March 27, 2019

Pakar Komunikasi: Intervensi Negara ke Pers Sudah Mewabah Seperti Penyakit Sampar

Reuni 212 (merdeka)


intelijen – Saat ini, intervensi negara ke media massa atau pers sudah mewabah seperti penyakit sampar. Media sudah terjangkini sampar, penyakit menular yang terjadi pada hewan dan manusia. Media massa yang sehat adalah media yang terhindar dari intervensi negara.

Penegasan itu disampaikan pakar komunikasi dari UIN Syarief Hidayatullah, Edy Effendi melalui akun Twitter @eae18. “Media atau pers yang sehat, jika terhindar dari intervensi negara. Saat ini, intervensi negara ke pers sudah mewabah, seperti penyakit sampar. Sampar, La Peste, ini novel Albert Camus, penyakit menular yang terjadi pada hewan dan manusia. Media sudah terjangkiti sampar,” tulis @eae18.

Ironisnya, menurut Edy, gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan media tidak sistematis. Sementara sosial media, sebagai media individual, baik radius ataupun getarannya terbatas.

“Kita hanya bisa teriak, media tak adil. Tak fair. Tapi kita tak mampu berbuat melawan ketidakadilan media. Perlawanan yang dilakukan secara individual melalui medsos, sangat terbatas radiusnya. Vibrasi medsos terbatas. Gerakan perlawanan terhadap mafia media, tak sistematik,” tegas @eae18.

Di sisi lain, jika dikaitkan dengan politik utamanya Pilpres 2019, menurut Edy pihak oposisi tidak mampu melakukan perlawanan terhadap “mafia media”. “Sayang sekali, pihak oposisi tak mampu melakukan perlawanan terhadap mafia media yang sudah terjangkiti penyakit sampar ini. Waktu sudah tak lama lagi. Gerakan sel harus diaktifkan. Masuk ke rimba hutan belantara pedesaan secara intens jika April 2019, ingin meraih kemenangan,” tulis @eae18.

Soal netralitas media massa, calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto, menyoal menyoal sikap media massa yang tak memberitakan Reuni Akbar 212 di Monumen Nasional (Monas). Secara khusus Prabowo juga menyoroti jumlah massa Reuni 212 yang dirilis media massa.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan, menilai, protes Prabowo sah-sah saja serta dapat dianggap sebagai kritik terhadap media massa dan wartawan. Asalkan, protes Prabowo tak sampai menganjurkan pendukungnya untuk melakukan kekerasan terhadap media dan wartawan.

Terkait perdebatan jumlah massa Reuni 212, Manan menyerahkan hal itu pada penilaian publik. Publik akan menilai mana yang lebih dapat dipercaya antara klaim Prabowo dan pemberitaan media. “Biar publik saja yang menilai apakah klaim Prabowo yang lebih benar, atau justru reportase media yang lebih akurat,” kata Manan seperti dikutip tempo (5/12).

Share Button

Related Posts