May 25, 2018

Operasi CIA Tumpas Komunis Honduras: Kolaborasi Reagan dan Alvarez (3)

Jenderal Gustavo Alvarez Martinez dan Ronald Reagen, 1982 (Istimewa)


Jenderal Gustavo Alvarez Martinez dan Ronald Reagen, 1982 (Istimewa)

INTELIJEN.co.id – Kebijakan Jenderal Alvarez membentuk Battalion 3-16 dilakukan atas bantuan AS. Dalam perkembangannya, unit ini mendapat sorotan dunia internasional terkait pelanggaran HAM.  

Sebelumnya, telah diuraikan berbagai sepak terjang brutal Battalion 3-16, unit khusus antikomunis Honduras yang disokong sepenuhnya oleh CIA. Program antikomunis AS di Amerika Latin justru membuat banyak korban yang belum tentu komunis, berjatuhan. Diperkirakan, operasi CIA tersebut juga dimanfaatkan penguasa Honduras saat itu, Jenderal Gustavo Alvarez Martinez, untuk menghabisi lawan-lawan politiknya. Kolaborasi Reagen dan Alvares.

Siapakan Jenderal Alvarez? Pada tahun 1982, dalam usia sangat muda, yaitu 44 tahun, Alvarez menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Honduras. Bintangnya mencorong terutama karena pemerintah AS mendukung pencalonannya sebagai panglima, sama seperti di negara berkembang lain yang militernya dibantu AS.

Washington memilih dia karena ia dianggap figur ideal untuk melaksanakan misi AS melawan komunis di Amerika Tengah. Menurut Donald Winter, kepala stasiun CIA di Tegucigalpa, Ibukota Honduras, dari 1982 sampai 1984, Alvarez seorang yang mempunyai rasa kebangsaan tinggi, dinamis, tegas dan tidak kenal kompromi.  

Ayah Alvarez berprofesi sebagai kepala sekolah di sebuah sekolah menengah atas. Waktu kecil, Alvarez gagap kalau berbicara. Maka ayahnya sering menyuruh dia menghapalkan puisi untuk mengatasi kegagapannya.

Namun, Alvarez lebih suka  membaca sejarah militer. Dia sangat mengagumi militer Jerman dalam Perang Dunia II. Tokoh idolanya adalah Marsekal Erwin Rommel. Bahkan salah satu anak lelakinya diberi nama Erwin, sementara seorang lagi diberi nama Manfred, sama seperti anak Rommel.

Dari awal, Jenderal Alvarez tak menyembunyikan pandangannya bahwa kegiatan subversif harus dihadapi dengan cara teror dan kekerasan. Saat ia menjabat Komandan Kepolisian Honduras yang dikenal dengan sebutan Fuerza de Seguridad Publica (FUSEP), ia sudah membentuk unit intelijen yang menjadi embrio Battalion 316.

Pada 6 Februari 1981, saat merangkap jabatan sebagai Komandan FUSEP sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Honduras, Alvarez mengatakan pada Dubes Jack Robert Binns dari AS bahwa adminstrasi FUSEP meniru militer Argentina. Demikian juga taktik yang digunakan menangani pemberontakan sama dengan militer Argentian.

Pernyataan Alvarez ini membuat Binns terkejut. Dalam telegram yang ia kirimkan ke Washington, Binns menyampaikan pernyataan Alvarez bahwa demokrasi ala Barat terlalu lunak dan prosedural dalam menghadapi subversi komunis.

Alvarez juga menganggap bahwa cara kekerasan dan teror ala Argentina lebih efektif untuk membungkan pembangkang komunis. Satu hal yang didiamkan AS karena menguntungkan bagi kebijakan politik luar negerinya di era Perang Dingin.

Didukung Washington

Empat bulan kemudian, Binns mempelajari teror berupa kekerasan, penculikan dan penghilangan orang yang terjadi di Honduras. Salah satunya kasus yang menimpa Tomas Nativi, 33 tahun, seorang profesor di Universitas Honduras dianggap subversif.

