October 18, 2018

Lavrov Yakin Putin dan Trump Tak Izinkan AS-Rusia Perang

Donald Trump dan Vladimir Putin


intelijen – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yakin Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump tidak akan mengizinkan Moskow dan Washington konfrontasi senjata atau perang. Komentar tersebut muncul di saat hubungan kedua negara sedang memburuk.

“Berbicara tentang risiko konfrontasi militer, saya 100 persen yakin bahwa militer (baik AS dan Rusia) tidak akan mengizinkan ini, dan tentu saja tidak akan Presiden (Vladimir) Putin atau Presiden (Donald) Trump mengizinkannya,” kata Lavrov dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

“Bagaimanapun mereka adalah pemimpin, dipilih oleh rakyat mereka dan bertanggung jawab atas perdamaian mereka,” lanjut diplomat top Rusia tersebut, yang dilansir semalam (20/4/2018).

Lavrov kini berupaya meredakan ketegangan kedua negara. Menurutnya, presiden AS telah mengundang Putin via telepon untuk bertamu ke Gedung Putih.”Trump mengatakan dia akan senang melihat (Putin) di Gedung Putih. Dia akan senang untuk melakukan kunjungan timbal balik (ke Moskow),” ujar Lavrov.

Dalam wawancara, Menlu Lavrov juga menyinggung serangan ratusan rudal AS, Inggris dan Prancis terhadap Suriah pada Sabtu pekan lalu. Serangan ketiga negara itu dengan dalih membalas serangan senjata kimia di Douma yang dituduhkan dilakukan pasukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Agresi singkat diluncurkan hanya beberapa jam sebelum para ahli dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) hendak memulai misi pencarian fakta di Douma.

Menurut Lavrov, usai serangan AS, Inggris dan Prancis terhadap Suriah, Moskow tidak lagi memiliki hambatan moral untuk memasok sistem rudal pertahanan S-300 ke pasukan rezim Suriah.

Moskow awalnya berjanji untuk tidak mengirim S-300 ke Damaskus sekitar 10 tahun lalu atas permintaan para mitranya, termasuk dari pihak Uni Eropa.

“Kami mempertimbangkan argumen mereka bahwa ini akan mengacaukan situasi, meskipun sistem rudal murni menjadi sistem pertahanan,” ujarnya. “Kami mendengarkan seruan mereka. Tetapi sekarang kami tidak memiliki kewajiban moral seperti itu.”

Selama agresi singkat pekan lalu, sistem rudal pertahanan udara Suriah diklaim berhasil mencegat atau menembak jatuh 71 dari 103 lebih rudal yang ditembakkan AS dan sekutunya. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, serangan ratusan rudal itu menyasar sipil dan militer Damaskus.

Unit pertahanan udara Rusia, lanjut kementerian itu, tidak tidak terlibat dalam memukul mundur serangan AS dan sekutunya.

Sebelum Barat membombardir Suriah secara singkat, Moskow memperingatkan AS akan melintasi “garis merah” di Suriah yang akan memicu pembalasan dari Moskow.

Lavrov mengutip Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov mengatakan bahwa jika tindakan apapun dari koalisi Barat memengaruhi prajurit Rusia, Moskow akan merespons. “Pokoknya … ‘garis merah’ ini tidak disilangkan,” kata Lavrov.

Share Button

Related Posts