October 21, 2018

Ministry of National Security, Azerbaijan: Mengendus Teroris Berkedok Salafi (1)

Foto: Istimewa


Foto: Istimewa

INTELIJEN.co.id – Perang terhadap terorisme yang dipimpin oelh Amerika Serikat sejak insiden penabrakan gedung Word Trade Center di New York, pada 9 September 2001 lalu, mau tak mau diikuti oleh banyak negara, terutama pendukung AS.

Stigma teroris langsung melekat pada kelompok Islam. Hal ini karena para pelaku pemboman WTC diklaim memiliki hubungan dengan jaringan al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden yang bermarkas di Afghanistan.

Selanjutnya skenario konspirasi mengenai siapa sebenarnya otak aksi teror itu bermunculan. Ada yang menyebutkan bahwa teror sengaja dibuat oleh AS sendiri, dengan menugaskan para agen CIA alumni Afghanistan.

Ada juga yang menyebutkan bahwa Osama bin Laden adalah agen CIA. Ini didukung sejumlah bukti yang menyatakan bahwa keluarga Osama pernah dekat dengan keluarga George W. Bush.

Walau belum ada bukti yang meyakinkan, tetapi insiden yang kemudian dikenal dengan “9/11”(nine one-one) mendorong banyak negara menggelar operasi kontraterorisme dengan menggerakan badan intelijennya.

Bahkan beberapa negara telah menyiapkan perangkat pendeteksi pelaku terorisme. Alat itu akan memberikan petunjuk jika ada indikasi seorang atau sebuah kelompok yang masuk dalam data base terorisme negara tersebut.

Misalnya, yang diterapkan di Amerika Serikat. Negara berjuluk Paman Sam ini memiliki perangkat sistem keamanan yang dapat mendeteksi nama-nama yang berbau Arab.

Di negara lain, India. Negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan Pakistan ini menugaskan Intelligence Bureau (IB) untuk menjalankan program yang sama dengan AS, namun difokuskan pada nama-nama orang Pakistan.

Azerbaijan, salah satu negara bekas Uni Soviet yang terletak di persimpangan benua Asia dan Eropa, juga tidak ketinggalan menerapkan sistem keamanan nasional terhadap aksi terorisme. Hanya saja negara ini tidak menggunakan bantuan peralatan canggih, tetapi dengan mengawasi beberapa kelompok yang dicurigai sebagai bagian dari jaringan terorisme dunia.

Pengawasan dilakukan oleh badan intelijen utama negara itu, Ministry of National Security. Salah satu kelompok yang menjadi fokus pengawasan adalah kelompok Islam Salafi, yang keberadaannya disebut-sebut sudah berlangsung selama lima generasi. (Repro INTELIJEN, bagian 1)

Share Button