October 21, 2018

Operasi CIA di Cina: Dari Pembebasan Sampai Demokratisasi (1)

Foto: Istimewa


Foto: Istimewa

INTELIJEN.co.id – Cina adalah negara tua yang memiliki potensi kekuatan yang tidak dapat dipandang remeh. Terbukti, negara ini tetap dapat eksis selama era “keterbelakangan” politik dan ekonominya dalam sistem komunis yang sangat tertutup.

Dalam dua dasawarsa terakhir, Cina bahkan bangkit menjadi kekuatan utama dunia, ekonomi, politik, militer maupun teknologinya. Perannya saat ini bahkan mampu mengimbangi dominasi Amerika Serikat, di Asia maupun dunia.

Tidak heran, sejak lama Amerika Serikat, memberikan perhatian besar terhadap negara sosialis terbesar di Asia itu. Diawal konsolidasinya dalam rezim komunis atas wilayah Tibet, Amerika Serikat terlibat memberikan dukungan bagi perlawanan rakyat di wilayah ini.

Demikian pula dalam gerakan separatis di Xinjiang, daerah otonom terluas di Cina yang mayoritas warganya beretnis Muslim Uighur. Ketika penguasa komunis semakin hegemonik mengelola wilayah ini, Amerika Serikat mempraktekkan juga operasi “Arc of Crisis”, dan kemudian mendorong keterlibatan Turki dalam isu Xinjiang.

Langkah demokratisasi juga pernah dilakukan untuk Cina oleh Amerika Serikat, meski berakhir dengan tragedi berdarah di Tiananmen. Penguasa Cina melakukan aksi pembersihan dengan kekuatan militernya.  

Dalam kesaksiannya di depan Kongres pada 1996, John M. Deutch mengingatkan pemerintahnya untuk lebih berhati-hati dalam melakukan operasi rahasia ke Cina. Menurut Direktur CIA (1995-1996) ini, elit-elit pembuat kebijakan AS harus dapat memastikan risikonya atas operasi rahasia CIA untuk mendiskreditkan, menjelekkan atau bahkan menggulingkan Pemerintah Cina.

Share Button