August 20, 2018

Industri Pertahanan Cina, Dari Senapan Hingga Pesawat Tempur

Produk Senjata Sebagian Besar Digunakan Angkatan Bersenjata Cina (bbs.chinadaily.com.cn)
Ilustrasi (ist)


Produk Senjata Sebagian Besar Digunakan Angkatan Bersenjata Cina (bbs.chinadaily.com.cn)

INTELIJEN.co.id – Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi  yang sangat tinggi, industri pertahanan Cina mulai menunjukkan taringnya. Berawal dari order perakitan dan lisensi dari Uni Soviet, Cina tumbuh sebagai produsen senjata-senjata mutakhir kelas dunia.

Sejak jaman kerajaan, Cina sudah terkenal dengan teknologi tinggi yang diciptakan. Disebut-sebut, bangsa Cina kuno sudah dapat membuat bubuk mesiu serta peralatan militer cikal bakal senjata modern.

Berbekal penguasaan teknologi dan didukung jumlah penduduk yang mencapai 1,2 miliar jiwa, Cina tumbuh menjadi negara industri dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Tidak dapat dipungkiri, pasang surut ekonomi Cina sangat terpengaruh oleh sistem pemerintahan yang dianut. Di awal terbentuknya RRC, industri pertahanan Cina belum berkembang. Semua itu buah dari sistem ekonomi Cina yang mengisolasi diri dari pergaulan dunia luar.

Cina hanya membuka diri kepada Uni Soviet yang memiliki ideologi komunis. Akibatnya, transformasi teknologi Cina sangat tergantung pada Uni Soviet.

Meskipun ketika itu Cina sudah memiliki sejumlah perusahaan pertahanan, Cina hanya mengharap order dari Uni Soviet. Perusahaan itu di antaranya, Chengdu Aircraft Industry Corp., Changhe Aircraft Industry Corp., China Nanchang Aircraft Manufacturing Corp., dan Shenyang Aircraft Corp.

Perusahaan-perusahaan Cina tersebut hanya berposisi sebagai perusahaan pemegang lisensi dari Uni Soviet untuk merakit pesawat tempur. Selain merakit pesawat tempur, perusahaan-perusahaan Cina juga mendapatkan lisensi untuk merakit rudal, misil, senapan buatan Uni Soviet.

Bahkan, periode 1945-1970 Cina banyak memesan peralatan militer dari Uni Soviet untuk kebutuhan angkatan bersenjata, khususnya angkatan udara. Cina membeli pesawat tempur, pesawat latih tempur, pesawat angkut dan senjata dalam jumlah besar.

Dari sisi ekonomi, pembelian senjata ke Uni Soviet menguntungkan Cina, karena kedua negara terlibat kerjasama lisensi produksi pesawat dan persenjataan.

Di sisi lain, kerjasama lisensi perakitan juga menguntungkan Cina. Dengan kerjasama itu Cina secara langsung telah mengadopsi teknologi yang digunakan Uni Soviet.

Kerjasama lisensi perakitan Uni Soviet itu bisa dianggap sebagai jalan tercepat bagi Cina untuk mengembangkan teknologi bagi industri pertahanannya. Tak hanya itu, Cina bersempatan menjual produk-produk alih teknologi itu ke negara lain. Walhasil, pertumbuhan ekonomi Cina mulai merangkak naik.

Pasar Dunia

Beruntung, proses alih teknologi itu bisa berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Tak heran jika perusahaan-perusahaan Cina direstrukturisasi menyesuaikan dengan kebutuhan.

Chengdu State Aircraft Factory 132 Aircraft Plant berubah  menjadi Chengdu Aircraft Industry Corp. Perusahaan yang didirikan pada 1958 ini dipercaya merakit pesawat tempur Mig 21. Cina juga diberi kewenangan untuk merakit Mig 21 versi Cina dengan kode J-7 untuk keperluan dalam negeri dan kode F-7 untuk keperluan ekspor.

Perusahaan lainnya, China Nanchang Aircraft Manufacturing Corp., dipercaya merakit pesawat tempur Mig 19 serta memproduksi Mig 19 versi dalam negeri, Q-5 Fantan, dan versi ekspor, A-5.

Nanchang juga memproduksi lisensi pesawat latih tempur Yak-18. Yakni, kode CJ-5  untuk pesawat latih tempur utama bertempat duduk ganda dan CJ-6  untuk pesawat latih tempur tingkat lanjut pada 1958.

Selain Chengdu dan Nanchang, Uni Soviet memberikan lisensi kepada Shenyang Aircraft Corp. untuk merakit pesawat tempur Uni Soviet. Perusahaan terbesar di Cina ini dipercaya merakit Mig 15 pada periode 1945-1970. Shenyang juga memproduksi Mig 17 versi Cina dengan kode J-5 dan memproduksi Mig 19 versi Cina dengan kode J-6.

Alih teknologi Cina terus berlanjut. Untuk memperkuat angkatan bersenjatanya Cina memesan pesawat pembom TU-16 Uni Soviet. Cina bahkan berhasil memperoleh lisensi memproduksi TU-16. Lisensi tersebut diberikan kepada Xi’an Aircraft Industrial Corp. Salah satu produksi Xi’an adalah TU-16 versi H-6.

Setelah sukses menggarap pesawat-pesawat canggih buatan Uni Soviet, Cina terus mengembangkan varian-varian terbaru dari produk-produk tersebut. Bahkan, di antara varian hasil pengembangan tersebut melebihi kemampuan pesawat aslinya.

Hasil pengembangan pesawat tempur milik Uni Soviet itu sampai saat ini masih digunakan oleh angkatan bersenjata Cina.

Dalam produk persenjataan, Cina diberikan kepercayaan untuk menjual sendiri senjata-senjata hasil lisensi, tanpa harus memperoleh izin dari Uni Soviet.

Konsumen produk buatan Cina yang terbesar adalah angkatan bersenjata Cina sendiri. Angkatan bersenjata Cina, termasuk salah satu angkatan bersenjata dengan jumlah kekuatan terbesar di dunia. Selain angkatan bersenjata Cina, senjata buatan dalam negeri itu juga banyak diminati oleh negara-negara asing.

Tercatat negara seperti Albania, Pakistan, Srilanka, Sudan, Somalia, Tanzania, Vietnam dan Zimbabwe menggunakan pesawat tempur Mig 17/J-5 versi Cina.

Begitu juga dengan pesawat tempur jenis Mig 19/J-6 dan Mig 21/J-7 versi Cina. Kedua varian ini banyak diminati negara asing, khususnya negara-negara Timur Tengah, seperti Irak, Iran, Maroko.

Bahkan Mesir termasuk negara yang mengandalkan produk negara panda ini. Irak dan Mesir dikenal sebagai pengguna pesawat pembom TU-16/H-6 buatan Cina.

Cina juga membidik pasar negara-negara tetangga. Negara-negara Asia seperti Korea Utara, Myanmar dan Kamboja tercatat sebagai pengguna pesawat tempur buatan Cina.  Indonesia tercatat pernah membeli peralatan militer berupa senapan dari Cina pada medio 1960. (repro INTELIJEN)

Share Button