March 25, 2019

Huawei Kucurkan Rp29 Triliun untuk Perkuat Keamanan Siber

Huawei


intelijen – Huawei Technologies akan mengucurkan USD2 miliar (Rp29 triliun) selama lima tahun ke depan untuk fokus pada keamanan siber dengan menambah lebih banyak pegawai dan perbaikan fasilitas laboratorium.

Langkah ini dilakukan saat perusahaan itu berupaya mengatasi kekhawatiran global atas risiko terkait jaringan peralatannya. Keterangan itu diungkap raksasa teknologi China itu dalam konferensi pers di kantor Dongguan, kemarin, setelah menyambut dua puluh lebih jurnalis internasional di kampus baru perusahaan di kota China selatan itu.

Huawei saat ini menjadi sorotan media setelah penahanan chief financial officer (CFO) Meng Wanzhou yang juga putri pendiri perusahaan itu, miliarder Ren Zhengfei. Meng ditahan di Kanada atas permintaan Amerika Serikat (AS).

Saat ini Huawei mengalami tekanan di pasar AS dan telah dilarang oleh Australia dan Selandia Baru untuk membangun jaringan 5G karena khawatir peralatannya dapat digunakan untuk aktivitas spionase China.

“Mengunci para pesaing dari lapangan permainan tidak membuat Anda sendiri lebih baik. Kami pikir semua kekhawatiran atau tuduhan tentnag keamanan di Huawei harus berdasarkan bukti nyata. Tanpa bukti faktual kami tidak menerima dan kami menentang berbagai tuduhan itu,” ungkap Chairman Huawei Ken Hu, dilansir Reuters.

Menurut Ken, Huawei telah berkomunikasi dengan pemerintahan di penjuru dunia terkait independensi operasionalnya. Dia menambahkan, Jepang dan Prancis tidak secara resmi melarang peralatan telekomunikasinya. Laporan media terbaru menunjukkan langkah oleh negara-negara itu untuk menghindari penggunaan peralatan Huawei.

Sejumlah sumber menyatakan pada Reuters bahwa Jepang berencana melarang pemerintah membeli peralatan dari Huawei. Media lain melaporkan, tiga operator utama Jepang berencana tidak menggunakan peralatan 5G saat ini dan mendatang dari Huawei. Prancis juga mempertimbangkan menambahkan sejumlah produk pada daftar “waspada tinggi” yang diam-diam menarget Huawei.

Huawei menyatakan berulang kali bahwa pemerintah China tidak memiliki pengaruh pada perusahaan itu. Saat tur di kantor pusat Huawei di Shenzhen, kemarin, para jurnalis kagum dengan laboratorium Riset dan Pengembangan (R&D) paling canggih di gedung tiga lantai yang oleh orang dalam disebut sebagai “Gedung Putih”.

Perusahaan itu telah mendapatkan lebih dari 25 kontrak komersial untuk 5G. Huawei juga telah mengirimkan lebih dari 10.000 stasiun pangkalan untuk komunikasi mobile generasi kelima. Pendapatan Huawei diperkirakan melampaui USD100 miliar tahun ini, naik 8,7% dari tahun lalu.

Huawei menjadi suplier terbesar dunia untuk peralatan jaringan telekomuniaksi dan pembuat smartphone terbesar kedua di dunia. Tidak seperti perusahaan teknologi China lainnya, Huawei mengumpulkan setengah dari pendapatannya dari operasional di luar negeri.

Sumber: Koran Sindo

Share Button

Related Posts