May 26, 2018

Nasir Abas, di Antara Dusta dan Fakta

Nasir Abas (dok.INTELIJEN)


Nasir Abas (dok.INTELIJEN)

INTELIJEN.co.id – Pengeboman hotel Ritz Carlton dan JW Marriott di Mega Kuningan masih menyisakan misteri. Tak mudah mengungkap motif dan pelaku. Ketika pihak kepolisian belum memastikan motif dan pelaku, berbagai spekulasi dan teori muncul.

Jauh sebelum kepolisian mengeluarkan pernyataan, sebuah analisis terkait motif dan pelaku “Bom Marriott II” sudah menyebar. Dikatakan bahwa pelaku pengeboman di wilayah Mega Kuningan adalah pemain lama, orang yang mempunyai faham yang sama dengan Noordin M Top, atau bisa juga bukan kelompok Noordin tetapi berbuat seperti Noordin.

Analisis itu dilontarkan oleh sosok kontroversial, Mohammad Nasir Abbas alias Khaeruddin, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI). Belakangan, Nasir Abbas, menyatakan pelaku “Bom Marriott II” adalah Noordin M Top. Bagi Nasir, selama Noordin M Top belum ditangkap, ancaman Noordin masih ada. Noordin berniat untuk melakukan aksi selama masih hidup.

Sejalan dengan itu, muncul pengakuan misterius di salah satu blog yang berisi pernyataan Noordin M Top sebagai pelaku Bom Marriott II. Kendati pengakuan yang mengatasnamakan Tandzim Al Qo’idah Indonesia ini memperkuat analisis bahwa Noordin M Top sebagai pelaku Bom Marriott II, Nasir Abbas meyakini pengakuan Noordin di blog adalah palsu.

Menurut Nasir, pengakuan di internet bukan kebiasaan Noordin M Top. Noordin sebelumnya tidak pernah mengeluarkan pernyataan di internet. Data yang didapat adalah data yang disita dari anak buah Noordin. Pernyataan juga dibuat dalam bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia.

Selain itu, Noordin tidak terbiasa dengan istilah atau singkatan berbahasa Indonesia, misalnya disebut JW Marriott sebagai “Kadin AS”. Dalam Bom Bali I, ditemukan satu surat untuk pengeboman Raja,s Cafe dan Jimbaran. Sementara dalam Bom Marriot II, dua surat untuk dua lokasi pengeboman.  

Nasir justru khawatir, dengan banyaknya pihak yang mengganggap surat itu rekayasa, masyarakat juga akan mengganggap Bom Marriott II sebagai rekayasa. Jika dianggap sebagai rekayasa, pihak yang memiliki otoritas terhadap keamanan akan dikait-kaitkan.

Tak dapat disangkal, sejumlah pihak mengganggap Nasir Abbas sebagai “juru bicara” institusi kepolisian atau intelijen dalam masalah terorisme. Warga negara Malaysia ini dianggap sudah “insyaf” dan saat ini membantu pihak kepolisian dalam mengungkap terorisme di Indonesia. Tak heran jika pengakuan ataupun analisis Nasir Abbas sering berbenturan dengan pihak-pihak yang dituding sebagai pelaku terorisme atau mendukung gerakan teroris. Bahkan, Nasir dianggap sebagai pengkhianat oleh rekan seperjuangannya.

Nasir Abbas sering dituding berkonspirasi dengan pihak kepolisian untuk memojokkan tersangka teroris. Nasir juga dianggap membuat dusta yang dilegalisasi polisi. Nasir dalam beberapa kesempatan menegaskan dirinya tidak melakukan konspirasi dengan polisi. Adapun bantuan pengawalan polisi, terkait posisinya sebagai saksi kasus terorisme yang dilindungi negara. Keleluasaan Nasir keluar masuk Indonesia-Malaysia, menurut Nasir menjadi urusan antara polisi Indonesia dan polisi Malaysia.

