August 20, 2018

Njaju Jenny Malik, “Feminis Akademisi” Pengawal Ketahanan Nasional

Prof. Dr. Njaju Jenny Malik (dok. INTELIJEN)


Prof. Dr. Njaju Jenny Malik (dok. INTELIJEN)

INTELIJEN.co.id – Pada 8 Maret lalu, sekelompok aktivis dan beberapa organisasi perempuan menggelar aksi peringatan International Women’s Day. Tanggal itu menjadi momen gerakan feminisme dunia.

Berbagai persoalan perempuan disuarakan sebagai isu gerakan. Mulai dari kekerasan terhadap perempuan sampai kritikan kepada kepemimpinan nasional yang dinilai gagal melindungi dan membela hak-hak perempuan.

Sejak era reformasi, gerakan feminisme memang semakin menguat di Indonesia. Organisasi-organisasi perempuan independen yang berdiri sebelum gerakan reformasi maupun sesudahnya, terus berkiprah mewarnai gerakan masyarakat sipil negeri ini.

Perkembangan tersebut menurut Dosen Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Njaju Jenny Malik,  sebagai buah dari gerakan reformasi. Ketika gerakan menggulingkan kekuasaan Orde Baru tersebut berlangsung, beberapa organisasi perempuan independen terlibat aktif di dalamnya.

Itulah sebabnya, dalam pandangan profesor perempuan pertama Indonesia dalam bidang linguistik Rusia ini, wajar jika di era reformasi sekarang gerakan feminisme lebih bergaung. Isu yang diusung juga lebih maju, mulai kekerasan terhadap perempuan, kelompok perempuan marginal, kemiskinan perempuan, advokasi kebijakan, bahkan lingkungan hidup, demokrasi dan  HAM.

Hanya saja, tambah doktor ilmu pengetahuan budaya yang menjadi tenaga ahli pengajar bidang sosial-budaya Lemhannas ini, penting juga bagi gerakan feminisme untuk memperhatikan perkembangan lain di masyarakat, budaya populer.

Seperti diketahui, Budaya populer, telah ciri penting era modern sekarang ini. Kreatifitas masyarakat yang menjadi kekuatan penting pembentukan budaya, bergeser dari prosesnya yang panjang menjadi lebih cepat atau instan.

Pembentukan budaya baru di masyarakat mengalami percepatan yang luar biasa. Satu bentuk kebudayaan akan segera tergeser oleh bentuk baru yang lebih diminati masyarakat. Ukuran popularitas budaya adalah minat yang luas dari masyarakat.

Permasalahannya, eksploitasi fisik perempuan seringkali menjadi bumbu untuk menarik minat masyarakat. Kecenderungan tema-tema sinetron yang banyak ditayangkan televisi adalah salah satu contoh yang mudah dilihat.

Media massa, cetak dan terutama elektronik, yang semakin mudah diakses masyarakat, menjadi daya dorong utama pergerakan budaya populer tersebut. Jangkauan informasinya yang tidak lagi lokal, regional dan nasional tetapi sudah internasional, mampu menjadi penghantar yang baik persebaran budaya global.

Indonesia mengalami serbuan budaya populer tersebut secara lebih masif sejak dua dasawarsa terakhir. Pragmatis, hedonis, materialis, imitatif menjadi kecenderungan yang menggejala dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, terutama generasi mudanya. Akibatnya generasi muda banyak kehilangan daya kreatifnya yang konstruktif.

Jenny, panggilan akrab perempuan dengan berjibun kesibukan akademis ini, mengingatkan bahwa fenomena budaya populer harus menjadi perhatian semua kalangan, termasuk kelompok-kelompok gerakan feminisme. Isu-isu yang diusung gerakan feminisme sudah sangat maju, dan semestinya pekembangan budaya populer juga menjadi bagiannya.

Berkembangnya budaya populer, menurut pengajar pascasarjana di beberapa perguruan tinggi lain ini, tidak saja sangat dekat dengan persoalan perempuan, yang cenderung menjadi obyek eksploitasi. Perkembangan budaya populer juga berkaitan dengan proses transformasi sosial lebih luas, pendidikan masyarakat dan khususnya generasi muda.

Menurut pencermatannya, perkembangan budaya populer adalah fenomena modernisasi dan globlalisasi, bukan by design. Semua negara mengalaminya, termasuk negara-negara maju di Eropa, Amerika Serikat, maupun Jepang di Asia.

