October 21, 2018

Geliat Teroris 2011, Teror Bom Hantui RI



INTELIJEN.co.id – ”Situasi politik pada pertengahan Januari 2011 akan memanas, terutama menyikapi kinerja Presiden SBY. Hal ini akan dimanfaatkan untuk memunculkan teror berupa ledakan bom. Ledakan ini disetting menimbulkan korban. Adapun lokasinya ada di Jakarta, terutama tempat-tempat hiburan dan property milik barat”

Pihak Kepolisian, khususnya Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88), memang telah mendapat pujian atas keberhasilan membungkam sejumlah gembong teroris, mulai dari Dr Azahari, Noordin M Top, Dulmatin hingga penangkapan Abu Tholud di Kudus, Jawa Tengah. Hanya saja, sejumlah aksi “teroris” tak kunjung menghilang. Di sisi lain, serangkaian penangkapan tertuduh teroris justru semakin sering terjadi. Walhasil, muncul satu persepsi, bahwa tidak ada jaminan terorisme di Indonesia akan hilang begitu saja.

Tanpa adanya kepastian, stigma teroris yang dilekatkan kepada kelompok Islam pun tidak mudah untuk dihilangkan. Ironisnya, pihak asing masih mencampuri kontra terorisme di Indonesia. Kerjasama pemerintah dengan pihak asing dalam menumpas aksi teror dan teroris secara tidak  langsung melahirkan pendekatan penanganan terorisme meniru cara-cara yang digunakan AS dan Australia.

Sejumlah pihak meyakini, cara AS dan Australia itu kontraproduktif dengan tujuan awal penanganan terorisme. Di mana, para pelaku terorisme merasa dizalimi oleh AS sehingga semua pendekatan dengan menggunakan citra barat akan dianggap musuh. Selanjutnya terorisme justru semakin menjamur.

Sepanjang 2010, rangkaian penangkapan tersangka teroris mencapai klimaks setelah Pemimpin Pondok Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah, yakni Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ditangkap dengan tuduhan terkait gerakan teroris di Indonesia. Penangkapan ini merupakan skenario jilid kedua, di mana pada penangkapan pertama, Oktober 2002, Ustadz Ba’asyir dituding terkait gerakan Jamaah Islamiyah, sayap organisasi Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden.  

Sumber INTELIJEN mengungkapkan, skenario penjeratan Ba’asyir jilid dua sejatinya masih menggunakan skenario seperti penangkapan jilid satu. Yakni, menginternasionalisasi kasus Ba,asyir dengan mengaitkan dengan isu-isu teroris terbaru, salah satunya “teroris Janto, Aceh”.
Pihak Mabes Polri mengklaim mengantongi bukti bahwa Ustadz Ba’asyir menyerahkan langsung sejumlah dana untuk latihan militer kelompok “teroris Aceh”. Ba’asyir menyerahkan dana melalui Lutfi Haidaroh alias Ubaid dan Toyib, bendahara Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Solo.

Penangkapan Ba,asyir akan menjadi “prolog” isu-isu teroris sepanjang 2011? Pengamat intelijen, AC Manullang mengungkapkan, bahwa Abu Bakar Ba’asyir memang menjadi target AS, karena dianggap sebagai tokoh yang berbahaya. Di sisi lain, sejumlah tertuduh “teroris” memang memiliki keterkaitan dengan Ba’asyir, baik sebagai alumni pesantren atau anggota organisasi yang dipimpin Ba’asyir. Skenario mengaitkan Ba,asyir dengan kelompok teroris merupakan pengulangan dari pola-pola sebelumnya. Demikian juga di era DR Azahari dan Noordin Moh Top, di mana jaringan kedua tokoh teroris itu selalu dikaitkan.

“Polisi akan memunculkan kelompok atau orang yang dianggap lebih berbahaya dari Azahari atau Noordin Moh Top. Justru tindakan polisi ini membuat masyarakat takut. Padahal kalaupun mau cepat, polisi bisa menghabisi mereka. Tetapi ini adalah proyek, jika tidak ada teror, tidak ada kerjaan atau anggaran,” kritik Manullang.

Sumber INTELIJEN mengungkapkan, sebagai sebuah skenario politik luar negeri AS, penangkapan Ba’asyir diarahkan kepada dua strategi sekaligus, yakni melanggengkan proyek perang melawan teroris serta membendung pengaruh Cina di negara-negara Islam, khususnya Indonesia.

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, hubungan RI-Cina berkembang pesat, di hampir semua sektor. Keberadaan Cina sebagai kekuatan besar dunia, dianggap bisa membantu Indonesia dalam mengimbangi pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik. Di satu sisi, bagi Indonesia, Cina lebih mudah diajak bekerjasama daripada AS.

Tentunya, hubungan mesra RI-Cina itu tidak diharapkan AS. Karena bukan tidak mungkin Cina bisa menggoyang loyalitas Indonesia sebagai “sekutu” Amerika. Untuk itulah, AS berusaha menjaga hubungan kerjasama dengan Indonesia yang telah terjalin sebelumnya, utamanya agenda “war of terror”. (Selengkapnya dapat dibaca pada versi cetak INTELIJEN Nomer 1/Tahun VIII/Januari2011)

Ikuti juga artikel lainnya:

– Teroris 2011, Isu Teror Sarat Kepentingan
– Deradikalisasi, Strategi Berdamai Dengan Teroris
– Situasi Global, Surga bagi teroris
– Teroris Versi AS, Stigma Untuk Musuh AS
– Persemaian Gerakan Radikal, Menguak “Akademi Teroris” Dunia
– Wajah Suram Kontra Terorisme
– Evolusi Teroris Dunia
– Organisasi Teroris Versi Amerika
– Marek Bialoglowy (Chief Technology Officer ITSEC Asia): Security Informasi Elektronik di Era WikiLeaks
– Kolom Umar Abduh (Pengamat teroris): Radikalisasi Negara Terhadap Masyarakat
– Operasi Kontraterorisme Global, Upaya Habisi Islam
– Pasukan Khusus Antiteror Indonesia
– BNPT, Badan Antiteror ala Homeland Security
– Lembaga Studi Antiteror
– Laporan Kasus Korupsi
– Glosarium Terorisme

Share Button