October 21, 2018

Pagar Nusa, Pagari Kyai dan NKRI

Pagar Nusa (istimewa)


Pagar Nusa (istimewa)

Pagar Nusa, adalah perguruan silat milik NU yang terkenal dengan ilmu kanuragan. Hal ini dibuktikan sewaktu muktamar ke-31 NU pada 2004 di Asrama Haji Donohudan Solo. Anggota Pagar Nusa melakukan atraksi saling bacok, saling melukai dan saling pukul.

Namun ajaib, tidak seorang pun dari peserta terluka atau sekedar memar.  Adalah KH Ali Pono, tokoh yang telah memberikan asma’ atau “pengisian” bagi anggota Pagar Nusa. Menurut Kyai Ali Pono, memiliki kemampuan kanuragan seperti itu asal tidak melakukan molimo.   

Molimo yang dia maksud adalah main, madat, minum, maling, madon. Bila salah seorang anggota yang telah diberi bekal itu pada kemudian hari melanggar pantangan itu, otomatis kemampuan tersebut akan hilang.

Kemampuan yang dimiliki ini untuk mengawal para kyai. Pasalnya tidak sedikit yang tidak suka dengan para kyai, seperti kasus dukun santet yang terjadi di Jawa Timur pada 1997.

Selain itu, Pagar Nusa terpanggil untuk mempertahankan bumi pertiwi dari setiap jengkal tanah air yang akan direbut penjajah asing. Pada Pertengahan Maret 2005, misalnya, Malaysia melakukan klaim terhadap Blok Ambalat.

Melihat situsi ini, Pagar Nusa telah menyiapkan 30 ribu pesilat terlatih dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk dikirimkan ke kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Persiapan ini bukan asal bicara. Hal ini dibuktikan adanya ribuan pesilat Pagar Nusa melakukan latihan di Bukit Ponpes Watugede Cabang Ponpes Lirboyo, kawasan Pegunungan Klotok Dusun Tumpang Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.

Mereka berlatih kekebalan diri, di antaranya keterampilan memanjat anak tangga terbuat dari susunan senjata tajam, kekebalan diri dari sabetan pedang, teknik mempertahankan diri dari serangan musuh dalam jumlah besar dan bertarung satu lawan satu.

Sebelum melakukan penggemblengan fisik di Bukit Watugede, ratusan pesilat dari tiga daerah tersebut terlebih dulu melakukan istighotsah di makam KH Maksum Djauhari (Gus Maksum) salah satu pendiri Pagar Nusa, di dalam kompleks makam keluarga Ponpes Lirboyo.

Jiwa patriotisme dan nasionalisme sudah tertanam di benak anggota Pagar Nusa sehingga kesiapan mereka untuk dikirim ke kawasan perbatasan tidak perlu diragukan lagi.

Mereka menganggap lari dari tanggung jawab dalam upaya mempertahankan NKRI merupakan dosa besar.

Organisasi

Nama lengkap organisasi ini adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama  Pagar Nusa disingkat IPSNU Pagar Nusa. Sedangkan Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa.

IPSNU Pagar Nusa adalah satu-satunya wadah yang sah bagi organisasi pancak silat di lingkungan NU, berdasarkan keputusan Muktamar. Organisasi ini berstatus lembaga milik NU  yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga-lembaga NU lainnya.

Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan Pagar Nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU. Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segenap aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain – lain merupakan bidang garapan bagi lembaga ini.

Pagar Nusa berakidah ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan asas organisasi Pancasila. Pagar Nusa mengusahakan berlakunya Ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah-tengah kehidupan negara kesatuan Republik Indonesia yang berpancasila.

Simbol  Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan Laa Ghaaliba Illa Billah yang melingkupi bola dunia di dalam kurva segi lima dengan beberapa atribut dan perincian sebagai berikut :

Kurva segi lima merupakan simbolisasi dari Syariat Islam yang mempunyai lima rukun dan merupakan simbolisasi pada adanya rasa kecintaan kepada bangsa dan negara yang berpancasila.

Tiga garis tepi yang sejajar dengan garis kurva merupakan lambang dari tiga pola utama yang berjalan bersama dalam cara hidup warga NU yaitu Iman, Islam, Ihsan sebagaimana Hadits Nabi SAW ketika ditanya oleh Malakat Jibril.

Bintang sudut lima sebanyak sembilan buah dengan pola melingkar di atas bola bumi dan pada bagian paling atas bintangnya tampak lebih besar ini merupakan ekspresi dari pola kepemimpinan wali songo dan juga idealisasi dari suatu cita-cita yang bersifat maksimal, karena selain bintang merupakan simbol kemuliaan juga jumlah sembilan merupakan angka tertinggi.

Ini sesuai dengan mimpi Nabi Yusuf tentang bintang sebagai isyarat akan mencapai kemuliaan.

Gambar  trisula terletak di tengah bola dunia bagian atas tepat dibawah bintang terbesar merupakan manifestasi kenyataan historis bahwa senjata jenis inilah yang tertua dan lebih luas penyebarannya di bumi nusantara.

Sebagai kelompok beladiri pencak silat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Pagar Nusa memasukkan simbol tersebut supaya tidak tercerabut dari identitas persatuan beladiri asli Indonesia.

Legenda

Nama KH Maksum Djauhari atau Gus Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan. Namanya, selalu dikaitkan dengan Pagar Nusa  yaitu ikatan pencak silat Nahdlatul ulama yang dididirikan pada tanggal 3 Januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo. Oleh para kyai NU, Gus Maksum didaulat sebagai ketuanya.

Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944. Ia, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil Gus Maksum belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro.

Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro pada 1957, lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (kesaktian).

Sebagai seorang kyai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jenggot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak.

Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum.

Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.

Di kalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong, mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya.

Di setiap medan laga  tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan.

Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.

Sebagai jenderal utama Pagar Nusa, Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi.

Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI, Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri.

Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. (repro INTELIJEN)

Share Button