Konsep modernisasi memang menjadi salah satu tema utama yang ditekuni pakar dalam bidang budaya ini. Budaya sebagai basis pembangunan dan pengembangan masyarakat adalah visi yang terus diperjuangkan, dalam berbagai seminar dan kegiatan ilmiah lainnya. Termasuk dalam pengabdiannya di Lemhannas, lembaga pemerintah yang  bertugas menyelenggarakan pendidikan penyiapan kader dan pemantapan pimpinan tingkat nasional.

Ditegaskannya bahwa perkembangan budaya populer tidak dapat ditolak. Yang lebih penting adalah memberikan muatan konstruktif di dalamnya dan mempersiapkan masyarakat agar tidak mudah terseret prosesnya yang instan.

Itulah sebabnya, tidak heran jika dalam memandang kemajuan gerakan feminisme di Indonesia sekarang, Ketua Komite Seleksi Film Televisi FFI 2006 ini, menegaskan juga pentingnya gerakan itu mengangkat isu perkembangan budaya populer. Di dalam isu ini pendidikan dan keluarga menjadi salah satu perhatian.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan dan mengikuti beberapa kegiatan kerjanya, “feminis akademisi” ini, menyempatkan menerima INTELIJEN di kantornya di Lemhannas. Berikut ini kutipan pandangan-pandangannya mengenai perkembangan gerakan feminisme dan serbuan budaya populer di Indonesia.

Pendidikan dan Keluarga, Isu Penting Gerakan Feminisme

International Women’s Day, pada 8 Maret, selalu diperingati setiap tahun oleh para aktivis perempuan sebagai momen gerakan feminisme dunia. Pandangan Anda tentang gerakan feminisme?

Gerakan feminisme pada prinsipnya, adalah, tuntutan atau perjuangan perempuan untuk memperoleh kesetaraan hak dengan laki-laki. Tuntutan ini berangkat dari pemikiran bahwa kondisi perempuan dalam realitas sosialnya dibedakan dengan laki-laki. Ini terjadi di semua negara di masa-masa lalu.

Dalam hal pendidikan, kepemilikan, pekerjaan, dan terutama politik, perempuan tidak mendapatkan hak-hak secara penuh seperti laki-laki. Kesadaran adanya ketidakadilan ini menguat terutama setelah Revolusi Perancis dan kemudian meluas ke Amerika.

Gerakan feminisme adalah perkembangan yang tidak dapat ditolak. Hanya seberapa jauh tuntutan kesetaraan hak perempuan dengan laki-laki, itu yang seringkali masih menjadi perdebatan, baik dikalangan gerakan feminisme sendiri dan terlebih di masyarakat luas.

Bisa dijelaskan konteks perdebatan itu?

Begini, dikalangan gerakan feminisme, ada beberapa pemikiran. Mulai dari yang radikal sampai yang moderat. Semuanya dipengaruhi oleh fakta sosial yang berkembang di mana pemikiran itu muncul dan nilai-nilai yang mereka anut.

Sementara di masyarakat luas, ada yang setuju gerakan feminisme sebagai langkah maju perempuan, ada yang masih mengkritisi, bahkan ada yang secara tegas menolaknya. Di sini juga akan tergantung kepada fakta sosial dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Seberapa jauh Anda melihat perkembangan gerakan feminisme di Indonesia sekarang ini?

Gerakan feminisme sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Bicara momentum, kita mengenal Kartini yang menggugat keterbelakangan kaumnya karena belenggu adat patriarki. Bahkan, dia sendiri, yang tergolong perempuan bangsawan, menjadi korban belenggu itu.

Masa pergerakan kemerdekaan juga mencatatkan momen-momen gerakan perempuan yang terlibat mendukung perjuangan kemerdekaan. Demikian pula ketika Indonesia memasuki masa-masa kemerdekaan, secara prinsip tidak ada pembatasan peran perempuan.

Pada masa Orde Lama, organisasi perempuan dibentuk baik secara independen atau menjadi bagian organisasi keagamaan maupun partai politik. Artinya perempuan mendapat bagian untuk mengambil peran sosial maupun politik.

Pada masa Orde Baru, secara prinsip juga tidak ada pembatasan bagi peran perempuan dalam bidang-bidang publik. Organisasi-organisasi perempuan berkembang termasuk dilingkungan birokrasi pemerintahan.

Hanya saja, di dua masa pemerintahan tersebut, gerakan perempuan berkembang mengikuti arus utama politik atau kekuasaan. Pada masa Orde Lama, misalnya, gerakan perempuan menjadi bagian dari gerakan politik. Sementara pada masa Orde Baru gerakan perempuan, diarahkan mendukung program-program pemerintah.