Kini, Nasir bekerja sama dengan tim investigasi polisi untuk membujuk rekan-rekannya agar tidak melakukan teror. Bahkan dikatakan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah mencabut nama Nasir Abbas dari daftar teroris sejak 29 September 2008.

Mantan instruktur sekaligus ketua qirdas JI di Johor Bahru ini sempat divonis sepuluh bulan penjara terkait pelanggaran keimigrasian. Nassir meninggalkan Malaysia dan bersembunyi di Palu dengan memalsukan identitas.

Selama di Palu, Nasir diduga memimpim “Kelompok Palu” melakukan sejumlah peledakan bom. Anggota kelompok ini di antaranya, Aang Hasanuddin, Nizam Kaleb, dan Fajri.

Pada akhir 1997, Nasir menjabat sebagai ketua Wakalah Basar Al-Kubro, Sabah, di bawah Mantiqi Tsalits (III). Sejak April 2001, Nasir diangkat sebagai ketua Mantiqi III, wilayah gerakan pendukung militer Jamaah Islamiyah.

Nasir sempat menyatakan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai amir kelompok Jamaah Islamiyah. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sebagai saksi, Nasir menyatakan bahwa Ba’asyir lah yang mengangkat Nasir sebagai Ketua Mantiqi III di Ma’had Ali Ngruki, Solo, Jawa Tengah pada 2001. Nasir menggantikan Mustofa alias Abu Tholud untuk mengorganisir anggota JI di wakalah Sabah, Kalimantan Timur, Palu, dan Mindanau.

Dalam buku “Membongkar Jamaah Islamiyah (2005)”, Nasir Abbas kembali menyebut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai amir JI. Atas sinyalemen itu, Ustadz Ba’asyir sempat menyatakan Nasir Abbas sebagai pengkhianat. Ustadz Ba’asyir mengenal Nasir Abbas sebagai murid Ustadz Hasyim Gani di Malaysia.

Selama menjadi Ketua Mantiqi III JI, Nasir sempat berhubungan dengan Mas Slamet Kastari di Singapura. Mas Slamet Kastari saat ini menjadi buronan karena melarikan diri dari penjara di Singapura.

Kakak ipar Mukhlas alias Ali Gufron, terpidana Bom Bali I, ini mengaku menjadi anggota Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) sejak 1987. Sebelum berangkat ke Afghanistan, Nasir dibaiat oleh Ustadz Abdullah Sungkar, yang juga tokoh DI/NII.

Tahun 1993, Nasir dibaiat masuk JI oleh Zulkarnain, mewakili Ustadz Abdullah Sungkar. Pada Agustus 1997, Nasir dipanggil Mustafa ke Johor Baru untuk membicarakan pelantikannya menjadi Ketua Mantiqi III.

Setelah dilantik menjadi petinggi JI, Nasir Abbas sering bersentuhan berbagai konflik di Indonesia, salah satunya konflik Poso. Menurut Nasir wilayah Poso, Sulawesi Tengah masuk dalam wilayah Mantiqi II JI berdasarkan rapat markaziah Jama’ah Islamiyah
di Tawangmangu, Oktober 2002.

Nasir menempatkan Hasanudin di Poso untuk membantu umat Islam. Nasir melarang Hasanudin dan kelompok JI melakukan kekerasan terhadap “Kelompok Merah”. Sepak terjang Nasir Abbas terhenti sejak tertangkap di wilayah Bantar Gebang, Bekasi, 17 April 2003.

Pria berkacamata ini dikenal sebagai instruktur pelaku Bom Bali I 2002 di kamp mujahidin, Kamp Saddah di Afghanistan (awal 1990), dan Kamp Hudaibiyah di Mindanao. Nasir masuk angkatan ke lima pelatihan militer di Kamp Saddah. Tak heran jika Nasir merupakan tokoh teroris yang paling dicari di Asia Tenggara.

