May 25, 2018

LRC, Pasukan Bentukan Amerika di Filipina

Light Reaction Company Filiphina (life.com)


Light Reaction Company Filiphina (life.com)

INTELIJEN.co.id – Light Reaction Company sebagai pasukan bentukan Amerika di Filipina bertugas memerangi teroris di kawasan Pasifik, dalam prakteknya pasukan ini sering melakukan operasi di kawasasan Filipina Selatan yang terkenal dengan komunitas Islamnya

Angkatan Bersenjata Light Reaction Company (LRC) Filipina, sebagai unit penyelundup dilengkapi peredam, alat penerobos gelap, headset yang berteknologi tinggi dan merupakan pimpinan Angkatan Bersenjata Filipina dalam pasukan antiteror.

Biasanya, LRC  beroperasi dalam tim kecil yang ditugaskan pada waktu malam hari dan menggunakan taktik gerilya, sering mengambil di belakang garis pertahanan musuh. Anggota LRC dipilih dari tentara-tentara terbaik angkatan darat, laut dan Udara

Anggota pertama LRC adalah dari mantan anggota Scout Ranger yang dilatih secara rahasia oleh Special Force Amerika sekitar tahun 2001.

Program ini merupakan bagian dari kerjasama Filipina dengan Amerika dalam menanggulangi aksi terorisme, yang dikenal dengan Operasi “Enduring Freedom Philippines”. Yakni, upaya perluasan strategi Amerika dalam memerangi jaringan terorisme Al Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Anggota veteran perang Filipina sekitar 1200 dilatih Special Force Amerika- diharapkan mampu memerangi teroris dan Amerika memberikan anggaran bantuan paket militer berjumlah $ 100 juta. Dari kesatuan LRC yang berlatih juga berasal dari Pilot Angkatan Udara Filipina di mana penerbang terbaik ini dilatih dalam kondisi malam hari.

“Kita mempunyai pengalaman pasukan komando dalam pertempuran, “kata Kapten Montano Almodovar- yang berpengalaman selama lima sampai 29 tahun ikut perang gerilya. Amerika mempunyai teknologi tinggi, inilah bantuan yang kita butuhkan untuk LRC.

Tetapi kurangnya peralatan, dengan hutan rimba yang bergelombang- dapat membantu menjelaskan mengapa 7000 tentara belum mampu menumpas sedikitnya 100 ekstrimis pada suatu pulau yang berjarak 16 mil dari 25 mil.  Para pemberontak bahkan dapat mendengarkan pembicaraan pasukan LRC melalui pesawat radio.

Kemudian panggilan telepon dari Abu Sayyaf, yang mengatakan uang tembusan untuk membeli persenjataan terbaik, speedboat dan peralatan canggih lainnya. Almodovar mengatakan ini sangat bertolak belakang, dia mengatakan LRC hanya mempunyai empat pengindraan malam dan satu peluncur granat untuk setiap 80 personel LRC.

Kasus penculikan itu berawal ketika para wisatawan, termasuk tiga warga AS, diculik oleh gerilyawan bertopeng dan bersenjata dari Pulau Palawan, yang luasnya sekitar 20 hektar. Korban penculikan kemudian dibawa ke Pulau Basilan, yang selama ini dikenal sebagai basis pergerakan kaum gerilyawan kelompok Abu Sayyaf.

Pemerintah Filipina dengan berbagai cara damai berusaha membebaskan para sandera, tetapi sia-sia. Itulah sebabnya Pemerintah mulai mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk menghadapi gerilyawan Abu Sayyaf.

Tekanan militer yang mulai meningkat membuat kubu Abu Sayyaf sedikit mengendur. Kelompok separatis Abu Sayyaf menawarkan perundingan terakhir dengan pemerintah Filipina berkaitan dengan pembebasan dua sandera asal Amerika Serikat, Martin Burnham, Gracia Burnham dan Ediborah Yap seorang perawat yang disandera di Pulau Basilan.

Abu Sabaya salah satu pemimpin kelompok Abu Sayyaf pernah menuntut perundingan yang dimediatori oleh dua warga negara Malaysia, yaitu mantan Senator Sairin Kato dan seorang pengusaha bernama Yusof Hamdan. Namun tuntutan tersebut ditolak oleh pemerintah Malaysia dan Filipina, karena menganggap masalah penculikan merupakan masalah internal.

