March 25, 2019

GAO: AS Tak Bisa Bertahan dari Senjata Hipersonik Rusia dan China

Torpedo Hipersonik Nuklir Rusia


intelijen – Amerika Serikat (AS) tidak memiliki pertahanan yang dibutuhkan untuk melindungi terhadap jenis baru senjata hipersonik canggih dari China dan Rusia. Demikian laporan Government Accountability Office (GAO).

“China dan Rusia mengejar senjata hipersonik karena kecepatan, ketinggian, dan kemampuan manuver mereka dapat mengalahkan sebagian besar sistem pertahanan rudal, dan mereka mungkin digunakan untuk meningkatkan jangkauan jarak jauh (senjata) konvensional dan kemampuan serangan nuklir,” bunyi laporan GAO yang dikutip Fox News, Selasa (18/12/2018). “Tidak ada tindakan balasan yang ada.”

GAO atau Kantor Akuntabilitas Pemerintah adalah lembaga pemerintah yang menyediakan jasa audit, evaluasi, dan investigasi untuk Kongres Amerika Serikat. GAO merupakan lembaga audit tertinggi dari pemerintah federal Amerika Serikat.

Awal tahun ini, militer Rusia mengaku menjalankan uji coba yang sukses dari rudal hipersonik berkemampuan nuklir yang mampu menyelinap dan menembus sistem pertahanan musuh.

Sebuah video yang di-posting oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Minggu menunjukkan jet tempur MiG-31 meluncurkan rudal Kinzhal (Dagger) selama penerbangan pelatihan. Kementerian itu mengatakan rudal itu, yang membawa hulu ledak konvensional, mencapai target dalam jarak tembak di Rusia selatan.

Presiden Rusia Vladimir Putin pernah mengatakan rudal Kinzhal terbang 10 kali lebih cepat daripada kecepatan suara, memiliki jangkauan lebih dari 1.250 mil dan dapat membawa hulu ledak nuklir atau pun hulu ledak konvensional. Pihak militer Moskow menambahkan bahwa senjata itu mampu mencapai target darat dan kapal angkatan laut musuh.

Militer AS sendiri sedang sibuk meningkatkan kemampuan senjata hipersoniknya.

Pada bulan April, Pentagon mengumumkan kesepakatan dengan Lockheed Martin untuk mengembangkan senjata serangan konvensional hipersonik untuk Angkatan Udara AS. Kesepakatan untuk Hypersonic Conventional Strike Weapon (HCSW) bernilai hingga USD 928 juta.

Empat bulan kemudian, Angkatan Udara memberi Lockheed Martin kontrak hingga USD480 juta untuk merancang prototipe hipersonik kedua, Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW).

“Upaya ARRW dan HCSW mengembangkan kemampuan unik untuk para petarung dan masing-masing memiliki pendekatan teknis yang berbeda,” kata Angkatan Udara, dalam sebuah pernyataan.

“Upaya ARRW adalah ‘mendorong art-of-the-possible’ dengan memanfaatkan basis teknis yang ditetapkan oleh kemitraan Angkatan Udara/DARPA. Upaya HCSW menggunakan teknologi matang yang belum terintegrasi untuk sistem pengiriman yang diluncurkan dari udara,” lanjut pernyataan tersebut.

Dalam tanggapannya terhadap laporan GAO, Departemen Pertahanan menggambarkan laporan itu sebagai gambaran makro yang akurat tentang bagaimana AS berdiri di dunia melawan ancaman yang muncul.

Share Button

Related Posts