May 24, 2018

Operasi CIA Tumpas Komunis Honduras: Kesaksian Para Korban (5)

Komisi HAM Honduras (hondurashumanrights.wordpress.com)


Komisi HAM Honduras (hondurashumanrights.wordpress.com)

INTELIJEN.co.id – Meski banyak kecaman ditujukan kepada mendiang suaminya yang dibunuh secara misterius, janda Alvarez, Lilia Alvarez melakukan pembelaan atas perbuatan suami tercintanya.  

Lilia mengetahui masyarakat mengecam sepak terjang suaminya. Terutama tindakan penahanan dan hukuman mati secara tidak sah yang dialami banyak rakyat Honduras.

Terhadap fenomena pelanggaran HAM ini, Lilia Alvarez beralasan bahwa tindakan suaminya merupakan upaya menyelamatkan nyawa banyak orang dengan mencegah perang saudara. Namun, haruskah dengan menculik orang-orang yang tidak sejalan dengan Alvarez?

Terhadap raibnya warga Honduras, pihak pemerintah telah melakukan beberapa langkah maju. Mereka melancarkan upaya mencari kebenaran mengenai hilangnya beberapa orang pada tahun 1980-an.   

Dalam laporan tahun 1993, fakta akhirnya berbicara, pemerintah Honduras mengumumkan daftar setiap orang yang hilang.  Pemerintah juga mengakui bahwa mereka tidak melindungi warganegaranya dari penindasan yang dilakukan  pihak militer.

Menurut laporan Komisi Nasional untuk Perlindungan HAM Honduras, hukuman mati dengan putusan pengadilan khusus, penahanan dan tidak adanya hak dalam menjalani proses penahanan menunjukkan hal yang tidak bisa ditoleransi.

Setahun setelah Carlos Roberto Reina menjadi Presiden Honduras pada 1994, ia mengambil langkah untuk mengusut siapa yang paling bertanggungjawab terhadap banyaknya warga Honduras yang hilang.

Menurut seorang jaksa Honduras, Edmundo Orellana, orang-orang yang mengalami peristiwa tragis di Honduras tentu tidak mengharapkan hal itu terjadi lagi. Maka kata Edmundo, “Pengusutan ini dilakukan untuk membangun masyarakat.”

Satu dari banyak perkembangan terpenting dalam tugas ini adalah penemuan hilangnya tubuh pengacara Nelson Mackay yang dilaporkan hilang. Dengan dikenalinya tubuh korban, investigasi pembunuhan dapat dijalankan.

Investigasi

Kasus ini dibantu oleh kesediaan Miquel Carias untuk bekerjasama dan memberikan kesaksian. Dalam wawancara, Carias menggambarkan pertemuan terakhirnya dengan Mackay.

Mereka dikurung bersama dalam rumah yang berdinding batu bata yang berada pinggiran utara Kota Tegucigalpa. Rumah tersebut digunakan Battalion 3-16 sebagai penjara rahasia.

Mackay diletakkan di kamar mandi, tangan dan kakinya diikat dengan tali sedangkan Carias terkunci di toilet. Saat itulah ia mendengar Mackay berdoa.

Lebih dari satu dekade setelah hukuman mati terhadap Mackay dan korban lainnya, pihak militer Honduras masih merintangi upaya pemeriksaan tindakan kriminal Battalion 3-16.

Pemeriksaan Carias dilakukan dengan penjagaan ketat dan perlindungan patroli di luar. Hal ini harus dilakukan karena dua  saksi lain dibunuh sebelum penyelidikan dimulai.

Anggota Komisi HAM Honduras, Leo Valladares, juga menerima banyak ancaman. Bahkan pada bulan April 1994 dia bersama tiga anaknya terpaksa meninggalkan Honduras.

Valladares memutuskan segera keluar dari Honduaras setelah satu pengawalnya ditembak orang saat berada di bus. Tidak ada ancaman lagi, yang ada hanya pembunuhan.

Meskipun intimidasi semacam ini banyak terjadi, para sanak keluarga korban yang hilang memutuskan untuk maju terus. Mereka berunjuk rasa di depan Kongres Honduras, di pusat ibukota Tegucigalpa, dan menuntut penyelidikan atas keluarga mereka yang hilang.

Di antara mereka terdapat Fidelina Borjas Perez, 66 tahun. Ia mencari anak laki-lakinya bernama Samuel yang hilang sejak Januari 1982. Samuel hilang ketika berada di bis dalam  perjalanan pulang dari Nicaragua.

“Saya berharap suatu hari Tuhan menemukan anakku. Walaupun hanya bentuk mayat,“ kata Fidelina Borjas.

Tidak satupun dari mereka yang percaya bahwa saudaranya yang hilang masih hidup. Tetapi mereka ingin tahu bagaimana saudaranya meninggal dan siapa yang bertanggungjawab.

“Kami tidak pernah berhenti mencari,“ kata Maria Conception Gomez. Ia kehilangan suaminya, seorang pemimpin serikat buruh, pada Agustus 1982.

“Kami tidak pernah lelah. Jika militer Honduras berharap kita lupa atau membiarkan mereka, mereka salah sangka.” (repro INTELIJEN, bersambung)

Share Button