Januari 2008, Nasir juga menjadi saksi persidangan kasus terorisme Abu Dujana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Nasir mengaku pernah memberikan uang infak kepada Abu Dujana dalam beberapa kali rapat JI yang digelar di Tawangmangu, Jawa Tengah dan Puncak, Jawa Barat. Nasir memastikan, Abu Dujana sering bertugas mencatat rapat JI. Keduanya pertama kali bertemu di Kamp Saddah, milik mujahidin Afghanistan di perbatasan Pakistan.

Setelah bebas pada Februari 2004, Nasir Abbas tampil dengan karakter baru. Di mata Abbas, jihad adalah pertempuran dan membunuh pasukan asing yang menduduki negara Muslim seperti Soviet di Afghanistan, Amerika di Irak atau Filipina di wilayah Muslim di Mindanao, namun membunuh penduduk sipil, wanita dan anak-anak dilarang.

Adapun aksi teror di Indonesia yang dilakukan para anggota JI, menurut Nasir Abbas, bertentangan dengan tujuan awal JI. JI pada awalnya merupakan organisasi berbasis sosial keagamaan. Di mana  aksi yang dilakukan adalah gerakan dakwah. Sementara aksi kekerasan pasti dilakukan oleh anggota yang tidak loyal dengan JI.

Pihak yang tidak loyal terhadap JI adalah Noordin M Top, Hambali, Mukhlas, Hasanuddin, Ali Imron dan Imam Samudera. Alasan Nasir keluar dari keanggotaan JI juga karena tidak puas dengan orang-orang yang tidak loyal terhadap JI.

Berikut wawancaranya dengan INTELIJEN pada Agustus 2009 di Jakarta:

Indonesia Wilayah “Garap Utama”

Apa dasar analisis Anda sehingga Anda yakin otak “Bom Marriott II” adalah Noordin M Top?

Sambil menunggu pernyataan resmi dari kepolisian, saya sudah menyebutkan tiga opsi pelaku “Bom Marriott II”. Pelakunya bisa pemain lama, orang yang mempunyai faham yang sama dengan Noordin M Top, dan orang yang berbuat seperti Noordin, tetapi bukan orang Noordin M Top.

Setelah ada statement dari Polri, saya menyebut Noordin M Top sebagai pelaku. Ada tujuh hal yang menguatkan bahwa pelaku “Bom Marriott II” adalah Noordin M Top. Pertama, sasarannya warga Barat. Kedua, teknis pembunuhan menggunakan bom. Ada banyak cara pembunuhan, tetapi Noordin menggunakan satu cara, dengan menggunakan bom. Ketiga, menggunakan bom bunuh diri.

Keempat, mencari perhatian dunia. Yakni, dengan mentargetkan atau memilih obyek terkenal. Ritz Carlton dan JW Marriott, merupakan hotel kelas dunia. Apalagi akan ditempati oleh Menchester United.

Kelima, ditujukan untuk mempermalukan aparat keamanan di Indonesia. Bom Bali II terjadi ketika aparat memperketat penjagaan, tetapi semua itu bisa ditembus. Keenam, merugikan Indonesia. Semua bom itu memang ditujukan untuk merugikan Indonesia. Untuk itu yang diincar adalah obyek vital.

Ketujuh, semua aksi yang terjadi selalu terkait kebijakan AS yang terbaru. Terutama yang berhubungan dengan Al Qaeda dan Taliban. Kebijakan terbaru AS adalah menarik pasukan AS dari Irak, ke Afghanistan untuk menekan Taliban dan Al Qaeda. Noordin M Top sangat pro Al Qaeda. Noordin ingin melakukan pembelaan. Ketika Barrack Obama menyatakan akan menghabisi Taliban, Noordin sudah siap menebar teror. Mungkin kebijakan terbaru AS inilah yang mengundang, keterlibatan Al Qaeda.

Dalam Bom Marriott II, hubungan JI dengan Al Qaeda menguat?

