August 20, 2018

Kumbakarna Telah Gugur, Rahwana Akan Tumbang

Natalius Pigai


intelijen – Dalam cerita mitologi Jawa. ketika kita nonton atau membaca cerita pewayangan dalam kisah Ramayana, Adegan saat Hanoman dibakar hidup-hidup. Inilah cerita klimaks dalam pementasan wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit. Kisah si kera sakti yang tak mempan dibakar, malah ganti membakar dan mengobrak-abrik kerajaan Negeri Alengka.

Sang kera putih bukannya mati terbakar, namun merajalela menggunakan api yang berkobar pada tubuhnya untuk membakar kerajaan Alengka. Bahkan dia berhasil melarikan diri dan melaporkan peta kekuatan angkatan perang Alengka kepada Rama Wijaya.

Perang besar di Alengka. Rama dengan bala tentara pasukan kera menyerbu Alengka. Sedangkan para raksasa bala tentara Alengka menahan serbuan para kera sakti dengan gagah berani pula.

Di tengah medan perang yang dahsyat, kehebatan Kumbakarna yang turut berperang membela negara Alengka. Meskipun berwujud raksasa, kasar dan posturnya tinggi besar, namun sesungguhnya Kumbakarna adalah pribadi yang jujur, bijaksana dan memiliki jiwa nasionalisme yang mengagumkan.

Dia tahu benar bahwa tindakan Rahwana sang kakak tidak benar. Bahkan dia berusaha selalu mengingatkan, meskipun tidak pernah digubris Rahwana.

Karena negeri Alengka tanah tumpah darahnya diserang musuh, jiwa nasionalisme Kumbakarna terketuk. Dia berdiri di barisan terdepan untuk membela tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan. Kumbakarna mati di tangan Rama hanya karena membela Rahwana sang angkara murka.

Rama harus bertarung sangat keras untuk mengalahkan Kumbakarna. Saat kedua tangannya telah terpotong, Kumbakarna masih mampu berperang dengan kakinya yang berukuran raksasa menginjak-injak baletentara kera. Kemudian Rama memotong kedua kali Kumbakarna, namun dia masih tetap berperang dengan menggelindingkan tubuhnya yang luar biasa besar. Namun akhirnya Kumbakarna gugur sebagai pahlawan bangsa setelah terkena panah sakti Rama.

Pilkada 2017 lalu, mengingatkan saya memori sepenggal kisah mitologi Jawa yang saya baca dan menyaksikan dalam Sendratari Ramayanan di Candi Prambanan Medio 90-an. Bagaimana Ahok mendapat tekanan bertubi-tubi, dikrimininalisasi, berbagai kekerasan verbal menjadi korban diskriminasi rasial sampai akhirnya tumbang secara politik dalam Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017.

Share Button

Related Posts