November 15, 2018

Insiden Pembakaran Bendera Tauhid, Ini Kata MUI

Bendera Tauhid/Panjimas


intelijen – Pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid menjadi polemik oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Garut, Jabar.

Sebuah tindakan bernada sangat melecehkan. Kain berukuran segi empat sama berbentuk bendera bertuliskan kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah. Berwarna hitam.

Atas pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota GP Ansor (Banser) di Garut, Mereka mengklaim bendera yang dibakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), namun sebagian menilai itu bendera tauhid.

Seperti dilansir dari Teropong Senayan, Wakil Ketua Umum MUI Prof. Yunahar Ilyas mengungkapkan, bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah bendera tauhid yang menjadi bagian dari sejarah Islam, bukan bendera HTI. Karena tidak ada simbol HTI di bendera itu.

“Dalam perspektif MUI karena itu tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), maka kita menganggap itu kalimat tauhid,” ucap Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas di gedung MUI, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Yunahar menjelaskan, dalam sejarahnya, ada dua model bendera dengan kalimat tauhid. Yaitu Al-Liwa dengan latar belakang putih, dan Ar-Rayah dengan latar belakang hitam. Kedua bendera ini menjadi bagian dalam sejarah Islam dan mestinya tak dijadikan bendera ormas.

Meski begitu, MUI menyerahkan kasus ini kepada kepolisian untuk mengusut apakah ada pelanggaran hukum dalam kasus pembakaran bendera itu.

Sebelumnya Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyesalkan adanya tindakan pembakaran bendera tauhid.

“Saya menyesalkan dibakarnya bendera yang ada simbol tauhidnya di Garut,” kata RK dilansir dari akun Twitter @ridwankamil, Senin (22/10/2018).

Menurut Ridwan Kamil, alasan yang disampaikan itu menimbulkan tafsir berbeda di tengah masyarakat, Apalagi hal itu dilakukan pas bersamaan dengan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018.

Red

Share Button

Related Posts