Sebelum 2003, sudah ada hubungan antara JI dengan Al Qaeda. Bom Bali I, dananya juga dari Al Qaeda. Bom Marriot I (2003), uangnya juga dari Al Qaeda. JI dan Al Qaeda berusaha untuk menjalin hubungan yang berkesinambungan.

JI sekarang tidak aktif, bahkan sudah tidak menggunakan nama JI lagi. Kalaupun terjadi, hanya kelompok-kelompok kecil, yang tidak menggunakan nama JI. Aksi Noordin M Top tidak menggunakan nama JI. Tetapi menggunakan kelompoknya sendiri, bersama-sama dengan DR Azahari  dan orang-orang Indonesia yang mendukung Noordin M Top.

Organisasi pendukung Noordin adalah kelompok yang cair non JI?

Abdullah Sonata, Iwan Darmawan alias Rois, dan Heri Gulun, bukan JI. Hal itu menunjukkan bahwa pendukung Noordin M Top bukan dari kalangan JI. Memang ada dari kalangan JI yang setuju dan ikut dengan Noordin M Top. Namun, bukan dari kelompok JI, melainkan personalnya.

Harus dibedakan antara keterlibatan kelompok dengan keterlibatan personal. Iwan Darmawan, terlibat Bom Kedubes Australia, bukan representatif  DI/NII, meskipun Iwan orang NII.

Demikian juga, Abdullah Sonata, ataupun dari Kelompok Kompak. Dalam hal ini bukan berarti secara institusi Kompak membantu, tetapi anggota Kompak yang simpati dengan Noordin M Top.

Anda sempat menyatakan bahwa JI atau Al Qaeda akan bergerak jika ada komunitas Muslim yang diserang. Apakah Bom Marriott II terkait penyerangan Muslim Uighur di Xinjiang?

Hal itulah yang menjadi alasan, bahwa Bom Marriott II bukan menjadi misinya JI. Tetapi dari kelompok JI yang simpati kepada Noordin M Top. Mukhlas, terpidana Bom Bali I, tidak membawa misi JI, tetapi mengikuti misi Osama bin Laden. Misi JI adalah menegakkan negara dan syariat Islam, sementara Osama tidak memiliki niat untuk itu. Osama hanya ingin membalas dendam terhadap AS dan sekutunya.

Mengapa Indonesia menjadi sasaran? Indonesia dijadikan “medan jihad” utama?

Bom-bom tersebut tidak ada urusannya dengan Indonesia, tetapi karena seruan Osama bin Laden. Noordin ingin menyambut seruan Osama bin Laden. Sekali dayung dua, tiga  pulau terlampaui.

Osama bin Laden memberikan nasehat dan wasiat untuk umat Islam yang mewajibkan membunuh militer dan warga sipil AS dan sekutunya di mana saja. Jadi sebenarnya bukan Noordin yang pertama melakukan ini.

Otak pelaku terorisme di Indonesia bukan warga negara Indonesia sendiri, tetapi Malaysia?

Semua itu berdasarkan kepada pemahaman atau sikap, bukan dalam batas-batas kewarganegaraan. Saat ini baru ada tiga yang berasal dari Malaysia, Dr Azahari, Noordin M Top, dan saya sendiri. Faktanya, yang lebih banyak terlibat adalah warga negara Indonesia. Yang merekrut saya adalah orang Indonesia, yang membawa paham kekerasan adalah Hambali. Bom Bali I diotaki Mukhlas. Mereka tidak pernah mengatasnamakan warganegara. Masalah ini adalah masalah solidaritas bersama.

Sejatinya, operasi pertama yang gagal dilaksanakan adalah melakukan pembunuhan terhadap anggota senat di Pulau Pinang dan perampokan, bukan bom seperti saat ini.  Atas perintah Hambali, Faturahman Al Ghozi, sudah meledakan bom besar di Manila (2000). Ghozi juga sudah menyiapkan pengeboman Changi Airport, kendati upaya ini gagal, dan ditemukan persiapan pengemboman di General Santos.

