October 18, 2018

ISIS Serukan Serangan ke Negara-negara Arab Termasuk Palestina

Kelompok Militan ISIS


intelijen – Kelompok Islamic State atau ISIS menyerukan anggotanya untuk menyerang negara-negara Arab, termasuk Palestina, Arab Saudi, Iran dan Mesir. Dalam seruan tersebut, ISIS menganggap para pemimpin Arab sudah “murtad”.

Hasutan kekerasan itu disampaikan juru bicara kelompok ISIS, Abu Hassan al-Muhajir, dalam sebuah pernyataan audio yang dirilis hari Minggu. Hasutan ini telah menyebar melalui aplikasi pesan Telegram.

Ini merupakan pernyataan hasutan pertama ISIS dalam sebulan sepuluh bulan terakhir setelah kelompok tersebut mengalami banyak kekalahan di Irak dan Suriah. Negara-negara Arab dijadikan target karena kelompok itu ingin fokus berperang di “dekat rumah”.

Meski demikian, pernyataan Muhajir juga berisi seruan serangan terhadap Eropa dan Amerika Utara.

“Tidak ada perbedaan antara memerangi para pemimpin Arab Saudi, Mesir, Iran dan Palestina dengan sekutu Tentara Salib Amerika, atau Rusia atau Eropa,” kata Muhahir dalam pesan audio mirip pidato yang berdurasi beberapa jam.

Menurutnya, para pemimpin Arab telah “murtad” dan pantas diperlakukan lebih keras lagi.”Ini adalah Arab dan lebih ganas dan ganas terhadap Islam,” ujar Muhajir.

Pada Juni 2017, juru bicara ISIS itu juga merilis pidato yang mengulas sejarah pasukan Islam yang menang perang meski kalah jumlah. Dalam pidato itu, dia menyerukan serangan ala “lone wolf” di Eropa, termasuk di Rusia.

Rekaman suara pidato pada Juni itu menggemakan pidato juru bicara kelompok ISIS sebelumnya, Abu Muhammad al-Adnani, yang menyebar hasutan kekerasan global.

Hasutan kekerasan terbaru ISIS yang fokus pada negara-negara Arab dinilai sebagai penyusutan kekuatan dan kembalinya kelompok itu ke akarnya sebagai pemberontak regional.

Hassan Hassan, seorang peneliti di Tahrir Institute for Middle East Policy, mengatakan pidato itu sejalan dengan evolusi terbaru kelompok tersebut. “Ini selaras dengan gerakan ISIS baru-baru ini, untuk menjadi lebih internal,” katanya dalam serangkaian tweet yang dikutip New York Times, Senin (23/4/2018).

ISIS pada awalnya adalah kelompok afiliasi al-Qaeda di Irak. Namun, pada akhirnya kelompok ini berseberangan dengan al-Qaeda dan mendirikan “kekhalifahan” pada tahun 2014 dengan wilayah di sebagian Irak dan Suriah yang mereka duduki.

Namun dalam perkembangannya kelompok tersebut mengalami banyak kekalahan akibat serangan banyak pihak, baik Suriah, Irak, koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat, Rusia dan berbagai milisi termasuk Kurdi dan milisi Syiah.

Dalam pernyataan audionya, Muhajir mengutip teks tradisi Wahhabi puritan untuk menciptakan dalih spiritual guna membunuh lebih banyak Muslim-bukan hanya Syiah, tetapi juga Sunni-yang diklaim ISIS sebagai representasi.

Fokus serangan pertama kelompok ini adalah pemilu parlemen Irak yang dijadwalkan akan dimulai pada 12 Mei 2018. Menurut Muhajir, siapa pun yang bekerja sama dengan pemerintah Irak menjadi target yang sah.

“Pusat polling dan orang-orang di dalamnya adalah target dari pedang kami,” katanya. “Jadi menjauhlah dari mereka dan jangan berjalan di dekat mereka.”

Share Button

Related Posts