October 21, 2018

Operasi Intelijen Awal 2011, Picu Terpuruknya Partai Demokrat (Bagian 2)



Foto: Logo Partai Demokrat (istimewa)

INTEIJEN.co.id – Melihat kasus yang pernah muncul sebelumnya, yakni kasus Cicak vs Buaya, pada waktu itu, petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ‘dikerjai’ aparat kepolisian. Bahkan Kepala Bagian Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri saat itu, Susno Duadji mengetahui betul bahwa dirinya sedang disadap, sehingga melakukan upaya kontra intelijen.

Semua penduduk di negeri ini, pada akhirnya mengetahui bagaimana kasus itu berujung dan polemik berkepanjangan yang mengikutinya. Tapi yang pasti, dari kasus itu dapat diketahui, bocornya informasi bahwa KPK sedang melakukan penyadapan adalah sebuah keniscayaan dan sudah pernah terjadi sebelumnya. Hal yang sama juga bisa terulang di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Munculnya fakta-fakta pada tulisan di bagian 1 dan munculnya keniscayaan terkait bocornya informasi bahwa KPK sedang melakukan penyadapan, telah memunculkan banyak pertanyaan menggelitik. Siapa sesungguhnya pembocor informasi itu, lalu apa motifnya dan untuk siapa ia bekerja?

Memang tak mudah menjawab pertanyaan itu, namun bila melihat ekses yang ditimbulkan dari kasus Kemenpora terhadap Partai Demokrat (PD) dan orang-orang yang disebutkan terkait dengan kasus tersebut, maka bisa dipastikan bahwa operasi intelijen ini sesungguhnya telah dirancang sangat matang dan sangat profesional.

Walaupun sumber informasi yang disebutkan pada tulisan bagian 1 tidak menyatakan secara detil, siapa aktor-aktor yang ‘bermain’ di awal terkait kasus ini, ia menyebutkan bahwa informasi KPK sedang menyadap Kemenpora disampaikan orang dalam PD sendiri. Keterangan ini jelas sangat menarik, tapi sayang saat itu, keterangan tersebut tak bisa ditelusuri lebih jauh lagi.

Sumber itu juga tak mengetahui, bagaimana si informan pembocor tersebut bisa mendapatkan informasinya bahwa KPK sedang melakukan penyadapan kepada Kemenpora. Namun, ia memberi sinyalemen bahwa kasus ini merupakan ‘permainan’ tingkat tinggi.

Ketika ditanyakan kepada sumber itu, tentang kemungkinan Presiden SBY mengetahui skenario tersebut, ia mengernyitkan dahi dan membuka dua telapak tangannya, memberi isyarat bahwa ia tak tahu-menahu terkait itu. Akibatnya, rasa penasaran semakin tak terbendung lagi untuk menyelami kasus ini lebih dalam.

Lalu keterangan terbatas dari sumber tersebut menjadi lebih menarik, ketika kemudian diketahui siapa sesungguhnya jati diri dari si informan pembocor itu. Ia diketahui sebagai simpatisan PD yang bergabung pada 2007. Penulusuran lanjutan juga menunjukkan, ia tampak segaris dengan tokoh-tokoh PD di luar garis Anas Cs.

Kini muncul pertanyaan, apakah si informan pembocor itu melaksanakan aksinya, sesungguhnya dengan maksud demi menyelamatkan semua kader PD yang terlibat bisnis di Kemenpora? Atau justru ia melakukan itu semua, hanya untuk ‘menyingkirkan’ beberapa kader PD lewat bisnis yang ‘bermasalah’ di Kemenpora? INTELIJEN

 

Share Button