October 18, 2018

Kolaborasi CIA-Mossad Hancurkan Sudan



INTELIJEN.co.id – Wilayah Sudan seolah menjadi pertempuran kegiatan spionase. Wilayah Sudan Selatan telah lama memproklamirkan merdeka selalu terhadang sikap Khartoum—Sudan Utara dalam menghadapi gerakan separatis di Sudan Selatan.

Khartoum telah membentuk unit intelijen di wilayah Selatan. Anggota dari unit ini banyak memberikan informasi tentang segala macam kegiatan yang dilakukan Pemerintah Sudan Selatan.

Tidak mau kalah dengan Khartoum, Sudan Selatan melakukan counter intelijen baik di wilayah Selatan maupun di Khourtoum. Salah satu yang nampak adanya berbagai kerusuhan baik di Khartoum maupun Sudan Selatan. Ini bagian dari operasi intelijen mereka.

Pasca peristiwa 11 September Sudan menjadi incaran negara barat. Dari beberapa informasi CIA menyebutkan Osama bin Laden melarikan diri ke Sudan. Ternyata situasi ini dimanfaatkan Kepala Keamanan Nasional Sudan Saleh Gosh.

Ia terkenal sebagai pelaku pelanggaran HAM dan penjahat perang. Tapi pihak Washington dan London merangkulnya untuk menghadapi kelompok teroris.

Secara khusus CIA mengundang Gosh ke Langley, sebuah kota di Kanada dengan menggunakan pesawat khusus dengan tarif yang mahal. Lobby CIA ini diselilingi minum kopi dan teh, sebagaimana kebiasaan orang Sudan.

Dalam pembicaraan ini, London menginginkan situasi Sudan menjadi rusuh. Untuk menindaklanjuti kesepakatan ini, Gosh membayar beberapa orang untuk melakukan operasi kerusuhan di Sudan.

Sebagai tamu penting di Inggris, Gosh mendapatkan fasilitas yang luar biasa, mulai dari tempat tinggal, kesehatan, maupun barang-barang yang ia beli, semua kelas satu.

Kedatangan Gosh sangat dirahasiakan pihak keamanan Inggris. Karena merupakan bagian operasi intelijen menghadapi kelompok teroris di Afrika.

Gosh juga mendapat tugas mengawasi organisasi Osama bin Laden di Sudan. Karena sebelum menuju Afganistan, pimpinan Al Qaida telah menjalin kerjasama dengan pimpinan negara Sudan.

Sekitar 1990 Osama mendirikan perusahaan pertanian. Dinas intelijen Arab dan Barat menuduh, Osama menggunakan perusahaan dan lahan pertanian itu untuk tujuan politik dan militer. Sedangkan simpatisan Osama bin Laden mengklaim hal itu hanya untuk bisnis semata.

Osama bin Laden membantu Pemerintah Sudan dalam berbagai sektor. Osama membelikan Pemerintah Sudan peralatan komunikasi canggih dan senjata AK-47 buatan Rusia untuk milisi pertahanan rakyat yang dibentuk Front Islam Nasionalis untuk berperang di Sudan Selatan.

Melihat kiprah Pemerintah Khartoum yang bersahabat dengan Osama, Pada 1998 AS melancarkan serangan rudal ke satu pabrik kimia Khartoum yang dituding berkaitan dengan Osama bin Laden, dan menyatakan pabrik itu membuat bahan senjata kimia.

Gosh dan agennya membawa tugas dari Washington dan London untuk menanggulangi aksi terorisme di Sudan dan beberapa negara Arab. Gosh juga menyusupkan beberapa anak buahnya mengacaukan aktivitas teroris.

Kemampuan Gosh tidak dapat dianggap remeh, tidak sampai satu bulan, ia sudah mempunyai daftar jaringan kelompok teroris termasuk di Irak. Agen Gosh juga berperan dalam menghadapi kelompok Islam fundamentalis di Somalia.

Tanpa sepengetahuan pemerintah Khartoum, CIA membangun pusat intelijen di Sudan yang berfungsi mengawasi aktivitas terorisme di Afrika Timur.

Fasilitas kantornya menggunakan standar CIA di Amerika maupun negara-negara lainya yang dijadikan markas CIA. Ada beberapa alat terbaru yang digunakan untuk menditeksi keberadaan kelompok teroris. Alat ini memanfaatkan satelit.

Pemerintah Khartoum juga menghadapi pemberontakan di Darfur. Peristiwa ini adalah pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Umar Hasan Al-Basyir yang berhaluan Islam.

Konflik Darfur

Sejak Sudan mendeklarasikan diri sebagai Republik Islam tahun 1989 dan menjual hasil minyaknya ke Cina, Amerika membidik Sudan. Sejumlah negara barat, utamanya AS terlibat jauh dalam konflik Darfur dengan mendukung milisi pemberontak.

Kampanye besar-besaran terjadi di New York, AS, termasuk melalui iklan di surat kabar, agar Amerika segera bertindak di Darfur.

Dari Amerika Serikat, isu Darfur merebak ke Eropa, lalu menggerakkan DK PBB. Dari DK PBB kasus ini masuk ke Pengadilan Kriminal Internasional atau The International Criminal Court (ICC).

Akhirnya ICC mengeluarkan perintah menangkap Presiden Sudan Umar Hasan Al-Basyir  dengan dakwaan bertanggung jawab atau terlibat dalam pemusnahan manusia (genocide) di Darfur. Ini untuk pertama kali ICC memerintahkan menangkap Presiden yang sedang berkuasa.

