August 17, 2018

Menaguk Untung Dari Konflik

JF-17FC-1 Sukses Chengdu Aircraft Industry Corp dan Pakistan (theasiandefence.blogspot.com)


JF-17FC-1 Sukses Chengdu Aircraft Industry Corp dan Pakistan (theasiandefence.blogspot.com)

INTELIJEN.co.id – Persaingan antara blok barat dan blok timur dalam perang dingin diyakini turut mendukung pertumbuhan industri pertahanan Cina. Dengan pembedaan kualitas produksi, produk-produk pertahanan ekspor berhasil mendongkrak pasar.

Polarisasi blok barat dan blok timur mengakibatkan lalu lintas perdagangan industri pertahanan antar negara-negara yang berbeda blok menjadi terhambat. Baik AS ataupun Uni Soviet menerapkan berbagai syarat yang berat bagi impor alat pertahanan di luar blok.

Cina sebagai negara yang tidak berpihak kepada salah satu poros, menjadi pemasok alternatif bagi negara-negara yang akan membeli senjata. Apalagi harga yang ditawarkan Cina untuk produk ekspor lebih murah ketimbang versi aslinya.

Proses alih teknologi Cina dari Uni Soviet bisa dikatakan berhasil. Pada masa pemerintahan Deng Xiaoping, industri pertahanan Cina benar-benar mampu menaguk keuntungan kerjasama lisensi.

Deng Xiaoping menerapkan kebijakan ekonomi yang membuat perekonomian Cina maju pesat ketimbang masa pemerintahan Mao Zedong.

Pesatnya pertumbuhan perekonomian Cina, membuat industri pertahanan Cina menjadi bergairah. Bahkan, pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan agar perusahaan-perusahaan industri pertahanan melakukan riset untuk memproduksi sendiri senjata asli buatan Cina, bukan lagi hasil lisensi.

Langkah nyata ini diawali dengan dibangunnya sebuah perusahaan senjata baru pada 1980 yang memproduksi senjata keperluan personel angkatan bersenjata. Perusahaan tersebut tak lain adalah Norinco.

Produk Norico di antaranya, senapan serbu amphibi, sistem senapan jarak jauh, sistem anti rudal dan pesawat, produk perlengkapan penginderaan malam hari.

Selain itu, Norinco juga memproduksi bom dengan daya ledak besar, bom cair, peralatan anti teror serta senapan ringan.

Produk Norinco antara lain, QBZ-95 senapan serbu, CQ duplikat dari senapan Colt M-16A1, Type 56 duplikat dari AK-47 buatan Soviet. Di luar itu masih banyak produk lainya, walaupun kebanyakan masih lisensi dari pabrikan senjata negara lain.

Aliansi Baru

Norinco hanyalah salah satu di antara cerita sukses industri pertahanan Cina. Tak hanya itu, Cina mulai mengembangkan roket pembawa satelit pada medio 1980-an.

Hasil dari penelitian pengembangan pesawat tempur oleh perusahaan-perusahaan Cina menghasilkan beberapa produk, seperti pesawat tempur J-8. Bahkan Cina berani membeli cetak biru pesawat prototipe milik Israel yang gagal diproduksi, Lavi.

Cetak biru Lavi yang dibeli oleh Chengdu Aircraft Industry Corp, dikembangkan menjadi pesawat tempur seri J-10 Vigorous Dragon (F-10 Vanguard untuk versi ekspor) dan sudah beroperasi.

Pesawat tempur Lavi (cikal bakal J-10) adalah pesawat tempur yang diklaim memiliki kemampuan setara dengan F-16 milik AS.

Pesawat tempur J-10 telah dipesan oleh Pakistan dan Iran untuk keperluan militer. Pakistan membeli 36 J-10 dan Iran memesan 48 J-10. Angkatan udara Cina sendiri memesan menggunakan 89 J-10.

Selain Lavi, Cina juga mendapatkan lisensi membuat pesawat tempur Rusia Su-27 dengan kode J-11 yang diproduksi oleh Shenyang Aircraft Corp.