Menurut Sabaya, para sandera berada dalam ”kondisi kesehatan yang baik, ayah Martin Burnham bernama Paul mengatakan Abu Sayyaf mengingkari kesepakatan untuk membebaskan pasangan Burnham.

Paul tidak menjelaskan rinci kesepakatan dengan Abu Sayyaf selain mengatakan kesepakatan tersebut dibuat dengan Abu Sulaiman. Namun Sabaya mengatakan Sulaiman tidak menahan dan tidak memiliki kaitan apa pun dengan para sandera.

Sabaya juga menampik laporan bahwa kelompoknya telah menerima uang tebusan sebesar US$ 300 ribu untuk membebaskan para sandera. Ada pihak yang berupaya berkomunikasi dengan kelompok kami. Namun menurut saya yang harus mengadakan perundingan adalah pemerintah Filipina,” kata Sabaya.

Pemerintah Filipina menanggapi tawaran perundingan dari gerilyawan itu dianggap sebagai akal-akalan semata, sehingga tidak ditanggapi serius oleh pemerintah. Apalagi gerilyawan menuntut pengiriman seorang anggota kabinet sebagai perunding dari pihak pemerintah.

Sekiranya keinginan pengiriman anggota kabinet itu dipenuhi, gerilyawan Abu Sayyaf justru diuntungkan karena akan memperoleh gengsi dan kembali mendapat efek publikasi luas. Para penculik ibarat selebritis atau politisi kembali mendapat nilai lebih dalam pemberitaan.

Pemerintah Manila tampaknya ingin memperlihatkan sikap tegas dan tidak mau berkompromi dengan kelompok Abu Sayyaf, yang menuntut pembentukan Negara Moro Merdeka di Filipina Selatan.

Sebuah dilema sedang dihadapi Pemerintah Manila dalam mengatasi kasus penyanderaan ini. Pendekatan damai ternyata tidak membawa hasil dan hanya membuang waktu. Sedangkan penggunaan operasi militer bisa melumpuhkan kekuatan kaum gerilyawan.

Tetapi kemungkinan terbesar para sandera menjadi korban. Seluruh sandera bisa dijadikan sasaran pelampiasan emosi dan kemarahan kaum gerilyawan jika berada di bawah tekanan gempuran militer.

Kemudian komando operasi angkatan bersenjata Brigadir Jenderal Delfin Lorenzana, bergerak menuju pulau Basilan dari Manila dan memeriksa pasukan LRC dengan Kolonel Alexander Aleo, sebagai perwira tinggi yang bermarkas Basilan

Pasukan LRC melakukan yang terbaik dan ditunjukkan dengan prestasi. Hal ini ditunjukkan sekitar 200 tentara sedang melakukan lebih dari dua kali latihan, ungkap “ Aleo.

Kerjasama Light Reaction Company dengan Scout Ranger dalam memerangi teroris dan menjaga keamanan nasional Filipina. Besar kemungkinan Unit ini akan menjadi kunci strategi global Amerika dalam memerangi teroris di kawasan pasifik.

Unit Special Force Angkatan Bersenjata Amerika melatih dan mempersenjatai pasukan LRC secara khusus bukan bagian dari Special Force Angkatan Bersenjata Filipina dan organisasai Scout Ranger.

Dari Februari sampai Juli 2001, ketika pasukan LRC melakukan latihan, ASG (Abu Sayyaf Group) menculik tiga lebih warga Amerika. Satu isu terpenting dalam latihan LRC yaitu melakukan identifikasi peristiwa tersebut.

Ketika pemerintah Filipina membangun taktik kekuatan antiterror, Angkatan Bersenjata Filipina tidak mempunyai komando dan struktur kontrol untuk memperkerjakan LRC seperti biasanya atau menyatukan dengan angkatan bersenjata lainnya.

Dua hari setelah keseluruhan latihan, LRC menyebar ke kepulauan Basilan di profinsi Mindanao Filipina selatan dalam menanggapi krisis menyanderaan ASG (Abu Sayyaf Group). Bagaimanapun, unit LRC menyebar secara konvensional, bukan sebagai kekuatan nasional dalam antiterror. (repro INTELIJEN)

Share Button