May 25, 2018

Operasi CIA di Cina: "Yellowbird", Demokratisasi yang Gagal (4)

Protes Tianamen, Cina (Foto: chinhviet.net)


Protes Tianamen, Cina (Foto: chinhviet.net)

INTELIJEN.co.id – Tragedi Tiananmen, 4 Juni 1989, merupakan puncak dari gerakan demokratisasi yang gagal di Cina. Protes-protes atas ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik, meluas menjadi gerakan demonstrasi yang besar oleh kelompok intelektual, mahasiswa dan buruh.

Hal itu berlangsung terutama setelah kematian Hu Yaobang, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina yang mengundurkan diri. Hu dipandang sebagai seorang yang berpikiran liberal dan dipaksa mengundurkan diri dari posisinya oleh Deng Xiaoping. Banyak orang, terutama kaum intelektual, menganggap ini sebagai sebuah perlakuan yang tidak adil.

Demonstrasi ribuan mahasiswa dan kelompok buruh, dihadapi dengan dengan kekuatan militer. Penggunaan kekuatan militer menjadi pilihan terakhir petinggi Partai Komunis Cina untuk menghentikan gelombang demokratisasi yang untuk pertama kalinya melanda Cina.

Korban pun berjatuhan terutama dari pihak demonstran dan masyarakat. Dari pihak militer juga tidak luput menjadi korban. Ada banyak versi mengenai jumlah korban meninggal dari Tragedi Tiananmen, diperkirakan 400-3000 orang.

Berkembangnya gerakan demokrasi di Cina, bukannya instan. Wacana pembaharuan berlangsung terutama sejak awal dasawarsa 1980-an. Beberapa isu penting yang diangkat oleh kelompok-kelompok pro-demokrasi menyangkut keterbelakangan ekonomi, korupsi, pelanggaran HAM dan kebebasan pers.

Pendukung gerakan adalah dari kalangan intelektual liberal, mahasiswa dan buruh. Mereka secara terbuka didanai oleh National Endowment for Democracy (NED) yang bertujuan untuk mengubah pemerintahan Cina. Sponsor penting lain adalah Human Right Watch untuk wilayah Asia.

Human Right Watch/Asia sendiri adalah cabang dari Helsinki Watch yang sebagian didanai oleh CIA. NED, Human Right dan organisasi lokal seperti Laogai yang dipimpin Harry Wu serta belasan organisasi lainnya, terus berkampanye soal pelanggaran HAM, kebebasan pers, dan soal korupsi di pemerintahan Cina.

Ketika gelombang demokratisasi berhasil digagalkan oleh penguasa komunis Cina, CIA berusaha sekuat tenaga untuk melakukan penyelamatan tokoh-tokoh penting pro-demokrasi. Presiden George Bush memerintahkan aksi rahasia untuk menyelamatkan pemimpin pro-demokrasi di Cina.

Operasi ini dikenal dengan sandi Yellowbird atau operasi “burung kuning”.  Pada tahap awal, CIA menyelundupkan mereka melalui kereta api bawah tanah ke luar Beijing. Mereka kemudian ditampung di Hongkong dan Makao.  Kedua wilayah ini menjadi tempat aman pelarian dan penyelamatan para pembangkang, sebutan pemerintah Cina untuk para pendukung demokrasi di negara itu.

Selama tujuh tahun terakhir sejak tragedi Tiananmen, operasi Yellowbird telah berhasil menyelamatkan sekitar 700 aktifis pro-demokrasi di Cina, termasuk tokoh penting Wuer Kaixi dan Li Lu. Tokoh terkemuka lainnya yang berhasil diamankan ke Barat adalah Runnan Lesu dan Yan Jaiqi.

Keberhasilan operasi Yellowbird, juga tidak terlepas dari peran Duta Besar Amerika Serikat di Beijing, Lilley.  Ia menyerahkan lebih dari 200 visa untuk cendekiawan, ilmuwan, dan mahasiswa dan beberapa kali meminjamkan uang Untuk pelarian.

Lilley juga berperan mengamankan astrofisikawan Cina Feng Lizhi. Tokoh ilmuwan penting Cina ini meminta perlindungan ke Kedutaan AS di Beijing karena merasa tidak lagi aman di negaranya.

Share Button