Nativi diseret dari tempat tidurnya, pada 11 Juni 1981, oleh enam laki-laki berpakaian hitam dan bertopeng. Pada 1993, laporan pemerintah Honduras menganggap dia telah mati.

Binns menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah AS untuk menghentikan kekerasan militer di Honduras dengan ancaman menghentikan bantuan militer. Namun, sarannya tidak digubris pihak Washington yang justru mendukung kebrutalan Alvarez.

Terhadap pengabaikan ini, Binns berkomentar pahit, “Rekomendasi saya bukanlah hal yang ingin didengarkan oleh orang-orang di Washington.”

Pemerintah Reagan sendiri telah mengambil sikap yang jelas. Mereka menolak untuk  mengecam pelanggaran HAM oleh kelompok militer di Amerika Tengah, alasannya untuk membendung ancaman komunis.

Sebelumnya, pada era Presiden Carter, pendekatan yang dilaksanakan lebih lunak dan tak terlalu mendukung kebijakan jalan kekerasan. Makanya Carter mengkritik secara pedas kebijakan yang dilakukan Reagan karena menganggapnya sebagai kemerosotan moral.

Dalam strategi Reagan, Honduras merupakan negara yang menempati posisi strategis di antara Nicaragua dan El Savador. Penguasaan terhadap negeri itu akan sangat menguntungkan AS menghadapi ancaman negara-negara komunis di Amerika Tengah.

Maka AS merasa perlu menempatkan “orang kuat” yang mampu membawa Honduras di bawah pengaruh adikuasa itu. Dan yang terpilih untuk memimpin proyek ini adalah Jenderal Alvarez dengan kemampuan dan strategi yang dia terapkan.

“Alvarez adalah teman dekat Presiden Reagan,”kata Cresencio S Arcos, Juru bicara Kedutaan AS di Honduras era 1980-1985 dan Dubes AS untuk Honduras era 1989-1993.

Ketika bintang Jenderal Alvarez bersinar, Presiden Reagan pun memanfaatkan kekuatannya untuk melawan komunis di Amerika Tengah. Pada 9 Maret 1981, dua bulan setelah Alvarez menjadi panglima, Reagan menandatangani Keputusan Presiden untuk memberikan  kewenangan bagi perluasan operasi rahasia di era Presiden Carter. Dengan keputusan ini, pihak AS memberikan segala bentuk latihan, peralatan dan bantuan untuk mendukung penumpasan ancaman komunis di Amerika Tengah.

Pada 1 Desember 1981, Reagan memerintahkan CIA untuk bekerja sama dengan Kelompok Kontra yang melawan Rejim Sandinista di Nicaragua dan pemberontak sayap kiri El Salvador.

Selain itu, kondisi di Honduras juga menjadi perhatian yang utama. Akhir 1981 Presiden Reagan mengganti Duta Besar Binns dengan John Dimitri Negroponte yang kelak akan menjadi tokoh terpenting dalam intelijen AS. Pergantian ini menunjukkan kebijakan  presiden untuk menghadapi komunis di Amerika Latin dengan cara keras.

AS memperluas kerjasama dengan Honduras dan Jenderal Alvarez. Bantuan militer AS untuk Honduras dinaikkan dari 3,9 juta dollar AS pada tahun 1980 menjadi 77,4 juta dollar pada tahun 1984.

Honduras pun berkembang sebagai negara kecil yang dilengkapi peralatan perang canggih dan personil militer yang terlatih. Meski negara merdeka, Honduras tak lebih seperti salah satu kapal perang dalam armada peang AS.

Namun, kebijakan Pemerintah AS menggelontorkan uang ke Honduras untuk membiayai operasi brutal Alvarez membuat pelanggaran HAM di Honduras mencapai puncaknya. (repro INTELIJEN, bersambung)

Share Button