Produk terbaru industri pertahanan Cina adalah pesawat tempur seri JF-17/FC-1 Thunder, yang merupakan hasil kerjasama antara Chengdu Aircraft Industry Corp. dan perusahaan Pakistan, Pakistan Aeronautical Complex.

JF_17/FC-1 Thunder telah dipesan banyak negara. Pakistan (150 buah), Azerbaizan (24), Zimbabwe (12). Cina sendiri sedang mempertimbangkan berapa banyak pesawat yang digunakan untuk angkatan udaranya.

Sejumlah negara juga telah menyatakan minatnya untuk membeli pesawat tempur terbaru hasil kolaborasi Cina-Pakistan ini. Negara tersebut di antaranya, Algeria, Banglades, Mesir, Iran, Libanon, Malaysia, Maroko, Myanmar, Nigeria dan Srilanka.

Sukses Chengdu Aircraft Industry Corp. mengembangkan JF-17/FC-1 Thunder, menjadi pemicu pemerintah Cina untuk mengembangkan pesawat tempur baru generasi kelima.

Nanchang Aircraft Manufacturing Corp. pun membuat konsep pesawat tempur berkode J-12. Selain itu Shenyang Aircraft Corp. menyatakan akan mengembangkan pesawat stealth berkode JXX/J-14 dengan bantuan AS. Kedua pesawat ini diharapkan telah beroperasi pada 2015.

Konflik Spartley

Masih belum puas dengan hasil yang diperoleh dari pengembangan senjata untuk angkatan udaranya. Industri pertahanan Cina mulai merambah pada pengembangan senjata untuk keperluan angkatan laut.

Sejak 1990-an, Cina telah mampu membuat senjata maritim dengan teknologi canggih yang diakui oleh berbagai negara di dunia. Di antaranya adalah produk kapal selam dan kapal perang.

Jika pada era perang dingin Cina masih harus membeli kapal selam dari negara lain, kini Cina mampu memproduksi kapal selam sendiri dengan diaktifkannya kembali galangan-galangan kapal lama di beberapa tempat di Cina.

Kapal selam buatan Cina terbagi menjadi beberapa tipe, yakni tipe 091 kelas Han, tipe 092 kelas Xia, tipe 093 kelas Shang 407, tipe 094 kelas Jin, tipe 039G kelas Song dan yang terbaru adalah tipe 039A kelas Yuan.

Di antara banyak kapal selam buatan Cina, kapal selam kelas Jin adalah kapal selam yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Kabarnya, kapal selam kelas Jin dapat menyerang pantai barat AS dari Samudera Pasifik dekat Laut China dengan membawa rudal nuklir berkemampuan jelajah 8.000 km.

Sedangkan untuk keperluan kapal perangnya, industri pertahanan Cina sedang mengembangkan kapal perang bertipe destroyer yang menerapkan teknologi stealth. Kapal perang itu dikembangkan oleh Jiangnan Shipyard dan diberi kode tipe 052C Destroyer.

NATO menjuluki kapal perang ini sebagai Luyang II, sedangkan angkatan laut Cina mengkategorika tipe 052C dengan kelas Lanzhou.

Keperluan akan kapal selam canggih dan kapal perang stealth, tidak terlepas dari kepentingan Cina atas Taiwan dan kepulauan Spartley di laut Cina Selatan.

Perkembangan industri pertahanan Cina yang begitu pesat, membuat Cina kini menjadi salah satu negara pemasok senjata mutakhir dunia.

Walaupun produk-produk senjata Cina belum teruji dalam peperangan sebenarnya, tetapi dengan berhasilnya Cina mengembangkan persenjataannya, sudah membuktikan, bahwa  Cina siap bersaing dengan negara maju di bidang senjata.

Entah akan menjadi seperti apa wajah industri pertahanan Cina di masa mendatang, karena Cina sekarang menyandang predikat sebagai negara dengan laju perekonomian terbesar di dunia. (repro INTELIJEN)

Share Button