March 27, 2019

Ini Peringatan Ekonomi 2019 dari Menteri Keuangan

Sri Mulyani (ist)


 

Peringatan Ekonomi 2019

Tahun 2019 segera tiba, menjelang tahun baru Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan RI tampil memberikan peringatan ekonomi. Bagaimana isi peringatan dari Menkeu?

Siapa sangka peringatan yang diberikan Menkeu Sri Mulyani cukup mengejutkan? Hal ini membuat sejumlah lapisan masyarakat terutama dari kalangan pebisnis penasaran
dengan kondisi perekonomian Indonesia.

Lantas, apa upaya yang sebaiknya dilakukan guna menyikapi peringatan tersebut?

Menkeu Sri Mulyani memaparkan bahwa di tahun 2019 mendatang kondisi ekonomi Indonesia sangat tidak pasti dan diyakini masih mengalami tekanan. Banyak hal yang harus diwaspadai, seperti potensi resesi dunia di capital market. Adanya trade policy di Amerika Serikat menyebabkan ekonomi dunia mengalami ketegangan.

Selain itu, ada indikasi dengan pemberian sinyal bearish yang diberikan oleh yield curve treasury. Sehingga kondisi perekonomian Indonesia tahun 2019 sangat tidak pasti. Hal ini seperti yang dipaparkan Sri Mulyani hari Senin 17 Desember 2018 kemarin di Property Outlook.

“Indonesia akan mengalami sense ketidakpastian di tahun 2019. Hal ini terjadi karena ketegangan yang dipicu trade policy Amerika Serikat,” jelas Sri Mulyani.

Tekanan yang terjadi tidak hanya dirasakan Indonesia. Kondisi serupa ini pun dialami oleh Bank Sentral Amerika Serikat yakni The Fed. Dimana diketahui terjadi kenaikan suku bunga The Fed dan peredaran sejumlah uang khususnya jenis hard currency yang juga jadi makin ketat. Keadaan ini jelas berdampak di perekonomian negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia.

Dengan sektor properti digadang-gadang akan merasakan pengaruh paling besar dari tren baru ini. Padahal pertumbuhan ekonomi tanah air cukup bergantung dengan kondisi sektor properti.

“Tren ini mempengaruhi sektor properti. Termasuk properti di Indonesia. Di sejumlah negara juga bakal diberlakukan monetary properti secara sistematis dan penuh oleh central bank,” demikian tambah Menkeu Sri Mulyani.

Upaya Penanganan dan Antisipasi

Melihat kondisi perekonomian dunia, membuat BI (Bank Indonesia) tidak bisa tinggal diam. Adapun pihak BI menyikapi kondisi perekonomian global dengan menerapkan sejumlah kebijakan ketat. Khususnya kebijakan dalam suku bunga, nilai tukar, dan juga likuiditas. Hal ini dilakukan tidak lain agar perekonomian tanah air tetap dalam kondisi stabil.

Di sisi lain, pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Keuangan turut berperan aktif. Terutama dalam menyediakan instrumen fiskal. Dimana kebijakan fiskal amat berpengaruh seperti dalam hal pajak. Selanjutnya setiap rezim perpajakan perlu menentukan ada tidaknya pertumbuhan di sektor properti.

Langkah aktif lainnya juga diperlukan review dan evaluasi. Tujuannya seperlu mendapat upaya terbaik yang harus dilakukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkeadilan dan berkelanjutan.

Dengan demikian sektor properti dan konstruksi tetap terus tumbuh. Sekali lagi sektor properti memiliki peran penting lantaran mempunyai multiplier effect yang amat besar bagi perekonomian Indonesia.

 

(Sumber)

Share Button

Related Posts