Hambali adalah pemikir pertama untuk meledakkan bom di mana saja. Nama Noordin M Top dan Dr Azahari muncul setelah “Bom Marriott I”. Jika yang dipilih Indonesia, karena peluang pengeboman cukup terbuka di Indonesia. Noordin M Top membutuhkan banyak pendukung, karena tidak mungkin pengeboman dilakukan sendirian.

Anda pernah menjadi Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah. Ada misi khusus JI terhadap Indonesia?

Di dalam JI adalah wilayah stragis, Mantiqi I, Mantiqi II dan Mantiqi III. Mantiqi I adalah pendukung wilayah ekonomi dan Mantiqi III adalah wilayah pendukung kemiliteran. Sedangkan Mantiqi II adalah wilayah “garap utama”. Setelah JI terungkap, “garap utama” diartikan sebagai “wilayah operasi”. Garap utama adalah wilayah yang cocok untuk menegakkan negara.

Adanya DI/NII di Indonesia menjadi faktor sejarah bagi garap utama. Faktor pendukung  lain sangat banyak di Indonesia untuk mendukung Indonesia menjadi sebuah negara Islam. Bukan Indonesia secara keseluruhan tetapi satu bagian untuk mendirikan negara Islam. Di Malaysia dan Singapura, tidak terdengar isu menegakkan syariat Islam.

Penegakan negara syariat Islam bukan dengan cara kekerasan. Untuk itu ada bidang tarbiyah, ekonomi, sosial dan lainnya, yang ditujukan untuk membangun masyarakat. Jika pada saatnya sebagian besar rakyat Indonesia mendukung, negara Islam akan diproklamirkan. Kekuatan yang ada akan digunakan untuk menghadapi aparat keamanan Indonesia. Jika semua itu belum ada akan digunakan untuk membantu umat Islam di mana saja yang diserang.

Pada awal 1980-2000, tidak ada serangan bom. Peledakan terjadi setelah JI menerima seruan Osama bin Laden, pada akhir 1998. Ketika itu Hambali menyatakan, bahwa menunggu proklamasi negara Islam cukup sulit untuk terwujud. Hambali menawarkan untuk “beramal” menyambut seruan Osama, untuk melakukan penyerangan di mana saja. Prakteknya, lebih sering dilakukan di Indonesia.

Biodata

Nama:
Mohamad Nasir Bin Abas (Alias: Nasir Abas, Sulaiman, Khairudin, Adi Santoso, Edy Mulyono)

Tempat Tgl Lahir:
Singapura, 6 Mei 1969

Agama:
Islam

Pendidikan:
1976-1977 – Sekolah Dasar (Primary School), Singapura.
1978-1981 – Sekolah Dasar (Sekolah Rendah),Johor Bahru,Malaysia.
1982-1984 – SMP (Sekolah Menengah), Johor Bahru, Malaysia.
1984-1987 – Maahad Ittiba’ us Sunnah, Kuala Pilah, Malaysia.
1987-1990 – Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, Pakistan.

Jabatan Organisasi JI (mantan Anggota):
1990-1993 – Instruktur bidang persenjataan di AKMIL Mujahidin Afghanistan.
1994-1996 – Ketua Kem latihan Hudaybiyah, Mindanao, Philippina.
1997– Ketua Kirdas (Peleton), di bawah Wakalah Johor–(Wilayah  Gerak JI di Johor, Malaysia)
1997-2001 – Ketua Wakalah Badar (Wilayah Gerak JI di Sabah, Malaysia)
2001-2003 – Ketua Mantiqi III  (Wilayah Gerak JI; Sabah,Mindanao, Sulawesi, East Kalimantan).
18 Apr 2003 – Ditangkap Polri, kasus imigrasi & pemalsuan dokumen
2003 – Keluar dari organisasi JI
18 Feb 2004 – Bebas dari LP Palu, Sulteng.

Share Button