August 20, 2018

Operasi CIA Tumpas Komunis Honduras: Kesaksian Para Korban (6)

Rafael Leonardo Callejas, Pada Masa Pemerintahannya Diumumkan Keberadaan Warga Honduras yang hilang oleh Aksi battalion 3-16 (Istimewa)


Rafael Leonardo Callejas, Pada Masa Pemerintahannya Diumumkan Keberadaan Warga Honduras yang hilang oleh Aksi battalion 3-16 (Istimewa)

INTELIJEN.co.id – Beberapa minggu setelah suaminya menghilang, Amelia, janda Nelson Mackay, meminta upaya mencari suaminya dihentikan. Hal ini karena ada ancaman telepon yang ditujukan pada anaknya.

Amelia bekerja keras mencari nafkah buat sekolah anak-anaknya. Setiap hari dia bekerja sebagai staf administrasi di Kementerian Luar Negeri Honduras. Sementara di malam hari ia membuat kue untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.  

Dia menyimpan di bawah tempat tidurnya sebuah kotak berisi dokumen-dokumen lama suaminya. Antara lain kartu pengenal yang berisi detil suaminya seperti tinggi dan berat badan, juga fotonya memakai pakaian merah dan biru yang dipakai waktu menghilang.

“Saya tidak tidur di malam hari, saya berjalan mengelilingi rumah dalam gelap, siapa tahu dia pulang. Mungkin dia akan muncul,“ kenangnya.

Menurut pengakuan para mantan penyiksa yang berada di pengasingan, CIA melatih mereka di Honduras. Selain itu mereka menggambarkan cara kematian para korban penyiksaan.

Jose Barrera meneguk sloki ganda minuman Sambuca sebelum dia mulai menceritakan mengenai masa lalunya sebagai penyiksa dan pembunuh di Honduras.

Dia mengingat bagaimana dia hampir membuat tawanannya kehabisan napas dengan topeng karet. Ia juga pernah menjepit alat kelamin mereka dengan kawat dan menyetrumnya dengan listrik. Pernah juga dia mencopt buah pelir seorang tawanan dengan tali.

“Kami membiarkan mereka menduduki kotorannya sendiri, “kata Barrera. “Ketika sudah sangat lemah, baru kami habisi.”  

Gambaran itu seperti memutar ulang pertunjukan Barrera dan para anggota Battalion 3-16 lainnya pada tahun 1980-an. Pada waktu itu, Honduras sangat  penting bagi pemerintah AS untuk memerangi komunis di Amerika Tengah.

Maka CIA pun melatih unit militer ini untuk menakuti-nakuti rakyat Honduras. Batalyon  ini tak hanya dilatih untuk mengumpulkan informasi, melainkan juga mengawasi, menculik, menyiksa dan membunuh ratusan warga Honduras yang dicurigai sebagai pemberontak dan simpatisan komunis.  

Paling sedikit 184 korban batalyon ini yaitu hilang dan diperkirakan mati. Mereka disebut dalam bahasa Spanyol “desaparecidos” yang artinya dihilangkan.            

Dalam beberapa wawancara selama dua minggu di Toronto, tempat mereka hidup di pengasingan, Barrera dan mantan anggota Battalion 3-16 lainnya -Florencio Caballero dan Jose Valle- menceritakan pada koran The Sun bagaimana unit ini menjalankan operasinya.

Mereka semua mengaku dilatih oleh instruktur dari CIA dan Argentina. Beberapa latihan diadakan di Markas Angkatan Darat di Lepaterique, sebuah kota yang berada 16 mil sebelah barat ibu kota Tegucigalpa. Kursus lainnya diadakan di markas milik AS yang lokasi sangat rahasia.

Dalam wawancara terpisah, mereka menggambarkan proses kursus yang sama. Agen-agen CIA mengajarkan mereka taktik antigerilya, bagaimana menguntit tersangka, menggunakan kamera tersembunyi dan menyadap telepon serta bagaimana menginterogasi tahanan.    

Adanya pelatihan Battalion 3-16 oleh CIA diperkuat pada 1988 oleh Richard Stolz. Ia adalah Wakil Direktur Operasi CIA yang memberikan kesaksian secara tertutup di depan panitia seleksi pejabat intelijen Senat AS.

Stolz dan para mantan anggota Battalion 3-16 mengatakan bahwa penyiksaan didalangi oleh instruktur CIA. Penyiksaan ini disebut Stolz sebagai “ekploitasi sumberdaya manusia” atau “kursus interogasi.”

Para mantan anggota Battaion 3-16 mengatakan bahwa CIA tahu mereka menyiksa tawanan. “Ketika pejabat CIA mengunjungi salah satu penjara rahasia Battalion 3-16, dia melihat fakta adanya penyiksaan dan tidak protes.”

“Warga AS mengetahui apa yang kita lakukan, “kata Caballero. Mereka melihat kondisi korban-korban yang berada di Honduras namun tidak melakukan sesuatu.

Menurut anggota Battalion 3-16 nama lengkap para instruktur CIA tidak diketahui oleh anak didiknya dari Honduras. Pelatih Kepala CIA dikenal sebagai “Mr Bill”.

Stolz mengatakan kepada komisi intelijen Senat bahwa “Mr Bill” adalah pelatih CIA di Honduras dan dia terbunuh pada April 1983, ketika bom meledak di Kedutaan AS di Beirut, Lebanon. Menurut laporan, ia mantan anggota pasukan khusus AS

Caballero, Barreta dan Valle mengatakan, kalaupun instruktur CIA menghalang-halangi penyiksaan, komandan mereka dari Honduras meminta melakukan hal tersebut. Dan hukuman jika tidak mematuhi atau berusaha meninggalkan unit ini adalah mati.      

“Dalam organisasi kami, banyak yang tidak setuju, tetapi mereka tidak dapat keluar,” kata Caballero. “Jika kita meninggalkan batalyon, kita akan mati.”

Dalam pengakuan para warga Honduras ini, mereka melarikan diri ke Kanada dengan bantuan kelompok HAM. Mereka melaporkan apa yang terjadi dan dikuatkan dengan wawancara para korban yang selamat.

Hal ini mendapat perhatian dari pengadilan, kelompok HAM, Amnesti Internasional dan Amerika Watch. Akhirnya, pada 1993, Pemerintah Honduras mengumumkan keberadaan warganya yang hilang. (repro INTELIJEN, bagian 6)

Share Button