October 20, 2018

Komentar AS soal Laut China Selatan Bikin Jenderal China Marah

James Mattis


intelijen – Seorang jenderal militer China marah dan mengecam komentar negatif Amerika Serikat (AS) terhadap Beijing terkait pengerahan kekuatan militer di Laut China Selatan. Kepala Pentagon James Mattis telah menuduh Beijing melakukan intimidasi pada para tetangganya dengan melakukan militerisasi di perairan sengketa.

“Komentar tidak bertanggung jawab dari negara lain tidak dapat diterima,” kata Letnan Jenderal He Lei, seorang petinggi militer Beijing dalam sebuah forum internasional di Shangri-La Dialogue, di Singapura, hari Sabtu.

“Selama berada di wilayah Anda sendiri, Anda bisa mengerahkan pasukan dan Anda bisa menyebarkan senjata,” ujar Jenderal He Lei.

“Ini demi membela diri,” katanya, dengan memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil langkah tegas jika negara-negara lain mengirim kapal dan pesawat yang mendekati pulau-pulau di Laut China Selatan yang diklaim Beijing.

Seperti diketahui, Beijing telah mengerahkan berbagai perangkat militer termasuk rudal anti-kapal, rudal surface-to-air, hingga jammer elektronik di Laut China Selatan. Beijing juga telah mendaratkan pesawat pembomnya di Woody Island di Kepulauan Paracel.

“Meskipun klaim China sebaliknya, penempatan sistem senjata itu terkait langsung dengan penggunaan militer untuk tujuan intimidasi dan pemaksaan,” kata Mattis.

Mattis juga mengecam Presiden China Xi Jinping karena mengingkari janjinya yang dibuat di Gedung Putih tahun 2015. Menurut Menteri Pertahanan AS tersebut, Presiden Xi pernah berjanji bahwa Beijing tidak akan melakukan militerisasi di Laut China Selatan.

China telah mengklaim hampir seluruh kawasan laut yang menghasilkan sekitar USD5 triliun setiap tahunnya dari lalu lintas kapal perdagan dunia. Beberapa negara Asia seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim di kawasan tersebut.

Sementara itu, kolumnis Washington Post, Josh Rogin, bertanya kepada Mattis apakah dia pikir tidak produktif bagi Trump untuk “berkelahi” dengan China, sekutu Washington dalam perdagangan.

“Tentu saja kami memiliki beberapa pendekatan yang tidak biasa, saya akan berterus terang dengan Anda,” jawab Mattis yang dilansir Minggu (3/6/2018).

“Tapi saya diingatkan bahwa selama negara terus berdialog, selama mereka terus mendengarkan satu sama lain dan saling menghormati satu sama lain, tidak ada yang berlebihan berdasarkan satu keputusan, suatu hari nanti,” imbuh Mattis.

Share Button

Related Posts