December 13, 2018

Gencatan Senjata Dengan Hamas, Pemerintahan Netanyahu Goyah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (ist)


intelijen – Situasi politik Israel bergolak selepas Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman mengundurkan diri. Kini satu kelompok faksi sayap kanan Negeri Zionis itu menarik diri dari koalisi dan membuat pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin lemah terhadap oposisi.

Dilansir AFP, Kamis (15/11), Lieberman yang merupakan Ketua Partai Yisrael Beitenu yang beraliran sayap kanan lantas mendesak pemerintahan Netanyahu segera menggelar pemilihan umum. Dia menyatakan hal itu karena kecewa dengan keputusan Netanyahu melakukan gencatan senjata dengan Hamas di Jalur Gaza, Palestina pada Selasa lalu.

“Kita seharusnya sepakat segera menentukan tanggal untuk pemilihan umum,” kata Lieberman.

Meski begitu, sumber internal Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menyatakan tidak mungkin menggelar pemilu saat ini. Sebab situasi sangat rawan.

“Tidak memungkinkan menggelar pemilu di mana kita sedang fokus terhadap keamanan seperti saat ini,” kata sumber di Partai Likud.

Untuk sementara ini jabatan menteri pertahanan diampu oleh Netanyahu. Dia belum memutuskan siapa yang bakal menggantikan Lieberman. Partai Likud dikabarkan juga mencoba membujuk Partai Yisrael Beitenu dan anggota koalisi lainnya untuk meredakan ketegangan.

Kendati begitu, politikus pesaing Netanyahu yakni Menteri Pendidikan Naftali Bennett ternyata mengincar posisi yang ditinggalkan Lieberman. Dia bahkan mengancam akan hengkang dari koalisi jika tidak diberi jabatan itu.

Setelah terlibat saling serang selama dua hari, Hamas dan militer Israel menyatakan gencatan senjata. Kedua belah pihak mau menahan diri setelah dibujuk oleh Mesir pada Selasa (13/11) untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak di Jalur Gaza, Palestina dan Israel. Pengunduran diri Lieberman membuat warga Palestina khususnya Hamas gembira.

“Ini kemenangan politik bagi Gaza,” demikian pernyataan Hamas kemarin.

Share Button

Related Posts