November 15, 2018

Hari Santri Nasional Contoh Keteladanan KH. Hasyim Asy”ari

KH. Hasyim Asy”ari


intelijen – Hari Santri Nasional diperingati setiap tahunnya di Indonesia pada tanggal 22 Oktober.

22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional ini disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015 lalu melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015.

Jokowi mengatakan dengan adanya penetapan Hari Santri merupakan bentuk penghormatan, penghargaan, dan rasa terima kasih negara kepada para kiai, kepada para alim ulama, kepada para santri, dan kepada seluruh komponen bangsa yang mengikuti teladan para kiai dan para alim ulama. “Sejarah mencatat peran besar para ulama, para kiai, para santri dalam masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, dalam menjaga NKRI, dalam menjaga Bhinneka Tunggal Ika dan selalu memandu ke jalan kebaikan, ke jalan kebenaran, ke jalan kemajuan,” ucap Jokowi, Solo 20 Oktober 2018.

Seperti dilansir Detik.com KH. M. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad yang mewajibkan kaum santri mengangkat senjata melawan penjajah. Resolusi jihad ini mengobarkan kaum santri untuk tampil di garda terdepan melawan kaum kolonial yang ingin merebut kemerdekaan yang diraih bangsa dan menjajah kembali Indonesia. Cinta Tanah Air yang sudah menyatu dalam jiwa menggerakkan kaum santri mengangkat senjata menuju Surabaya yang menjadi sasaran utama kaum kolonial untuk mencengkeramkan kekuatannya.

Nasionalisme yang inheren dalam jiwa para santri memanggilnya mendarmabaktikan hidup demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pahlawan negeri, termasuk para kiai mereka yang aktif dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah. Perang dahsyat 10 Nopember 1945 yang sangat heroik adalah bukti kehebatan nasionalisme kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan.

Nasionalisme ini harus terus dikobarkan dalam jiwa para santri di tengah tantangan meningkatnya fundamentalisme dan radikalisme sekarang ini yang antinasionalisme. Menurut riset Kementerian Agama, bibit radikalisme sudah merambah ke anak-anak sekolah menengah atas yang lebih mengidolakan tokoh-tokoh seperti Bakhtiar Nashir dan Habib Riziq Syihab dan menginginkan tegaknya khilafah di Indonesia. Perguruan tinggi di Indonesia sudah banyak terserang virus radikalisme dengan berbagai macam variannya (Muhtarom, 2017).

Sejarah radikalisme dan fundamentalisme ini adalah gerakan politik Ikhwanul Muslimin di Mesir yang diinisiasi oleh Jamal Al-Banna yang masih mengedepankan cara-cara persaudaraan dan persatuan. Namun, pengikutnya melakukan tindakan brutal yang bertentangan dengan prinsip pemimpinnya dengan membunuh pejabat negara.

Hal ini berujung kepada pembunuhan Jamal Al-Banna, dan gerakan Ikhwanul Muslimin dilarang di Mesir. Gerakan ini dilanjutkan oleh muridnya Sayyid Quthb yang mempunyai kitab tafsir Fi Dlilalil Qur’an. Akhirnya gerakan ini terus bermetamorfosis ke dalam banyak gerakan, termasuk di antaranya adalah Ansharud Daulah, Ansharut Tauhid, dan Jamaah Islamiyah yang doktrinnya semakin ekstrem dan radikal. Gerakan ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia (Said Aqil Siradj, 2018).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah mendeklarasikan Hari Santri Nasional. PBNU akan memperingati Hari Santri Nasional sebagai momen penguatan nahdliyin dalam keberagaman.

Share Button

Related Posts