May 24, 2018

Operasi CIA Tumpas Komunis Hoduras: Nasib Akhir Sang Jenderal (4)

Jenderal Gustavo Alvarez Martinez (Istimewa)


Jenderal Gustavo Alvarez Martinez (Istimewa)

INTELIJEN.co.id – Kondisi HAM yang memprihatinkan di Honduras, baru mendapat sorotan setelah ada kesaksian dari Kolonel Leonidas Torres Arias. Perwira ini mulai “menyanyi” setelah dia dipecat dari jabatan sebagai Kepala Intelijen Angkatan Bersenjata Honduras.

Pada Agustus 1982, Kolonel Torres mengadakan konferensi pers di Mexico City dan membongkar informasi tentang operasi Battalion 3-16. Menurut Torres, unit ini berkembang menjadi pasukan pembunuh di Honduras di bawah kepemimpinan Alvarez. Lebih lanjut ia menyebutkan tiga korban keganasan Battalion 3-16 termasuk seorang pengacara, Nelson Mackay (lihat bagian sebelumnya).

Kedutaan AS di Tegucigalpa, ibukota Honduras, tak terhaindarkan menghadapi berbagai tuntutan dan laporan terkait para warga Honduras yang tewas atau hilang. Dukungan secara diam-diam intelijen mereka kepada aksi Alvarez mulai menjadi bumerang.

Belang AS pun tak bisa lagi disembunyikan. Mantan anggota Kongres Honduras, Efrain Diaz Arrivillaga, menyatakan di depan publik bahwa ia telah menyampaikan  pelanggaran HAM oleh militer kepada para pejabat AS di Honduras termasuk Dubes Negroponte.

Namun, menurut Diaz, Negroponte tak menanggapi dengan serius bahkan terkesan membiarkan.

“Bagi mereka lebih penting jika tanah Honduras bisa disewa untuk kepentingan militer AS daripada mengurus terbunuhnya rakyat yang tidak bersalah,” ujar Diaz.

Bumerang ini terus mengejar Negroponte sampai saat ia menjadi Duta Besar AS di Filipina. Banyak tuntutan muncul agar ia mundur karena keterlibatannya dalam pelanggaran HAM di Honduras.

Di Honduras sendiri, setiap hari surat kabar memuat berita utama mengenai kekerasan militer. Bahkan ada satu halaman khusus berisi gambar orang-orang yang hilang. Pada 1982, sedikitnya ada 318 kasus kekerasan yang dilakukan militer Honduras terekspos ke publik, beberapa bahkan menyebut langsung keterlibatan Alvarez.  

Sebuah surat kabar bernama El Tiempo bahkan mencantumkan judul utama “Jenderal Alvarez, demi kemanusiaan, tolong bebaskan anak-anak kami” pada edisi 30 April 1982.

Para anggota Kongres Honduras kemudian mengusulkan resolusi untuk menyelidiki kasus-kasus warga yang hilang. Sementara ratusan keluarga korban Battalion 3-16 berunjuk rasa di jalan-jalan Tegucigalpa menuntut pengembalian saudara-saudara mereka yang hilang.

Tetapi, pemerintah Honduras memutuskan untuk menghindari pertanyaan di Kongres. Sementara para pejabat AS di Honduras menyembunyikan fakta pelanggaran HAM.

“Tidak ada tahanan politik di Honduras, “tegas Departemen Luar Negeri AS dalam laporannya tentang kondisi HAM di Honduras pada 1983.

Kedutaan AS di Honduras mengetahui banyak penculikan terjadi atas pendukung sayap kiri. Mereka kemudian terlibat dalam pembebasan dua orang korban yang terkemuka. Kegiatan penculikan dan penyiksan yang dilakukan rezim militer Honduras menjadi tindakan yang memalukan di mata dunia internasional.

Namun, kebrutalan yang secara sengaja dilakukan militer Honduras tidak pernah muncul dalam laporan HAM. Hal itu karena laporan tersebut disiapkan oleh Kedutaan AS di bawah pengawasan secara langsung Duta Besar Negroponte.

Laporan pada Kongres AS diatur di bawah kendali Departemen Luar Negeri. Hal ini untuk menutupi kebusukan Pemerintah AS yang melarang memberikan bantuan militer pada pemerintah yang melanggar HAM.   

Nasib Akhir Sang Jenderal

Pada 1984, para pejabat Honduras mulai menyoroti sepak terjang Alvarez. Rejim militer ini telah menyeret negara melawan rakyatnya sendiri dengan kekerasan. Hal ini semakin terkuak saat Kolonel Eric Sanchez mengundurkan diri dari Angkatan Bersenjata Honduras.

Sanchez kemudian berbicara kepada media tentang Battalion 3-16. Menurut dia, Jenderal Alvarez telah memerintahkan untuk melawan komunis di mana saja dengan segala cara dan senjata meskipun hal itu tidak adil.

Jenderal Walter Lopez,  Wakil Presiden Honduras yang ketiga, dalam wawancara mengatakan bahwa Alvarez adalah seorang yang berbahaya.

“Dia mendorong negara untuk melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan. Kita mau tentara dilatih secara profesional, tetapi hanya untuk mempertahankan negara kita, bukan untuk menjalankan operasi ilegal, “ungkapnya  

Pada 31 Maret 1984, karir militer Alvarez tiba-tiba berakhir. Ia dituduh memanipulasi anggaran militer dan digulingkan dari jabatannya oleh para bawahannya sendiri. Seorang perwira bawahannya menodongkan senjata di kepala Alvarez dan memborgol sang jenderal. Dia kemudian dibawa dengan pesawat militer ke Kosta Rika.    

Alvarez, istri dan lima anaknya kemudian mengasingkan diri di Miami selama lima tahun. Dia bergabung dengan sebuah gereja Evangelis di Miami dan dengan penuh semangat aktif dalam misi agama seperti dia dulu aktif melawan komunis.    

Pada 1988, Alvarez ingin kembali ke Honduras untuk menjadi penginjil. Ia menolak perlindungan dari teman-temannya di militer. Dia menyampaikan ajaran injil di jalanan Honduras dengan percaya diri. Terhadap ancaman balas dendam para korbannya dulu ia berkata dengan yakin, “Injil akan melindungiku”

Naas akhirnya menghampiri Alvarez. Pada 25 Januari 1989, lima orang laki-laki  berpakaian biru dan bertopi lebar mengepung mobilnya dan memberondongkan tembakan. Sebelum dia meninggal karena tertembus 18 peluru, Alvarez bertanya, “Mengapa mereka melakukan ini padaku?”

Para penembak itu tidak pernah ditemukan, tetapi sebuah kelompok yang menamakan diri  Popular Liberation Movement mengaku melakukan pengadilan jalanan itu.Kelompok ini menyebut Alvarez sebagai seorang psikopat yang mencoba menghindari pengadilan di Honduras. Aktivitas Alvarez sebagai penginjil hanyalah upaya cuci tangan tanpa penyesalan atas dosa-dosanya. (repro INTELIJEN, bersambung)

Share Button