEN)

Share Button