October 21, 2018

Operasi CIA Tumpas Komunis Honduras: Bantuan untuk Battalion 3-16 (2)

Pelatihan Militer Honduras oleh AS, Ilustrasi (wn.com)


Pelatihan Militer Honduras oleh AS, Ilustrasi (wn.com)

INTELIJEN.co.id – Apa saja bentuk bantuan CIA? Badan intelijen pusat AS itu memberikan peralatan, perlengkapan serta pelatihan bagi Battalion 316. Untuk menjalani pelatihan, para anggota Battalion 3-16 diterbangkan ke lokasi yang dirahasiakan di AS.

Di sana mereka menjalani pelatihan, terutama pengintaian dan interogasi. Setelah selesai, para anggota Battalion 316 menjalani pelatihan di pangkalan rahasia CIA di Honduras.

Pada awal 1981, secara rahasia AS membiayai para pakar kontragerilya dari Argentina untuk melatih pasukan antikomunis di Honduras.  Pada 1970-an Argentina terkenal dengan “perang kotor” yang membuat 10.000 orang meninggal atau tidak diketahui keberadaannya.

Para pelatih dari Argentina dan CIA melatih anggota Battalion 316 di Kamp Lepaterique, sebuah kota yang berada 16 mil Barat Tegucigalpa.   

“Para pelatih Argentina mengajarkan bagaimana menghilangkan orang dan pelatih AS menyempurnakan pasukan kami dengan membuat kami sangat tangkas, ”kata Oscar Alvarez, mantan perwira pasukan khusus Honduras.  

Pihak AS juga mengajari cara menyadap telepon, menyamar, menggunakan kamera rahasia dan juga mengajari teknik interograsi.

Jenderal Gustavo Alvarez Martinez, Panglima Angkatan Bersenjata Honduras memimpin langsung Battalion 316. Ia menerima dukungan kuat AS, padahal ia pernah mengatakan kepada Kedutaan AS bahwa dia akan menggunakan metode represif seperti Argentina untuk menumpas kelompok komunis.

Pada 1983, ketika penindasan Alvarez telah diketahui luas, Presiden Reagan justru menghadiahkan padanya bintang jasa Legion of Merit atas jasanya “mendukung proses demokrasi di Honduras.”

Hubungan Alvarez dengan dengan Donald Winter, Kepala Stasiun CIA di Honduras, juga  sangat dekat. Ketika Winter mengadopsi anak ia bahkan meminta Alvarez menjadi ayah baptis bagi anak itu.

Seorang pejabat CIA yang bertugas di Kedutaan AS diketahui sering mengunjungi penjara rahasia yang dikenal sebagai INDUMIL. Penjara ini menjadi tempat penyiksaan tawanan politik. Ia pernah mengunjungi korban penculikan bernama Ines Murillo.

Padahal penjara itu fasilitas Battalion 316 lainnya sangat tertutup. Para pejabat Honduras saja tidak boleh sembarangan masuk, termasuk para hakim yang sedang mencari keberadaan para korban penculikan.

Jumlah pasti korban yang dieksekusi Battalion 316 tidak diketahui. Namun sering ditemukan potongan tulang manusia tak dikenal di pelosok pedesaan, di antara sungai dan semak belukar.

Pada 1993, Pemerintah Honduras mengumumkan daftar 184 orang yang hilang dan diperkirakan mati. Mereka di sebut dalam bahasa Spanyol “desaparecidos,” yang artinya “lenyap.” Mackay adalah orang pertama dalam daftar yang berhasil ditemukan dan dikenali.

Penemuan tubuh korban yang dapat dikenali ini memungkinkan pihak kejaksaan untuk menyeret  pembunuhnya ke pengadilan.   

Kejadian di Honduras ini manjadi catatan bagi pemerhati HAM. Tetapi pihak pemerintah Honduras mengaburkannya dan berusaha mengalihkan perhatian pada masalah kelompok pemberontak komunis yang berusaha menguasai wilayah negeri.

Pada saat yang bersamaan, Pemerintah AS di bawah Presiden Reagan memang melancarkan perang melawan rejim Marxis di Nikaragua dan pemberontakan sayap kiri di El Salvador.

Honduras sebagai sekutu AS di Amerika Latin digunakan oleh Washington sebagai markas kelompok klandestin untuk melawan rejim Marxis. Salah satunya dengan membentuk Battalion 316 yang bertugas menjaga keamanan Honduras dari  pemberontakan sayap kiri.

Proyek rahasia ini diungkap antara lain oleh Jack Binns, mantan Duta Besar AS untuk Honduras dari September 1980 sampai Oktober 1981. Dubes era Presiden Carter ini mengatakan bahwa kebijakan AS di Honduras merupakan sebuah kesalahan fatal.

Lebih lanjut, kata Jack Binns, upaya AS membantu kelompok klandestin melawan rejim Nicaragua dilakukan dengan kebijakan yang tertutup dan tidak diketahui publik AS. Satu kesalahan fatal dalam sistem demokrasi.

Elliott Abrams, mantan Asisten Menlu AS untuk urusan Hak Asasi Manusia dan Kemanusian periode Desember 1981 sampai Juli 1985, dengan gigih membela kebijakan Reagan terkait Honduras.

Elliot Abrams mengatakan AS tidak pernah mempunyai kebijakan menghilangkan dan membunuh orang di Honduras. Pemerintah Reagan juga tidak pernah menutupi hal itu dari pandangan publik.

Abrams dan para pejabat kabinet Reagan mengatakan bahwa mereka melawan komunisme dan menganjurkan pemimpin militer di Amerika Tengah untuk mengurangi pelanggaran HAM. Hal berbeda dengan tuduhan pejabat era Carter yang menegaskan hal itu merupakan tipu daya kebijakan luar negeri AS. (repro INTELIJEN, bersambung)

Share Button