November 13, 2018

Microsoft Keluhkan Pembajakan Software Besar-besaran di Asia

Microsoft


intelijen – Beberapa bulan lalu, Microsoft menduga piranti lunaknya secara besar-besaran dibajak di Asia. Dugaan itu ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan. Hasilnya, ternyata memang banyak software yang dibajak.

Secara teori, PC memang sudah diinstal sebelumnya dengan versi berlisensi Windows. Namun Microsoft menemukan banyak PC di toko ritel Asia memiliki sistem bajakan. Korban biasanya pelanggan yang tidak curiga bakal menghadapi beberapa tantangan setelah membeli PC tersebut.

Laman Phone Arena, Minggu (4/11/2018), melaporkan, investigasi Microsoft lebih seperti survei. Perusahaan membeli 166 PC di 9 negara Asia dan menemukan 100% perangkat PC yang dibeli di Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, dan Thailand dilengkapi dengan perangkat lunak bajakan.

Probabilitas bajakan India adalah 91%, Indonesia 90%, Taiwan 73%, Singapura 55%, dan Filipina 43%. Korea Selatan dan India adalah pasar yang sangat berkembang dengan baik, tapi mereka jelas menentang aturan pembajakan perangkat lunak.

“Secara keseluruhan, 83% dari PC yang dibeli di pasar Asia antara Mei hingga Juli 2018 memiliki perangkat lunak bajakan, selain versi konsumen Windows gratis,” kata Microsoft.

Mary Jo Schrade, Asisten Penasihat Umum dan Direktur Regional Divisi Kejahatan Digital Asia Microsoft di Singapura mengatakan, di India sebanyak 85% komputer Windows bajakan dimuat dengan malware, termasuk perangkat lunak backdoor untuk penambang Bitcoin.

“Perangkat lunak gratis tidak benar-benar gratis,” ungkap Mary Jo Schrade memperingatkan. “Penjahat dunia maya terus mengembangkan teknologi mereka untuk menghindari langkah-langkah keamanan dan menanamkan malware mereka ke dalam perangkat lunak bajakan. Ini adalah salah satu strategi mereka karena memungkinkan untuk menempatkan banyak komputer pribadi berisiko dan mendapatkan banyak kredensial data.”

Ketika vendor menjual perangkat lunak bajakan, sambung dia, perangkat lunak itu mengandung malware di komputer pribadi mereka. Ini tidak hanya mendorong penyebaran malware di wilayah tersebut, tapi juga menempatkan informasi pribadi pelanggan dan identitas digitalnya pada kebijaksanaan kriminal di dunia maya.

Share Button

Related Posts