January 16, 2019

La Nyalla Tantang Prabowo jadi Imam Shalat, Praktisi Hukum: Bahasa Inggris Jokowi Sering Diketawain

Joko Widodo dan Mark Zuckerberg (setkab)


intelijen – Perdebatan soal syarat kapabilitas calon presiden terus diperdebatkan. Tantangan politisi La Nyalla Mattalitti kepada capres nomor urut dua Prabowo Subianto untuk menjadi imam shalat, memicu perdebatan.

Pengamat politik Umar Syadat Hasibuan mengingatkan bahwa Pilpres bukan ajang mencari imam sholat terbaik tetapi memilih pemimpin politik.

“Saya gak setuju jika tim Jokowi bully Prabowo dengan isyu jadi imam sholat karena bacaan Qur’an Jokowi dan Prabowo sama parah dan buruknya. Sekali lagi Pilpres bukan ajang pencarian Qori atau Imam solat di Masjid tapi ajang kita memilih pemimpin politik,” tegas Umar di akun Twitter @Umar_Hasibuan_.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria sempat menyatakan bahwa tantangan La Nyalla kepada Prabowo tersebut tidak substansial. “Enggak Substansial. Ya, begitu kalau orang mau kalah. Biasa. Cari-cari yang enggak ada substansinya, enggak ada hubunganya,” kata Riza seperti dikutip cnnindonesia (11/12).

Riza menyayangkan kontestasi Pilpres 2019 diwarnai dengan pernyataan miring tanpa substansi. Menurut Riza, soal ibadah adalah urusan pribadi seseorang. “Masa saya ikutan menguliti Pak Jokowi, ya enggak perlu dong,” ujar Riza.

Saat kemampuan capres jadi imam shalat  diperdebatkan, aktivis yang juga praktisi hukum senior Ach Supyadi kembali mengingatkan hal-hal substansial seorang presiden. Yakni, kemampuan bahasa Inggris capres.

‏”Pak Jokowi itu kurang bisa bahasa Inggris, di pertemuan internasional sering diam karena keterbatasannya, kalau berbahasa Inggris itu pakai teks, itupun sering diketawain karena dibaca lurus, ya karena dia tidak ngerti grammar, Simple present tense, Present continuous tense dll,” tulis Supyadi di akun @adv_supyadi.

@adv_supyadi pun mengingatkan: “Apa iya kita masih mau dipimpin oleh pemimpin yang kurang bisa komunikasi menggunakan bahasa Inggris, apa iya kita akan terus diketawain pemimpin luar karena pemimpin kita kalau berbahasa inggris harus baca teks itupun dibacanya lurus-lurusan, tentu tidak demikian kan..!”

Share Button

Related Posts