Pada masa reformasi, gerakan feminisme yang independen memperoleh ruang yang lebih luas. Di sini muncul gugatan terhadap gerakan organisasi-organisasi perempuan, terutama pada masa Orde Baru, yang dipandang memperkuat budaya patriarki.

Berarti ada semacam dinamika?

Betul. Masing-masing masa ada model gerakan berbeda, isu yang dibawa juga berkembang, bahkan ada penggugatan seperti yang terjadi sekarang ini.

Bagaimana penilaian anda terhadap isu yang dikembangkan gerakan feminisme di Indonesia sekarang ini?

Lebih maju, mulai isu kekerasan terhadap perempuan, kelompok perempuan marginal, kemiskinan perempuan, advokasi kebijakan, bahkan lingkungan hidup, demokrasi dan  HAM. Hal ini memang sejalan dengan menguatnya gerakan masyarakat sipil, dimana gerakan perempuan menjadi salah satu bagiannya.

Di tengah progresivitas isu dalam gerakan feminisme, ada perkembangan lain yang menarik, meluasnya budaya populer di masyarakat yang banyak mengeksploitasi perempuan. Pandangan Anda?

Saya setuju, itu salah satu persoalan. Seharusnya juga menjadi isu dalam gerakan perempuan. Kalau kita lihat hampir semua tayangan sinetron dapat dikatakan cenderung mengeksploitasi potensi fisik perempuan.

Pernah saya pertanyakan hal ini kepada produser dan sutradara sinetron. Jawabannya, itu sesuai rating penonton. Produser atau sutradara memang tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Tapi kalau mau dikejar lagi siapa penonton yang disurvei, kesimpulan rating sebenarnya bisa dipertanyakan.

Mengapa gerakan feminisme kurang mengangkat perkembangan budaya populer tersebut sebagai isu gerakan mereka?

Ya, seperti saya katakan tadi, seharusnya ini menjadi bagian isu dalam gerakan perempuan. Saya kurang tahu mengapa hal ini akhirnya tidak atau kurang menjadi isu gerakan mereka.

Saya melihat persoalan berkembangnya budaya populer bukan hanya persoalan yang dekat dengan perempuan saja, yang cenderung eksploitatif. Perkembangan budaya populer juga berkaitan dengan proses transformasi sosial lebih luas, pendidikan masyarakat dan khususnya generasi muda.

Fenomena budaya populer, sepertinya sudah berlangsung begitu luas di Indonesia. Transformasi sosial yang terjadi justru membuat masyarakat kita kurang kreatif, cenderung imitatif dan pragmatis. By design?

Saya melihatnya ini memang fenomena budaya modern yang terjadi di seluruh belahan dunia. Kalau tidak bisa memberi muatan yang tepat, memang berpotensi besar merusak masyarakat.

Bukan bagian dari perang asimetris?

Bisa saja dikatakan begitu. Tapi hal itu terjadi di semua negara dan masyarakat, termasuk di negara-negara maju.

Bagaimana menyikapinya?

Kembali kepada masyarakat. Di sinilah, ada peran penting keluarga.

Gerakan feminisme harus fokus juga ke keluarga?

Iya.

Apakah itu tidak akan kembali membuat bias gender. Bicara pendidikan dan keluarga, masyarakat akan mengidentikkan dengan peran ibu?

Itu tanggung jawab bersama. Tetapi saya melihat peran seorang ibu memang tetap besar di dalam pendidikan dan keluarga.

Biodata

Nama:
Njaju Jenny Malik Tomi Hardjatno

Tempat, Tgl Lahir:
Jakarta, 23 Oktober 1954

Pendidikan:
S1 Jurusan Slavia Program Studi Rusia UI, 1979
S2 Antropologi UI, 1989
S3 Bidang Ilmu Pengetahuan Budaya UI, 1998

Jabatan Sekarang:
Guru Besar Tetap UI
Ketua Pusat Kajian Eropa UI
Tenaga Ahli Pengajar bidang Sosial-Budaya Lemhannas
Dosen Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya UI, UNJ, UHAMKA

Jabatan Sebelumnya:
Ketua Program Studi Rusia FS-UI, 1990-1993
Wakil Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia, 2002-2005
Wakil Ketua Pokja Sosial-Budaya Lemhannas, 1998-2004
Dosen SESKOAD bidang Sosial Budaya, 2002-2004
Dosen SESPATI POLRI
Juri FFI, 2005
(INTELIJEN Nomer 4/Tahun VIII, April 2011)

Share Button