Sejak Juni 2005, ICC memerintahkan menangkap salah seorang Menteri dalam Pemerintahan Sudan, Ahmad Haroun, dan pemimpinan milisi Janjaweed yang punya hubungan dekat dengan Pemerintah, Ali Kushayb. Keduanya dituduh melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Presiden Umar Hasan Al-Basyir tidak tinggal diam dan menyatakan Pemerintah Amerika ingin menggulingkan pemerintah Khartoum.

Al-Basyir juga menuduh sebagian negara Barat melindungi kaum pemberontak. Amerika sendiri yang berjanji untuk menarik sangsi embargo terhadap Sudan, ternyata tidak menepati janjinya.

Peristiwa Darfur (Sudan Barat) merupakan rentetan dari konflik di Sudan Selatan. Opini yang berkembang menyebutkan, bahwa konflik ini dipicu oleh keinginan etnis Arab di Darfur untuk mengusir etnis Afrika yang tinggal di sana.

Penyebab pertikaian di Darfur karena adanya intervensi asing memperkeruh masalah, menyokong gerakan-gerakan separatis di Sudan barat, dan karena tuntutan mereka yang bertujuan agar Darfur diperlakukan seperti di Sudan Selatan .

Darfur yang terletak di bagian barat, menguasai seperlima wilayah Sudan, sementara Sudan Selatan mencakup seperempat wilayah. Sehingga bila konflik ini terus berlanjut lalu berakhir dengan pemisahan diri kaum pemberontak dari kekuasaan pemerintahan Republik Sudan, maka yang tersisa dari Sudan hanya akan tinggal setengahnya saja

Sudan Selatan

Yang tidak kalahnya sengitnya adalah campur tangan CIA, Mossad di Sudan Selatan. Sebenarnya keterlibatan mereka sejak 1950. Saat itu, Mossad maupun CIA menggunakan cover bantuan kemanusiaan dengan membina hubungan penduduk Sudan Selatan dan Sudan Utara.

Pada tahun 60-an, Mossad mulai melancarkan provokasi kepada penduduk untuk melakukan pemberontakan. Tidak hanya itu, mereka juga mempersenjatai penduduk Sudan Selatan dengan berbagai persenjataan militer dan mendirikan akademi militer untuk para pemuda Sudan di Ethiopia, Uganda, dan Kenya.

Bahkan tentara dan perwira Israel mendirikan karantina khusus untuk melatih pemuda-pemuda Sudan, dengan mengambil tempat di dalam negeri Sudan.

Pada pertengahan tahun 70-an, Mossad dan CIA melakukan penambahan stok senjata untuk para tentara Sudan yang kemudian mereka gunakan untuk membantai kaum muslmin di sana. Mendekati paruh waktu tahun 80-an, terbentuklah pasukan tentara Sudan keluaran akademi militer Israel.

Sepanjang tahun 80-an ini, negara-negara tetangga, seperti Kenya dan Uganda, turut memberikan andil politik dalam mengokohkan kepemimpinan John Garang di Sudan Selatan.

Tahun 90-an, tentara Israel memberikan tambahan perangkat senjata militer modern dan mutakhir untuk kepentingan perang.

Genderang perang pun semakin kencang terdengar sejak saat itu. Suaranya membahana ke seluruh penjuru dunia.

Amr Musa, sekretaris perkumpulan liga arab setelah terjadinya penyerangan Amerika ke Irak, menegaskan bahwa kondisi Irak saat ini tidak lebih parah daripada kondisi yang akan dihadapi Sudan akan datang. Dan benar, tak lama setelah itu meletuslah tragedi Darfur di Sudan Barat.

Perjanjian damai yang terjadi kemudian tidak menjadi indikasi bahwa negara Sudan akan kembali bersatu. Malah justru dari sinilah pemecahan itu dimulai. Ini merupakan strategi dari AS.

Perdamaian ini bisa menjadi kesempatan emas bagi kaum pemberontak untuk melebarkan sayapnya. Dalam rentang waktu ini mereka bebas mengeruk kekayaan alam dan gas bumi yang berada di Sudan Selatan tanpa ada campur tangan dari pemerintah.

Alasan pihak asing memperkeruh wilayah Sudan karena, Pertama, Sudan adalah negara yang terluas di benua Afrika dan wilayah tersubur di kawasan negara Arab. Hal ini memungkinkan adanya pemberdayaan sumber daya alam yang lebih dibanding negara-negara lainnya.

Kedua, Negara Sudan yang saat ini dianggap miskin dan terbelakang, ternyata menyimpan kekayaan alam yang melimpah, seperti adanya kandungan minyak di bagian selatan dan kandungan uranium di bagian barat. Kekayaan yang dapat membawa Sudan menjadi negara kaya dan potensial.

Sudan juga masih menyimpan cadangan minyak bumi sebanyak 631,5 juta barel dan 99,11 miliar meter kubik gas alam yang belum tereksploitasi, serta cadangan biji besi dan tembaga dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Saat ini, produksi minyak mentahnya sekitar 500.000 barel per hari.

Ketiga, Sudan berada di posisi strategis lalu lintas perairan Laut Merah. Sebuah posisi yang menguntungkan untuk menguasai perikanan hingga ke jantung Afrika.

Keempat, Sudan adalah penguasa sungai Nil kedua setelah Mesir. Sudan sebenarnya adalah negara subur dengan dua aliran anak sungai Nil yang memberi manfaat bagi pertanian dan dapat menjadi pilar utama perekonomian negara Sudan. (repro INTELIJEN)

Share Button