October 18, 2018

Kata Putin, Rusia Sangat Benci Gagasan Perang Nuklir AS vs Korut

Presiden Rusia, Vladimir Putin.


intelijen – Rusia sangat membenci jika perang nuklir yang melibatkan Korea Utara dan Amerika Serikat (AS) berkecamuk di dekat perbatasannya. Demikian disampaikan Presiden Vladimir Putin kepada stasiun televisi Austria.

Moskow, kata dia, akan menguras segala upaya untuk menyelesaikan ketegangan di wilayah tersebut dengan damai.

“Saya bahkan tidak ingin memikirkannya,” kata Putin kepada penyiar ORF ketika ditanya tentang potensi konfrontasi nuklir antara AS dan Korea Utara, yang dikutip Selasa (5/6/2018). Putin menggambarkan gagasan perang nuklir seperti itu sebagai hal yang mengerikan.

“Rusia, dari semua negara, tidak tertarik karena Korea Utara adalah tetangga kami,” ujar presiden yang juga mantan mata-mata KGB tersebut.

Dia menjelaskan bahwa beberapa situs uji nuklir Korea Utara terletak kurang dari beberapa ratus kilometer dari perbatasan Rusia. “Dan ini adalah sesuatu yang benar-benar nyata bagi kami,” katanya.

Dia menegaskan krisis di semenanjung Korea harus diselesaikan secara eksklusif melalui sarana diplomatik. “Rusia menaruh harapan besar pada pertemuan pribadi antara Presiden (Donald) Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un,” ujarnya.

Pada saat yang bersamaan, sambung Putin, jalan menuju denuklirisasi Korea Utara harus menjadi jalan dua arah, di mana Washington harus membuat beberapa konsesi, bukan hanya menempatkan tuntutan pada Pyongyang.

“Jika pemimpin Korea Utara mendukung niatnya dengan tindakan praktis, misalnya, menyerahkan tes rudal balistik terbaru, uji coba nuklir terbaru, pihak lain harus membalasnya dengan cara yang nyata,” kata Putin.

Dia lantas mengkritik latihan militer lanjutan AS dan Korea Selatan di Semenanjung Korea sebagai langkah kontraproduktif.

“Rusia akan melakukan segalanya dalam kekuatannya untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea,” katanya. “Pada bagian kami, kami siap untuk menguras segala upaya menuju tujuan itu.”

Putin juga memuji Beijing atas upayanya yang bertujuan menyelesaikan krisis di Semenanjung Korea. “China telah melakukan banyak hal untuk mengarahkan situasi ke arah d├ętente dan denuklirisasi,” katanya.

Pada September 2017 ketika ketegangan memanas di Semenanjung Korea, Rusia dan China mempresentasikan sebuah inisiatif “pembekuan ganda”, yakni merekomendasikan agar Korea Utara menangguhkan program nuklir dan rudalnya dengan imbalan AS dan Korea Selatan berhenti melakukan latihan militer di semenanjung tersebut.

Tapi, proposal itu ditolak oleh Washington. Trump dan Kim Jong-un pada saat itu justru saling melontarkan hinaan dan ancaman serangan nuklir.

Share Button

Related Posts