May 25, 2018

Operasi CIA di Cina: “Proxy”, Libatkan Turki di Xinjiang (3)



Enver Yusuf Turani,

INTELIJEN.co.id – Gerakan separatisme Xinjiang, masih menjadi persoalan laten di Cina. Dalam satu dasawarsa terakhir kerusuhan-kerusuhan terus meningkat. Yang terbesar, misalnya, terjadi Juli 2009 dengan korban tewas sampai 200 orang dan 800 orang lainnya mengalami luka.

Pemerintah Cina, mengaitkan kerusuhan-kerusuhan di daerah otonom khusus yang mayoritas penduduknya etnis Muslim Uighur itu dengan aksi terorisme. Kelompok yang dituduh melakukan kerusuhan adalah organisasi-organisasi perlawanan Uighur di luar negeri.

Amerika Serikat yang sejak tragedi Black September, memimpin perang global melawan terorisme, tidak serta merta mendukung sikap Cina, yang menyebut kerusuhan di Xinjiang sebagai aksi kelompok teroris. Walaupun dalam daftar kelompok teroris versi CIA maupun PBB, memasukkan “Gerakan Islam Turkistan Timur” di dalamnya.

Istilah Turkistan Timur selama ini digunakan oleh kelompok-kelompok perlawanan Uighur untuk menyebut negara independen yang mereka perjuangkan. Hanya saja, terkait dengan keberadaan organisasi teroris yang disebut CIA maupun PBB dari wilayah ini, yakni, Gerakan Islam Turkistan Timur” sebagian pengamat menyebutnya fiktif belaka.

Pemerintah Amerika Serikat, pada satu sisi sepertinya tidak ingin kehilangan muka dengan kebijakan global war of terrorism yang dipimpinnya. Tetapi pada sisi lain, tetap mengingatkan Beijing untuk tidak gegabah menyebut kelompok-kelompok perlawanan Uighur di luar negeri sebagai kelompok teror.

Sikap Washington tersebut, bisa jadi berkaitan dengan langkahnya selama ini dalam persoalan Xinjiang. Diawali pada masa Pemerintahan Jimmy Carter, Amerika Serikat mempraktekkan gagasan “Arc of Crisis” yang dibuat sekitar perbatasan selatan Uni Soviet.

Inti dari gagasan itu adalah memberdayakan radikal Muslim untuk memberontak melawan komunis. Operasi ini, selain yang paling terkenal, dilakukan di Afghanistan dengan membina kelompok mujahidin melawan pendudukan Uni Soviet, juga dilakukan di Xinjiang dengan memberi dukungan kelompok perlawanan Uighur melawan penguasa komunis Cina.

Saat ini, organisasi perlawanan Uighur dunia, yakni, Kongres Uighur Dunia, yang dipimpin Rebiya Kadeer, berbasis di Amerika Serikat dan tetap mendapat dukungan negara adidaya itu. Pemerintah Amerika Serikat selalu mengingatkan Cina untuk tidak menekan mengaitkan kelompok ini dengan isu terorisme. Bahkan sebaliknya mendesak Cina untuk menghormati perjuangan mereka untuk Xinjiang.

Belakangan, ketika Cina semakin menunjukkan kekuatan politik dan ekonominya, Washington tidak dapat lagi gegabah menjadikan kelompok radikal sebagai isu perlawanan. Washington membuat cara lain untuk tetap dapat mengontrol Xinjiang.

Washington kemudian menggunakan isu Xinjiang sebagai salah satu alat utama untuk melibatkan Turki. Negara ini dipandang efektif untuk menjadi “wakil” AS untuk mendapatkan kontrol langsung atas wilayah yang memiliki posisi geopolitik strategis dan kaya potensi kandungan minyak tersebut.

Mengingat sejarah, dan ketidakpercayaan Barat, Amerika Serikat menyadari bahwa upaya mendapatkan kontrol langsung atas Xinjiang dan secara umum atas wilayah-wilayah muslim bekas Uni Soviet, tidak dapat dilakukan sendiri. AS memerlukan “wakil” untuk mendapatkan kendali dengan cepat dan efektif.

Untuk itu, Turki merupakan wakil atau “proxy” yang sempurna. Negara ini adalah sekutu NATO dan rezim boneka. Turki juga memiliki ikatan emosional, budaya, bahasa, agama (Islam Sunni) yang lebih kuat dengan etnis Uighur dan penduduk Asia Tengah lainnya. Serta yang tidak kalah penting adalah lokasi strategis dan kedekatannya dengan Xinjiang.

CIA melibatkan orang-orang Amerika-Turki seperti Fetullah Gulen dalam dalam Operasi “Proxy”. Gulen adalah salah satu tokoh agama ternama dan berpengaruh Turki yang sekaranag berdiam dan menjadi warga negara Amerika Serikat. Gulen juga salah satu operator utama untuk CIA dalam radikalisasi Asia Tengah

Orang-orang Turki lain yang digunakan dalam operasi ini adalah Enver Yusuf Turani. Dalam organisasi perlawanan Uighur, Turani sangat dikenal. Ia adalah “Perdana Menteri” Xinjiang yang dikenal oleh AS sebagai “Turkistan Timur”.

Share Button