November 18, 2017

Laksamana Malahayati dan Keberanian Melawan Penjajah

Laksamana Malahayati


intelijen – Laksamana Keumalahayati yang biasa ditulis namanya Malahayati sosok pantang menyerah dalam melawan penjajah. Laksamana perempuan di Aceh ini makin disegani setelah membunuh Cornelis de Houtman, saat pertempuran satu lawan satu di geladak kapal tanggal 11 September 1599 masa Kesultanan Aceh.

Makam Laksamana Malahati terletak di Gampong Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Namun, jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak boleh dilupakan.

Penobatan menjadi pahlawan nasional yang disematkan kepada Laksamana Malahayati, dinilai oleh sejumlah orang langkah yang tepat yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Laksamana Malahayati ini, sosok perempuan pertama yang diberi gelar panglima perang angkatan laut Armada Selat Malaka masa itu.

Menurut sejarawan Aceh, Husaini Ibrahim mengemukakan, sosok Malahayati, perempuan Aceh yang gigih berjuang melawan penjajah. Dia tidak hanya memikirkan nasib sendiri, tetapi juga nasip para inong bale (janda perang) yang suaminya gugur dalam pertempuran kala itu.

“Sangat besar sosok beliau bukan hanya berjuang pada tataran paling rendah, tapi juga ada perjuangan yang sangat besar tidak sama dengan kondisi sekarang yang aman dan damai, tapi pada waktu itu justru beliau menghadapi perlawanan-perlawanan yang sangat berat seperti tantangan Portugis dan Belanda,” kata Husaini Ibrahim.

Ahli Antropologi ini menilai, dalam rangka peringatan hari Pahlawan Nasional ini, semoga masyarakat Indonesia khususnya Aceh mampu mengambil pelajaran bagaimana ketangguhan sosok Malahayati yang sangat tegar menghadapi tantangan.

“Beliau adalah seorang wanita tangguh yang tidak memikir kepentingan sendiri tetapi juga orang lain,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan seorang aktivis perempuan Aceh, Zubaidah Anwar mengatakan, saat pertama kali menerima informasi Laksamana Malahayati hendak dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Dia merasa bangga dan senang, karena sosok panutannya sudah diakui oleh negara sebagai pahlawan.

“Ini memang sudah lama kita tunggu dan nantikan,” jelasnya.

Kekagumannya pada sosok Laksamana Malahayati ini keberanian dan kegigihannya menghadapi medan pertempuran. “Ini sangat luar biasa bagi seorang perempuan. Ia punya keberanian untuk menghadang bahkan keberanian untuk mati melawan penjajahan,” imbuhnya.

Menurutnya, implementasi yang harus dipetik oleh perempuan saat ini ialah bagaimana keberanian dalam menolak semua penindasan yang dilakukan terhadap wanita.

“Seperti berani menolak kezaliman, ketidak adilah hal-hal yang bisa merusak marwah seorang wanita,” tutupnya.
Sumber: Merdeka

Share Button

Related Posts